Selain Haram, Ahli Mikrobiologi Inggris Ungkap Tato Bisa Hilangkan Daya Tahan Tubuh

Proses pembuatan tato. UNPLASH/Steven Lozano

Ikhbar.com: Keharaman tato dalam Islam sudah bersifat umum dan dipahami luas. Mayoritas ulama menyepakati bahwa merajah tubuh termasuk perbuatan terlarang karena mengubah ciptaan Allah Swt serta mendatangkan laknat. Di balik larangan spiritual tersebut, kajian ilmiah turut mengungkap dampak kesehatan yang selama ini jarang disadari. Tato, disebut sangat berkaitan langsung dengan gangguan serius pada kesehatan, terutama sistem pertahanan alami manusia.

Pakar mikrobiologi dari Universitas Westminster, Inggris, Manal Mohammed menjelaskan bahwa tinta tato yang masuk ke dalam tubuh tidak bersifat netral.

“Tato memasukkan zat yang tidak dirancang untuk menetap lama di jaringan manusia, dan sebagian kandungannya bersifat toksik,” ungkap Manal, dikutip dari Science Alert, pada Selasa, 6 Januari 2026.

Baca: Judi Online, Mahakarya Setan dengan Peminat Terbanyak dari Indonesia

Penelitiannya menunjukkan bahwa partikel pigmen tato dapat berpindah melalui sistem limfatik dan kemudian terakumulasi di kelenjar getah bening. Area ini memiliki peran penting sebagai pusat pengendali respons imun tubuh.

Temuan ilmiah tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan tinta mampu mengganggu komunikasi kimia antar sel imun. Manal menyampaikan bahwa sebuah studi menemukan tinta tato yang berada di sekitar lokasi penyuntikan vaksin dapat memengaruhi reaksi kekebalan tubuh.

“Kondisi tersebut dikaitkan dengan penurunan respons imun terhadap vaksin Covid-19,” ujarnya.

Hasil riset ini memperkuat bukti bahwa pigmen tato dapat mengacaukan sinyal biologis yang digunakan sel imun untuk melawan infeksi. Akibatnya, daya tahan tubuh menjadi kurang optimal saat menghadapi paparan penyakit.

Dampak biologis tersebut berkaitan erat dengan komposisi tinta tato yang kerap mengandung bahan kimia berbahaya. Sejumlah pigmen yang beredar saat ini sejatinya dikembangkan untuk kebutuhan industri, seperti cat kendaraan, plastik, serta tinta printer.

“Sebagian tinta mengandung logam berat seperti nikel, kromium, kobalt, dan terkadang timbal yang dikenal sebagai pemicu reaksi alergi serta gangguan sensitivitas imun,” tegas Manal.

Keberadaan logam berat tersebut memaksa sistem kekebalan bekerja terus-menerus dalam kondisi peradangan kronis.

Risiko kesehatan semakin besar pada penggunaan tinta berwarna, khususnya merah, kuning, dan oranye. Jenis tinta tersebut mengandung pewarna azo yang dapat terurai menjadi amina aromatik saat terpapar sinar matahari atau ketika proses penghapusan tato menggunakan laser.

“Senyawa ini dalam penelitian laboratorium dikaitkan dengan kanker dan kerusakan genetik,” jelasnya.

Kondisi tersebut menempatkan pemilik tato pada risiko jangka panjang yang sulit dikenali sejak awal karena perkembangan sel kanker berlangsung dalam waktu lama.

Baca: Ilmuwan: Inti Bumi Pernah Berhenti Berputar, Kemudian Berbalik Arah

Di luar ancaman penyakit berat, tato juga memicu pembentukan granuloma atau benjolan peradangan. Keadaan ini muncul ketika sistem kekebalan berupaya mengisolasi material asing yang tidak dapat dikeluarkan dari tubuh.

Manal menegaskan bahwa semakin banyak jumlah serta variasi warna tato pada tubuh seseorang, semakin besar pula akumulasi beban kimia yang harus ditanggung sistem imun.

“Paparan kimia sepanjang hidup ini menjadi ancaman serius seiring bertambahnya usia manusia,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.