Kiat Rawat Semangat Tadarus Al-Qur’an hingga di Luar Ramadan

Ilustrasi. UNSPLASH/ Herhy Ad

Ikhbar.com: Tradisi tadarus Al-Qur’an selama Ramadan masih menjadi pemandangan umum di berbagai kampung dan kawasan perkotaan. Seusai tarawih, warga berkumpul di musala atau masjid, bergiliran membaca satu hingga dua halaman. Kegiatan tersebut juga dilakukan secara individu dalam keseharian. Namun, selepas Lebaran, agenda itu mereda dan tidak lagi menjadi rutinitas atau kebiasaan.

Motivator Al-Qur’an, KH Rifqiel Asyiq menilai fenomena tersebut terjadi karena tadarus belum dirancang sebagai kebiasaan berkelanjutan. Sosok yang akrab disapa Gus Rifqiel itu mendorong masyarakat menyusun perencanaan sederhana agar semangat Ramadan tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan.

“Singkatnya, buat mapping (pemetaan). Mau apa dengan Al-Qur’an ini? Apa yang sedang dituju dalam sebulan (Ramadan) ini?” ujarnya saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Mendaras Kebiasaan Tadarus Al-Qur’an” di Ikhbar TV, dikutip pada Senin, 2 Maret 2026.

Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Qur’an (Daqu) Tegalgubug Cirebon, KH Rifqiel Asyiq (kanan), saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Mendaras Kebiasaan Tadarus Al-Qur’an” di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Baca: Mengenang Mbah Jamil Nawawi Tegalgubug, Tajwid Berjalan yang Bebaskan Santri dari Pungutan

Menurut dia, masyarakat kerap membaca Al-Qur’an dengan semangat tinggi selama Ramadan tanpa target yang jelas. Akibatnya, setelah bulan suci berakhir, tidak ada arah yang menjadi pegangan untuk melanjutkan kebiasaan tersebut.

Gus Rifqiel menyarankan agar sejak awal Ramadan warga menentukan capaian yang realistis. Target itu tidak harus khatam 30 juz. Fokus dapat diarahkan pada perbaikan bacaan surat-surat pendek yang rutin dibaca dalam salat atau peningkatan kualitas bacaan (kefasihan) Surah Al-Fatihah.

“Jadi mau capaian apa yang akan kita tempuh dalam sebulan ke depan? Nanti di-mapping bentuk skala prioritas, bentuk program, sistem dibangun,” kata pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Qur’an (Daqu) Tegalgubug Cirebon itu.

Gus Rifqiel menegaskan Ramadan semestinya menjadi fase peningkatan kualitas, bukan sekadar mengejar jumlah bacaan. Jika tadarus hanya berorientasi pada pemenuhan target, wajar jika ritmenya menurun setelah Ramadan.

“Sehingga momen Ramadan itu untuk skalanya harus ada ekspansi yang diraih,” ucapnya.

Selain penetapan target, Gus Rifqiel menekankan pentingnya kebersamaan. Tradisi tadarus berjemaah di musala, masjid, atau rumah warga dinilai efektif menjaga konsistensi, asalkan tetap dilanjutkan meski frekuensinya tidak sepadat Ramadan.

“Yang paling penting membentuk jam’iyah (berkelompok), baik online maupun offline. Ini yang paling paling strategis,” tuturnya.

Baca: Podcast Ramadan di Ikhbar TV kembali Hadir, Lebih Inspiratif dan Kontekstual!

Dalam konteks masyarakat perkotaan dengan waktu terbatas, tadarus tidak harus terikat pada satu waktu tertentu. Yang utama adalah konsistensi serta memperhatikan kenyamanan lingkungan sekitar, termasuk penggunaan pengeras suara.

Ia mengingatkan, banyak orang terjebak memperdebatkan waktu paling afdal untuk membaca Al-Qur’an. Padahal, yang lebih penting adalah memulai dan menjaga kebiasaan tersebut.

Gus Rifqiel mengakui menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an bukan perkara ringan. Ritme kerja, urusan keluarga, dan aktivitas harian kerap menjadi alasan terhentinya tadarus selepas Ramadan.

Karena itu, hasil Ramadan perlu dijadikan dasar penyusunan program lanjutan, meski dalam skala kecil, misalnya satu halaman per hari atau satu kali tadarus bersama setiap pekan.

“Nanti akan ada semacam pilot project yang harus nanti sebulan ke depan akan dikoreksi untuk menjadi program lanjutan di setelah Ramadan,” pungkasnya.

Obrolan selengkapnya, bisa disimak di sini:

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.