Ikhbar.com: Rasa takut kepada Allah Swt semestinya tidak membuat manusia menjauh. Sebaliknya, rasa takut kepada-Nya harus mendorong seseorang semakin dekat, taat, dan menumbuhkan kecintaan kepada Allah.
Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadziq saat mengisi Ngaji At-Tibyan fî Nahyi ‘an Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan dalam Haul Ki Gede Japura, Kiai Hasan Mutohar, sesepuh, dan almarhumin warga Japura di halaman Masjid Nurul Islah Japura Kidul, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Kiai Fahmi menjelaskan, rasa takut terhadap Allah Swt berbeda dengan rasa takut terhadap makhluk. Ketika seseorang takut kepada binatang buas, ia akan berusaha menjauh. Sementara rasa takut kepada Allah justru mengarahkan manusia untuk mendekat.
Baca: Pengasuh Ponpes Tebuireng: Memutus Silaturahmi Berarti Merusak Janji kepada Allah
“Ketika kita takut binatang buas, kita menjauh. Tapi kalau kita takut kepada Allah, kita tak boleh menjauh, justru harus mendekat,” ujar Kiai Fahmi.

Menurutnya, rasa takut kepada Allah juga perlu disertai mahabbah atau kecintaan. Keduanya menjadi bagian penting dalam membangun hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
“Tapi tidak cukup takut, tapi ditambah rasa mahabbah atau kecintaan kepada Allah,” katanya.
Kiai Fahmi menggambarkan kecintaan tersebut melalui hubungan seseorang dengan sesuatu yang dicintainya. Orang yang mencintai akan merasa berat ketika berada jauh dan memiliki keinginan untuk selalu mendekat.
“Orang kalau mencintai itu berat jikalau jauh, ingin selalu dekat,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa kedekatan kepada Allah Swt perlu diwujudkan melalui ketaatan terhadap perintah-Nya. Kesadaran tersebut juga tercermin dalam perilaku manusia ketika berhubungan dengan orang lain.
Menurut Kiai Fahmi, kehidupan sosial perlu dibangun dengan semangat persaudaraan. Permusuhan perlu dihindari agar hubungan antarsesama tetap terjaga.
“Kita itu penting tidak punya musuh. Semuanya dijadikan saudara,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa rasa takut kepada Allah tidak cukup hanya berada dalam hati. Rasa tersebut harus terlihat dalam sikap dan perbuatan, termasuk ketika seseorang berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat.
Ia menilai kesadaran terhadap hubungan dengan Allah akan memengaruhi cara seseorang menjalani kehidupan. Ketaatan kepada Allah menjadi dasar untuk menjaga perilaku dan hubungan dengan sesama.