Ikhbar.com: Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dapat menjadi sarana untuk memperkuat dakwah Islam dan meningkatkan literasi keislaman di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Meski demikian, penggunaan AI harus tetap berada di bawah kendali manusia agar informasi yang disampaikan sesuai dengan ajaran Islam.
Wakil Ketua Bidang Riset Digital Komisi Infokomdigi MUI, Ustaz Ismail Fahmi mengatakan, perkembangan AI telah mengubah pola masyarakat dalam mencari dan memperoleh informasi. Kondisi tersebut menuntut lembaga keagamaan menyesuaikan strategi dakwah dengan memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab.
“Yang perlu kita pikirkan adalah seperti apa dakwah kita ketika masyarakat semakin cerdas dengan bantuan teknologi. AI jangan dilawan, tetapi juga jangan sampai menguasai manusia. Yang tepat adalah manusia bekerja bersama AI,” ujar Ustaz Ismail dikutip dari laman MUI Digital, Jumat, 31 Juli 2026.
Ia menjelaskan, AI mampu mempercepat proses produksi materi dakwah. Rekaman ceramah, misalnya, dapat diolah menjadi video berdurasi singkat sehingga penyebaran pesan keagamaan menjadi lebih efektif dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Namun, ia menegaskan AI hanya berfungsi sebagai alat bantu. Seluruh materi yang dihasilkan tetap memerlukan pemeriksaan manusia agar isi, kutipan, serta penjelasannya terjaga akurasi dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam.
Baca: MUI: Fatwa Harus Menyesuaikan Zaman
“AI dapat membantu mempercepat proses, misalnya memotong rekaman ceramah menjadi konten pendek yang siap dipublikasikan. Namun, sebelum dipublikasikan, manusialah yang harus memastikan isi dan pesannya benar. Tanggung jawab tetap berada pada manusia,” katanya.
Ustaz Ismail turut mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak bergantung sepenuhnya pada AI. Ia menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis sehingga teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, bekerja, dan berdakwah, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
“Generasi muda harus memiliki kemampuan berpikir kritis. Jangan menyerahkan semuanya kepada AI. Gunakan AI untuk mendukung pekerjaan, belajar, dan berdakwah, bukan menggantikan proses berpikir,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti karakter algoritma AI yang tidak memiliki kemampuan menilai benar atau salah suatu informasi. Menurutnya, algoritma cenderung memprioritaskan konten yang berpotensi menarik perhatian publik sehingga hasil yang ditampilkan belum tentu mencerminkan kebenaran.
“Algoritma tidak membedakan mana yang benar dan mana yang salah, yang penting baginya adalah apa yang berpotensi viral. Karena itu, regulasi dari pemerintah dan penguatan etika dari lembaga keagamaan menjadi sangat penting agar AI dimanfaatkan untuk menyebarkan konten yang benar, edukatif, dan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadis,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Infokomdigi MUI, KH Masduki Baidlowi menyampaikan, kemajuan AI perlu dipandang sebagai peluang dalam memperluas syiar Islam. Menurutnya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam wasathiyah sekaligus menjaga tradisi keilmuan para ulama Nusantara.
“AI ini adalah alat efektif; jika kita kuasai, kita bisa mengarahkan konten-konten digital untuk menyebarkan pesan Islam yang moderat, membawa rasa aman, dan merawat tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama Nusantara,” ujar Kiai Masduki.