Kemenag Sulap Dana Zakat Jadi Bantuan Banjir Sumatera

Pantauan udara banjir Sumatera. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

Ikhbar.com: Kementerian Agama (Kemenag) melakukan transformasi zakat menjadi solusi nyata penanganan banjir di Sumatera dengan mengonversi dana umat ke bantuan pangan, layanan kesehatan, hingga hunian sementara bagi penyintas.

Pendekatan ini menempatkan zakat sebagai instrumen perlindungan sosial-keagamaan yang bekerja berkelanjutan, dari masa darurat hingga pemulihan.

Penguatan peran tersebut dijalankan Kemenag melalui kebijakan pengelolaan zakat yang lebih terukur dan berdampak. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, KH Waryono Abdul Ghafur, mendorong pergeseran paradigma dari bantuan karitatif sesaat menjadi sistem perlindungan sosial umat yang menyentuh kebutuhan dasar penyintas.

“Zakat tidak boleh berhenti sebagai respons darurat. Ia harus bekerja sebagai sistem perlindungan sosial umat, menjaga agar penyintas tetap memiliki akses pangan, air bersih, pendidikan, listrik, dan konektivitas untuk memulihkan kehidupannya,” ujar Kiai Waryono di Jakarta pada Selasa, 13 Januari 2026.

Melalui skema sinergi nasional zakat, dana umat dikonversi menjadi intervensi konkret di wilayah terdampak Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca: Panduan SPMB 2026/2027

Sejak akhir November 2025 hingga awal Januari 2026, bantuan pangan menjadi prioritas dengan penyaluran 385.330 porsi makanan siap saji—terdiri atas 276.656 porsi di Aceh, 57.472 porsi di Sumatera Utara, dan 51.202 porsi di Sumatera Barat—serta 239.021 paket sembako dan logistik keluarga untuk menjaga ketahanan pangan rumah tangga.

Pada fase tanggap darurat, Kemenag menggandeng Badan Amil Zakat Nasional dan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) guna memastikan kebutuhan dasar penyintas terpenuhi secara merata.

Di sektor kesehatan, zakat menopang operasional 37 pos layanan—19 titik di Aceh, 9 di Sumatera Utara, dan 9 di Sumatera Barat—yang telah melayani 10.497 jiwa.

Seluruh rangkaian layanan tersebut diperkuat oleh 5.874 relawan dan personel respons yang bekerja di lapangan agar bantuan tersalurkan tepat sasaran dan berfungsi berkelanjutan.

Memasuki tahap pemulihan, intervensi zakat diarahkan lebih struktural. Dompet Dhuafa membangun 1.000 unit Rumah Sementara (Rumtara) di tiga provinsi terdampak, dengan 200 unit ditargetkan rampung pada Januari 2026.

Sementara itu, Rumah Zakat membangun 100 unit hunian sementara di Aceh Utara yang disertai pelatihan konstruksi kayu bagi warga, sehingga pemulihan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat lokal.

Zakat juga menjaga keberlanjutan layanan dasar lainnya. Di bidang pendidikan dan keagamaan, disalurkan 29.000 mushaf Al-Qur’an dan buku Iqra serta 3.548 paket bantuan pendidikan siswa.

Untuk air bersih dan sanitasi, dukungan mencakup distribusi 1,3 juta liter air bersih, pembangunan 60 sumur bor, dan pengadaan 10 unit alat filter air siap minum. Konektivitas wilayah terdampak turut dijaga melalui penyediaan 35 unit genset dan 15 perangkat Starlink.

“Dengan pendekatan ini, zakat tidak lagi semata bergerak berdasarkan empati sesaat, tetapi menjadi instrumen kebijakan sosial-keagamaan yang menopang daya tahan masyarakat di tengah krisis yang semakin kompleks dan berulang,” kata dia.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Goole News.