Manusia dan Kemanusiaan dalam Islam: Buku Baru dan Penting Karya Buya Husein

Buku Manusia dan Kemanusiaan dalam Islam: Menyelami Hakikat, Martabat, dan Tanggung Jawab Manusia Perspektif Islam (2026) hadir dalam format 14 × 21 cm dengan ketebalan XX + 308 halaman.
ILUSTRASI. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Sebuah video perundungan menyebar dan ditonton jutaan pasang mata, sementara pelakunya tertawa di depan kamera. Di lini masa lain, perbedaan pilihan politik berubah menjadi tuduhan kafir, sedangkan perbedaan mazhab keagamaan berujung pada pengusiran sekelompok warga dari kampung halamannya sendiri. Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak terus bertambah di berbagai daerah, sementara sebagian pelakunya berlindung di balik jubah agama. Pertanyaan yang muncul dari rentetan peristiwa tersebut sederhana, tetapi berat, kemanusiaan macam apa yang tersisa ketika manusia justru kerap menyakiti sesamanya?

Di tengah kegelisahan tersebut, Ikhbar Press menerbitkan Manusia dan Kemanusiaan dalam Islam: Menyelami Hakikat, Martabat, dan Tanggung Jawab Manusia Perspektif Islam (2026), buku baru karya Dr. (H.C.) KH Husein Muhammad, kiai pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid dan Dar al-Fikr, Arjawinangun, Cirebon, yang selama lebih dari tiga dekade dikenal luas sebagai salah satu pelopor kajian keislaman tentang kesetaraan dan martabat manusia di Indonesia.

Buya Husein, sapaan akrabnya, menggubah buku ini dari Al-Insan wa al-Qiyam fi al-Tasawwur al-Islami, karya Prof. Dr. Mahmoud Hamdi Zaqzouq, anggota Hai’ah Kibaril Ulama Al-Azhar, Mesir, lalu menghadirkannya dalam bahasa Indonesia yang mengalir sekaligus membawa timbangan tasawuf yang selama ini menjadi pijakan keilmuannya sendiri.

“Menerjemahkan kitab ini terasa seperti pulang ke rumah lama, yang sudah akrab saya tinggali, dalam bentuk lain,” tulis Buya Husein dalam prakata buku tersebut, dikutip pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Dr. KH Husein Muhammad atau Buya Husein saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar, bertajuk “Quatrain Buya Husein” di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Baca: Peluncuran Buku Jurnalisme Pesantren Warnai Haul dan Imtihan Ke-47 Ponpes Ketitang Cirebon

Rumah lama, bentuk baru

Bagi kiai yang sejak muda dibesarkan di lingkungan pesantren itu, tema tentang manusia dan kemanusiaan bukan wilayah asing.

“Sejak muda di pesantren, saya diajari bahwa seluruh syariat, fikih, dan tasawuf pada akhirnya berporos pada satu hal, bagaimana manusia memuliakan dirinya dan sesamanya sebagai ciptaan Allah yang membawa jejak Ilahi,” tulisnya.

Buya Husein menautkan gagasan Prof. Zaqzouq dengan konsep insan kamil dalam tradisi tasawuf, manusia paripurna yang mencerminkan nama dan sifat Allah Swt dalam kadar yang mungkin bagi makhluk. Menurutnya, memuliakan manusia berarti memuliakan cermin tempat sifat-sifat Ilahi terpantul, sehingga siapa pun yang merendahkan, menindas, atau merampas hak orang lain sesungguhnya sedang mengaburkan cermin tersebut. Perspektif ini membedakan buku tersebut dari sekadar alih bahasa. Buya Husein membaca ulang argumen fikih dan kalam Prof. Zaqzouq melalui kacamata tasawuf yang telah lama digelutinya.

Buku ini juga menegaskan bahwa Allah Swt memuliakan manusia melebihi banyak makhluk lain. Kemuliaan tersebut menjadi dasar bagi lima tujuan utama syariat, menjaga jiwa, menjaga agama, menjaga akal, menjaga harta, dan menjaga keturunan.

“Kemuliaan yang dimaksud di sini berlaku umum bagi seluruh manusia, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa memandang ras, warna kulit, atau keyakinan mereka,” ungkap Buya Husein, seraya mengutip firman Allah Swt:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا

“Siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)

Ayat ini ditempatkan sebagai dasar bahwa menyerang satu individu dari umat manusia sama nilainya dengan menyerang seluruh umat manusia, sebagaimana berbuat baik kepada satu individu setara dengan berbuat baik kepada semua orang. Kerangka berpikir tersebut menjadi peringatan terhadap setiap tindak kekerasan, mulai dari perundungan di dunia maya hingga persekusi kelompok minoritas. Setiap nyawa yang dilukai membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada yang tampak di permukaan.

