Ikhbar.com: Babi dikenal sebagai salah satu hewan yang najis dalam ajaran Islam. Namun, dalam sebuah kisah disebutkan terdapat makhluk yang digambarkan berada dalam keadaan lebih buruk daripada binatang tersebut.
Kisah tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, saat mengisi ceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Musala Baitul Abid, Desa Lemahabang, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Sabtu, 5 September 2026.
“Kisah ini cukup masyhur dan dinisbatkan pada mukjizat Nabi Sulaiman AS yang mampu berbicara dengan hewan,” ungkap Kiai Zuhri, sapaan akrabnya.

Baca: Iman dan Batas Nalar: Kisah Hajar Aswad Dibisiki Sahabat Umar
Kisah itu bermula dari percakapan Nabi Sulaiman AS dengan sejumlah binatang. Kucing ditanya tentang bentuk syukurnya kepada Allah Swt. Ia menjawab bahwa dirinya bersyukur diciptakan sebagai kucing dan tidak dijadikan anjing.
Pertanyaan serupa kemudian diajukan kepada anjing. Ia menjawab bahwa dirinya bersyukur diciptakan sebagai anjing dan tidak dijadikan babi. Ketika giliran babi ditanya, jawabannya justru membawa kisah tersebut pada pesan yang lebih dalam tentang manusia dan salat.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنِي خِنْزِيرًا وَلَمْ يَجْعَلْنِي إِنْسَانًا تَارِكًا لِلصَّلَاةِ
“Segala puji bagi Allah yang menciptakanku sebagai babi dan tidak menjadikanku manusia yang meninggalkan salat.”
Kiai Zuhri menyebut kisah itu sebagai teguran yang tajam. Babi yang dalam fikih dikenal sebagai hewan najis justru digambarkan masih memiliki alasan untuk bersyukur atas penciptaannya. Sementara manusia, yang dianugerahi akal dan kedudukan mulia, dapat berada dalam keadaan yang digambarkan lebih buruk ketika meninggalkan kewajiban salat.
Namun, Kiai Zuhri kemudian menjelaskan bahwa terdapat versi redaksi lain dari kisah tersebut. Berdasarkan Makhzanul Wā‘iẓīn, alurnya berkembang dengan memasukkan orang kafir dan orang munafik sebelum sampai kepada orang yang meninggalkan salat.
Dalam versi tersebut, babi berkata:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنِي خِنْزِيرًا وَلَمْ يَخْلُقْنِي كَافِرًا
“Segala puji bagi Allah yang menciptakanku sebagai babi dan tidak menciptakanku sebagai orang kafir.”
Orang kafir kemudian berkata:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنِي كَافِرًا وَلَمْ يَخْلُقْنِي مُنَافِقًا
“Segala puji bagi Allah yang menciptakanku sebagai orang kafir dan tidak menciptakanku sebagai orang munafik.”
Sementara orang munafik berkata:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنِي مُنَافِقًا وَلَمْ يَجْعَلْنِي تَارِكًا لِلصَّلَاةِ
“Segala puji bagi Allah yang menciptakanku sebagai orang munafik dan tidak menjadikanku orang yang meninggalkan salat.”
Kiai Zuhri menekankan bahwa, terlepas dari perbedaan redaksi tersebut, pesan yang dapat direnungkan adalah pentingnya menjaga salat. Kisah itu tidak semata-mata berbicara tentang perbandingan manusia dengan hewan, tetapi mengajak setiap Muslim memeriksa kembali hubungan dirinya dengan kewajiban kepada Allah Swt.
Baca: ‘Growth Mindset’, Rahasia Bertahan Hadapi Rintangan Zaman ala Kiai Zuhri Adnan
Dewan Pakar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Cirebon itu mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan salat hanya karena kewajiban tersebut telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
“Jangan sampai kita diberi akal, iman, dan kesempatan untuk beribadah, tetapi justru kalah dalam bersyukur. Kisah ini semestinya membuat kita bertanya kepada diri sendiri: bagaimana salat kita?” tutur Kiai Zuhri.
Menurutnya, kisah tentang babi tersebut bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan menjadi cermin bagi diri sendiri. Manusia yang diberi akal, iman, dan kesempatan hidup semestinya mampu membalas nikmat Allah dengan ketaatan.
“Jangan menunggu penyesalan di akhirat untuk menyadari pentingnya salat. Selagi masih diberi kesempatan hidup, mari kita jaga salat dan jangan sampai meninggalkannya,” pungkas penceramah yang merupakan alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tersebut.