Ikhbar.com: Tren meningkatnya minat masyarakat dan jumlah hafiz (penghafal) Al-Qur’an di Indonesia dinilai sebagai kabar baik. Namun, perkembangan tersebut berpotensi memunculkan persoalan mendasar yang kerap luput dari perhatian, terutama terkait kualitas bacaan dan penjagaan hafalan.
Hal itu disampaikan Motivator Al-Qur’an, KH Rifqiel Asyiq saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Mendaras Kebiasaan Tadarus Al-Qur’an” di Ikhbar TV.
“Ada banyak orang yang sudah digelari hafiz (Al-Qur’an), tapi bacaan tajwidnya masih ngalor-ngidul (kacau). Itu penyakit menurut saya,” kata pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Qur’an (Daqu) Tegalgubug Cirebon tersebut, dikutip pada Senin, 2 Maret 2026.

Baca: Mengenang Mbah Jamil Nawawi Tegalgubug, Tajwid Berjalan yang Bebaskan Santri dari Pungutan
Menurutnya, pengakuan sosial sebagai hafiz sering membuat seseorang merasa cukup dengan status yang disandang, sementara aspek tajwid dan tahsin belum tertata baik. Kondisi tersebut dinilai berisiko karena menyangkut kemurnian bacaan Al-Qur’an.
Belum lagi, tambah Gus Rifqiel, menjaga hafalan lebih berat dibanding proses menghafal pada tahap awal.
“Menjaga hafalan itu tidak mudah,” ujarnya.
Gus Rifqiel menyebut banyak hafiz kesulitan mempertahankan hafalan setelah keluar dari lingkungan pesantren atau lembaga pendidikan. Tanggung jawab keluarga dan pekerjaan kerap menjadi tantangan baru.
“Lebih kesulitan dalam proses penjagaan dibanding dulu ketika dia menghafal,” tuturnya.
Karena itu, dia mendorong pentingnya sistem talaqqi (tatap muka dengan guru) dengan sanad yang tersambung. Tradisi sema’an (menyimak bacaan Al-Qur’an) juga perlu terus dihidupkan agar kualitas tetap terjaga.
Dia juga mengingatkan agar Al-Qur’an tidak dijadikan komoditas demi popularitas atau kepentingan sesaat.
“Jangan sampai kita termasuk dalam golongan yang mengkomoditikan Al-Qur’an,” tegasnya.
Baca: Kiat Rawat Semangat Tadarus Al-Qur’an hingga di Luar Ramadan
Gus Rifqiel mengaku tidak menolak program tahfiz Al-Qur’an di media atau televisi. Namun, dia meminta agar niat dan prioritas tetap dijaga.
“Proses-proses mengkomoditikan Al-Qur’an atau tidak berawal dari bagaimana kita membangun niat,” katanya.
Dia menilai peningkatan jumlah hafiz harus dibarengi standar kualitas yang ketat. Hafalan perlu disertai ketepatan bacaan dan kekuatan dalam menjaga hafalan.
“Lingkungan yang kondusif, rutinitas semaan, serta kedisiplinan pribadi menjadi kunci agar hafalan tidak sekadar simbol, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian. Pesantren jawabannya, bukan pihak-pihak yang hanya menjanjikan pendidikan hafalan Al-Qur’an dengan instan,” pungkasnya.