Baca: Kitab Hikam al Hukama wa al Falasifah, Mahakarya Buya Husein Peredam Nafsu dan Amarah

Kesetaraan yang menembus sekat

Buya Husein menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak memberi keistimewaan alami kepada satu ras, suku, atau bangsa atas yang lain, karena seluruh manusia diciptakan dari satu jiwa yang sama. Argumen tersebut dikuatkan dengan Khotbah Haji Wada’ Nabi Muhammad, pidato terakhirnya yang paling dikenang sepanjang sejarah Islam.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، كُلُّكُمْ لِآدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، لَيْسَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ فَضْلٌ إِلَّا بِالتَّقْوَى، إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan bapak kalian (Adam) pun satu. Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non-Arab kecuali karena takwa.” (HR. Ahmad)

Pembahasan tentang kedudukan perempuan mendapat perhatian khusus dari Buya Husein, yang selama bertahun-tahun bergelut dengan isu keadilan gender dalam tradisi fikih. Dia menulis bahwa Islam datang ketika perempuan berada dalam kondisi yang sangat buruk, tidak memiliki hak yang dihormati dan pendapatnya tidak didengar, sebelum Islam mengangkat kedudukan mereka serta menjamin hak-haknya. Laki-laki dan perempuan, tulisnya, diciptakan dari satu jiwa yang sama sehingga keduanya benar-benar setara dalam hal kemanusiaan, tanpa ada satu pihak yang memiliki keunggulan atas yang lain kecuali dalam amal saleh yang dikerjakan masing-masing.

“Martabat manusia bukan hadiah yang sewaktu-waktu diberikan oleh sesama manusia, melainkan ketetapan yang telah dianugerahkan Allah sejak awal penciptaan,” tulis Buya Husein.

Baca: Buya Husein: Relasi Kuasa Timpang Akar Kekerasan Anak di Dunia Pendidikan

Relevansi bagi kemanusiaan Indonesia hari ini

Salah satu bagian buku yang terasa langsung menyentuh persoalan masyarakat Indonesia saat ini adalah pembahasan tentang toleransi. Buya Husein mengingatkan bahwa perbedaan suku bangsa, bahasa, dan keyakinan seharusnya mendorong manusia untuk saling mengenal, bukan menjadi pemicu pertikaian. Dia menyoroti kenyataan yang menurutnya menyedihkan, bahwa perdebatan pendapat kerap keluar dari batas objektivitas dan berkembang menjadi caci maki serta serangan pribadi. Gambaran tersebut akrab dengan suasana perbincangan publik dan media sosial Indonesia belakangan ini, ketika perbedaan pandangan keagamaan maupun politik tidak jarang berujung pada tuduhan sesat, ujaran kebencian, hingga kekerasan.

“Tidaklah pantas seseorang merasa sempit dada terhadap pendapat yang berbeda dengan pendapatnya,” tulis Buya Husein, seraya mengutip Imam Syafi’i yang menyebut pendapatnya sendiri sebagai benar meski mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain sebagai salah meski mengandung kemungkinan benar. Kerendahan hati intelektual semacam ini menjadi jarang ditemukan dalam wacana publik Indonesia, ketika kebenaran kerap diklaim secara sepihak dan perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan.

Kesadaran tersebut, ditambah penegasan bahwa perjuangan menghapus kezaliman dan menegakkan keadilan merupakan kewajiban kemanusiaan sekaligus kewajiban keagamaan, memberi buku ini pijakan yang relevan untuk membaca ulang persoalan diskriminasi, ketidakadilan sosial, dan intoleransi yang masih kerap terjadi di Indonesia. Gagasan tentang kemuliaan manusia yang berlaku tanpa memandang ras, keyakinan, atau jenis kelamin menawarkan argumen keagamaan yang tegas untuk menolak segala bentuk penghinaan dan kekerasan yang dilakukan atas nama agama maupun identitas kelompok.

Buya Husein menutup prakatanya dengan sebuah harapan yang juga menjadi ringkasan paling jujur dari seluruh isi buku ini, bahwa sebelum menjadi santri, kiai, aktivis, atau menjalankan peran sosial apa pun, setiap orang terlebih dahulu adalah manusia yang berasal dari satu jiwa yang sama.

“Karena itu, kita layak saling memuliakan,” tulisnya.

Melalui tangan seorang kiai pesantren yang selama ini dikenal luas memperjuangkan kesetaraan dan martabat manusia, baik di pesantren maupun forum diskusi lintas iman, jawaban atas kegelisahan tentang kemanusiaan yang diajukan sejak awal tulisan ini kini tersedia bagi pembaca Indonesia dalam bahasa yang mengalir dan mudah dipahami.

Tampilan jilid “Manusia dan Kemanusiaan dalam Islam: Menyelami Hakikat, Martabat, dan Tanggung Jawab Manusia Perspektif Islam (2026)” karya Buya Husein. Dok IKHBAR

Buku Manusia dan Kemanusiaan dalam Islam: Menyelami Hakikat, Martabat, dan Tanggung Jawab Manusia Perspektif Islam (2026) hadir dalam format 14 × 21 cm dengan ketebalan XX + 308 halaman. Buku ini dapat diperoleh dengan harga Rp95.000, belum termasuk ongkos kirim dari Cirebon.

Bagi pembaca yang ingin memiliki buku ini, pemesanan dapat dilakukan melalui +62895393501444 (WhatsApp only). Pengiriman tersedia ke seluruh Indonesia.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.