Tawarkan Beasiswa, Guru Besar Tafsir Al-Azhar Mesir Kunjungi Ponpes KHAS Kempek Cirebon

Guru Besar Tafsir Universitas Al-Azhar, Mesir, Prof. Dr. Muhammad Salim Abu ‘Ashi (kanan), dalam Daurah Ilmiyyah dan Muhadloroh ‘Ammah bertema Ad-Dakhil fi at-Tafsir di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Kamis, 15 Oktober 2026. Dok KHAS

Ikhbar.com: Guru Besar Tafsir Universitas Al-Azhar, Mesir, Prof. Dr. Muhammad Salim Abu ‘Ashi, menyatakan kesediaannya membantu santri Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, mendapatkan kesempatan belajar langsung di kampus yang telah berdiri lebih 1.000 tahun tersebut. Dukungan tersebut disampaikan dalam Daurah Ilmiyyah dan Muhadloroh ‘Ammah bertema Ad-Dakhil fi at-Tafsir di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Kamis, 15 Oktober 2026.

Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek, KH Muhammad Musthofa Aqiel Siroj, menyampaikan bahwa kesempatan belajar di Mesir akan dibuka bagi santri yang berminat, terutama kalangan generasi muda. Prof. Abu ‘Ashi disebut sebagai salah satu pihak yang bersedia membantu mewujudkan peluang tersebut.

Baca: Mendeteksi ‘Virus’ dalam Tradisi Tafsir Al-Qur’an

Dukungan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan keilmuan antara pesantren dan Universitas Al-Azhar.

“Bagi pesantren, akses pendidikan ke luar negeri dapat membuka ruang bagi santri untuk berinteraksi dengan tradisi keilmuan yang lebih luas, sekaligus memperkuat bekal mereka ketika kembali mengabdi kepada masyarakat,” terang Kiai Musthofa.

Dalam rangkaian acara tersebut, Prof. Abu ‘Ashi juga menyampaikan materi tentang ad-dakhil fi at-tafsir, yaitu kajian mengenai unsur-unsur yang masuk ke dalam penafsiran Al-Qur’an tanpa dasar yang dapat diterima atau melalui penalaran yang keliru.

Materi tersebut menekankan pentingnya kemampuan berpikir dalam proses belajar. Santri perlu menguasai sumber ilmu sekaligus mampu menelaah persoalan, mengajukan pertanyaan, dan menguji argumentasi. Kecakapan tersebut diperlukan untuk memahami berbagai disiplin ilmu secara lebih mendalam.

Pesan pendidikan tersebut sejalan dengan harapan agar santri KHAS Kempek memperoleh kesempatan menimba ilmu di Al-Azhar. Pendidikan lanjutan diharapkan dapat memperkuat kemampuan akademik dan membekali santri dengan kecakapan ilmiah untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Baca: Beda Mesir hingga Al-Azhar di Mata Mahasiswa dan Tangkapan Layar

Kesempatan tersebut diharapkan terbuka bagi santri putra maupun putri. Meski demikian, pelaksanaan program dan mekanisme akses bagi calon peserta masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak pengelola.

Bagi KHAS Kempek, dukungan untuk melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar merupakan peluang memperluas jaringan pendidikan sekaligus memperkuat tradisi keilmuan pesantren. Realisasi rencana tersebut bergantung pada tindak lanjut, kesiapan calon peserta, dan kejelasan mekanisme pelaksanaan.

Dalam penjelasannya mengenai tujuan belajar, Prof. Abu ‘Ashi menekankan bahwa ilmu perlu dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas.

“Santri itu tidak hanya membaca dan menghafal, tapi berpikir, bertanya, mencari jawaban, meneliti, dan berguna bagi umat Rasulullah Saw,” katanya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.