Ponpes Ketitang Cirebon Punya Program Khusus Jurnalistik Santri

Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang, K. Yoyon Syukron Amin, M.Hum saat menyambut kedatangan Mahasiwa PPL UIN Cirebon. Foto: Ikhbar/FSJ

Ikhbar.com: Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, K. Yoyon Syukron Amin, M.Hum menyebut lembaga pendidikan yang diasuhnya memiliki program khusus pengembangan keterampilan jurnalistik. Bidang tersebut menjadi salah satu kekhususan yang dikembangkan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan di luar pembelajaran kepesantrenan.

Hal itu disampaikan Kiai Yoyon saat menyambut mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon pada Senin, 7 September 2026.

Menurut Kiai Yoyon, pembelajaran jurnalistik di Ponpes Ketitang melibatkan praktisi yang berpengalaman di bidangnya. Kehadiran mahasiswa PPL diharapkan turut memperkuat proses pembelajaran dan pengembangan kemampuan media di lingkungan pendidikan Islam tersebut.

“Nanti adik-adik akan memahami lebih spesifik jurnalisme di dunia pesantren, pengelolaan media, baik podcast maupun dalam bidang tulisan,” ujar Kiai Yoyon.

Baca: Ponpes Ketitang Cirebon Perkuat Kemandirian Ekonomi lewat Peternakan Kambing

Ia menjelaskan, keterampilan jurnalistik diberikan untuk mengenalkan pengelolaan informasi dan media kepada para peserta didik. Materinya mencakup jurnalisme di lingkungan pesantren, pengelolaan podcast, hingga kemampuan menulis.

Selain bidang jurnalistik, Ponpes Ketitang memiliki program utama berupa tahfizul Quran. Peserta yang mengikuti program tersebut memperoleh fasilitas secara gratis atau tanpa dipungut biaya.

Lembaga tersebut juga menyediakan pilihan pendalaman kitab kuning. Kedua jalur pendidikan itu dapat dipilih sesuai kebutuhan dan minat para santri selama menempuh pembelajaran.

“Ketika santri datang ke sini, ada dua pilihan. Takhasusnya tahfizul Quran, fasilitas diberikan secara gratis atau tidak dipungut karena para santri dari berbagai latar belakang. Kedua, ada pilihan memperdalam kitab kuning,” jelas Kiai Yoyon.

Dalam kegiatan belajar mengajar, Ponpes Ketitang masih mempertahankan sistem klasikal. Pengembangan kemampuan peserta didik juga dilakukan melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler.

Kiai Yoyon menjelaskan, keberadaan Ponpes Ketitang memiliki sejarah panjang. Lembaga tersebut telah berdiri sejak sekitar tahun 1800-an, sedangkan perkembangan yang lebih signifikan mulai terlihat pada era 2000-an.

“Pondok ini sudah lama, sejak tahun 1800-an. Tapi memang perkembangannya mulai bagus di era 2000-an,” tuturnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.