10 Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

Ilustrasi pembacaan Maulid Nabi. ANTARA FOTO/Siswowidodo

Ikhbar.com: Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Indonesia berlangsung dengan beragam tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat. Selain pengajian dan pembacaan selawat, sejumlah daerah memiliki tradisi khas untuk memperingati kelahiran Sang Kekasih Allah Swt.

Tradisi Maulid Nabi berkembang dalam bentuk yang berbeda di setiap daerah. Masyarakat Yogyakarta dan Solo mengenal Sekaten dan Grebeg Maulud, sementara masyarakat Cirebon memiliki Panjang Jimat dan Nyiram Gong. Tradisi lain juga ditemukan di Banten, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, hingga Aceh.

Berikut 10 tradisi Maulid Nabi yang dikenal di berbagai daerah Indonesia.

Sekaten di Yogyakarta

Sekaten menjadi salah satu tradisi Maulid Nabi yang dikenal luas di Yogyakarta. Tradisi ini berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta dan memiliki rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Sekaten menjadi rangkaian tradisi yang salah satu kegiatannya ditandai dengan pembunyian gamelan pusaka. Rangkaian tersebut kemudian berlanjut hingga perayaan Grebeg Maulud.

Baca: Tafsir QS. Al-Anbiya Ayat 107: Maulid Nabi sebagai Rahmat Ekologis

Nama Sekaten memiliki beberapa penjelasan. Salah satu pendapat mengaitkannya dengan istilah syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat. Pendapat lain menghubungkannya dengan kata sekati, yaitu nama perangkat gamelan yang digunakan dalam rangkaian tradisi tersebut.

Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Solo

Grebeg Maulud menjadi bagian dari tradisi peringatan Maulid Nabi di Yogyakarta dan Surakarta. Tradisi ini memiliki ciri khas berupa gunungan yang diarak dalam sebuah prosesi.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat mengenal sejumlah bentuk gunungan dalam pelaksanaan Grebeg Maulud di Yogyakarta. Sementara itu, bentuk gunungan yang digunakan dalam tradisi di Surakarta memiliki karakter tersendiri.

Setelah prosesi arak-arakan berakhir, masyarakat biasanya mengambil bagian dari isi gunungan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Maulid Nabi yang berlangsung di lingkungan keraton dan masyarakat.

Panjang Mulud di Banten

Panjang Mulud menjadi salah satu tradisi Maulid Nabi yang berkembang di Banten. Tradisi tersebut dapat ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Serang, Cilegon, Pandeglang, dan Lebak.

Masyarakat membuat Panjang Mulud dalam berbagai bentuk hiasan. Pembuatan dapat dilakukan oleh keluarga, kelompok masyarakat, lingkungan rukun tetangga, maupun pengurus masjid.

Panjang yang telah dihias kemudian diisi dengan berbagai kebutuhan, seperti makanan, uang, barang, dan perlengkapan lainnya. Hasil karya tersebut selanjutnya diarak dalam pawai sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi.

Panjang Jimat di Cirebon

Panjang Jimat menjadi salah satu rangkaian utama peringatan Maulid Nabi di Cirebon. Tradisi tersebut dilaksanakan di lingkungan sejumlah keraton Cirebon, termasuk Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, dan Keraton Kacirebonan.

Pelaksanaan Panjang Jimat diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan yang berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Rangkaian kegiatan antara lain pembacaan riwayat Nabi, Barzanji, kalimat thayyibah, sholawat, dan doa bersama.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Cirebon.

Nyiram Gong di Cirebon

Nyiram Gong merupakan tradisi lain yang dilakukan masyarakat Cirebon dalam rangka menyambut Maulid Nabi. Tradisi ini berkaitan dengan gamelan Sekaten yang berada di lingkungan Keraton Kanoman.

Dalam pelaksanaannya, gamelan Sekaten dibersihkan melalui prosesi khusus. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi di lingkungan keraton.

Baayun Maulid di Kalimantan Selatan

Baayun Maulid menjadi tradisi khas masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Tradisi tersebut dilakukan dengan mengayun bayi atau anak sambil membaca syair Maulid.

Kegiatan Baayun Maulid biasanya dilaksanakan di masjid atau tempat ibadah. Pembacaan syair Maulid dilakukan selama prosesi mengayun anak berlangsung.

Tradisi ini juga menjadi bagian dari ungkapan syukur dan doa bagi anak. Masyarakat berharap anak dapat tumbuh dengan akhlak yang baik serta meneladani kehidupan Nabi Muhammad Saw.

Bungo Lado di Padang Pariaman

Masyarakat Padang Pariaman, Sumatera Barat, memiliki tradisi Bungo Lado dalam peringatan Maulid Nabi. Bungo Lado berasal dari bahasa Minang, yaitu bungo yang berarti bunga dan lado yang berarti cabai.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat membuat bentuk pohon yang dihiasi uang. Bentuk tersebut kemudian menjadi bagian dari kegiatan peringatan Maulid Nabi.

Selain membuat Bungo Lado, masyarakat juga menyiapkan makanan secara bersama-sama. Kegiatan tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam suasana perayaan Maulid.

Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan

Maudu Lompoa menjadi tradisi Maulid Nabi yang berkembang di Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Tradisi tersebut memiliki rangkaian kegiatan yang melibatkan masyarakat setempat.

Salah satu bagian yang menjadi ciri khas Maudu Lompoa adalah julung-julung. Bentuknya berupa perahu atau kapal kayu yang dihias menggunakan kain berwarna-warni.

Julung-julung kemudian diisi dengan berbagai hasil bumi. Perahu hias tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tradisi Maudu Lompoa sebagai peringatan Maulid Nabi.

Pembacaan Al-Barzanji

Pembacaan Al-Barzanji menjadi salah satu kegiatan keagamaan yang dilakukan masyarakat di berbagai daerah saat memperingati Maulid Nabi. Kegiatan tersebut biasanya dilaksanakan secara bersama-sama dan disertai pembacaan sholawat serta doa.

Kitab Al-Barzanji memuat kisah kehidupan dan pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Pembacaannya menjadi bagian dari kegiatan Maulid Nabi di sejumlah daerah dengan tata pelaksanaan yang berbeda.

Di Jepara, misalnya, pembacaan kitab Al-Barzanji dikenal sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati Maulid Nabi.

Masak Kuah Beulangong di Aceh

Masyarakat Aceh memiliki tradisi memasak kuah beulangong secara bersama-sama dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi. Kuah beulangong merupakan salah satu masakan khas Aceh yang dimasak menggunakan kuali berukuran besar.

Proses memasak dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat. Mereka berkumpul dan bekerja bersama sejak persiapan hingga makanan selesai dimasak.

Setelah matang, kuah beulangong kemudian dinikmati bersama masyarakat sebagai bagian dari kegiatan peringatan Maulid Nabi.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.