Ikhbar.com: Museum Al-Qur’an di Kawasan Budaya Hira, Makkah, Arab Saudi, memamerkan manuskrip Al-Qur’an yang diperkirakan berasal dari abad ke-18. Koleksi tersebut memperlihatkan ketelitian penyalinan mushaf pada masa lalu sekaligus perkembangan seni kaligrafi Arab dan dekorasi manuskrip Islam.
Dikutip dari Saudi Press Agency (SPA), manuskrip tersebut ditulis dengan tinta hitam dan menampilkan perpaduan sejumlah karakteristik aliran kaligrafi Islam. Bentuk tulisan yang digunakan menunjukkan kemampuan penulis dalam menerapkan berbagai gaya kaligrafi Arab secara terampil.
“Penyalinan Al-Qur’an pada masa itu masih dilakukan secara manual. Setiap halaman dikerjakan dengan ketelitian tinggi untuk memastikan susunan huruf, tanda baca, dan teks mushaf tetap jelas serta mudah dibaca,” tulis SPA dikutip pada Senin, 10 Agustus 2026.
Baca: Tiga Warga Spanyol Napak Tilas Rute Klasik Haji Andalusia-Makkah
Manuskrip tersebut juga dilengkapi tanda diakritik dan notasi vokal yang ditulis secara cermat. Tanda-tanda tersebut berfungsi membantu pembaca mengenali pelafalan huruf dan kata dalam bahasa Arab.
Keberadaan tanda baca dan vokal yang teratur menjadi salah satu bagian penting dalam melihat perkembangan tradisi penulisan mushaf.
“Manuskrip ini sekaligus menunjukkan teknik yang digunakan penulis Al-Qur’an dalam menjaga ketepatan teks ketika proses penyalinan masih mengandalkan keterampilan tangan,” tulis SPA.
Keistimewaan manuskrip tersebut tidak hanya terlihat dari teks Al-Qur’an. Bagian pembukanya dihiasi motif bunga dan ornamen yang dibuat dengan pola yang rumit.
Hiasan tersebut memperlihatkan perpaduan antara seni kaligrafi dan dekorasi manuskrip. Motif bunga, pola geometris, serta ornamen khas Islam menjadi bagian dari unsur artistik yang berkembang dalam tradisi pembuatan manuskrip di dunia Islam.
“Penggunaan berbagai unsur dekoratif menunjukkan perhatian terhadap tampilan mushaf selain ketelitian dalam penulisan teks. Kaligrafi dan ornamen ditempatkan secara terukur sehingga membentuk tampilan halaman yang khas,” tulisnya.
Perpaduan beberapa karakteristik aliran kaligrafi juga menjadi bagian yang menarik dari manuskrip tersebut. Hal itu memperlihatkan keterampilan penulis dalam mengolah bentuk huruf dengan gaya yang berkembang pada zamannya.
Manuskrip Al-Qur’an abad ke-18 yang dipamerkan di Makkah menjadi salah satu koleksi yang memberikan gambaran mengenai sejarah penulisan Al-Qur’an secara manual. Pengunjung dapat melihat bentuk mushaf yang dikerjakan sebelum teknologi pencetakan modern digunakan secara luas.
Melalui manuskrip tersebut, pengunjung juga dapat mengamati perkembangan gaya kaligrafi Arab, penggunaan tanda diakritik dan vokal, serta teknik menghias halaman Al-Qur’an.
Setiap bagian manuskrip memperlihatkan tahapan keterampilan yang diperlukan dalam proses penyalinan. Penulis tidak hanya dituntut mampu menulis huruf Arab dengan baik, tetapi juga harus memperhatikan ketepatan teks dan penataan halaman.
Di sisi lain, kawasan Budaya Hira juga memiliki Pameran Wahyu atau Revelation Exhibition. Pameran ini menyajikan kisah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw melalui berbagai media.
Penyelenggara menggunakan teknologi visual dan audio untuk membantu pengunjung memahami rangkaian sejarah turunnya wahyu. Informasi mengenai sejarah dan peradaban Islam disajikan bersama teknologi interaktif dalam ruang pameran.
Keberadaan manuskrip Al-Qur’an abad ke-18 dan Pameran Wahyu menjadi bagian dari koleksi serta penyajian sejarah Islam di Kawasan Budaya Hira, Makkah.