Ikhbar.com: Kerusakan batin yang paling berbahaya justru berlangsung dalam keadaan nyaris tak disadari. Seseorang tetap menjalankan ibadah, tetap berbicara tentang kebaikan, bahkan terlihat tenang menjalani hidup. Namun, di dalam batinnya tidak lagi muncul rasa kehilangan ketika kebaikan terlewat, dan tidak ada penyesalan saat kesalahan dilakukan.
Dalam tradisi tasawuf, kondisi tersebut tidak dipahami sebagai tanda kematangan spiritual. Sebaliknya, keadaan itu menjadi isyarat serius bahwa hati sedang berada di ambang kematian. Tokoh tasawuf terkemuka, Ibnu Athaillah As-Sakandari, menandai keadaan ini melalui satu ungkapan singkat yang langsung menyentuh persoalan mendasar.
مِنْ عَلَامَةِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَ مِنْ وُجُودِ الزَّلَّاتِ
“Di antara tanda matinya hati adalah tidak merasa sedih atas kebaikan yang luput darimu dan tidak menyesali kesalahan yang telah kamu lakukan.”
Baca: Wahai Gen Z! Ini Kiat agar tak Gampang ‘Kena Mental’ dari Al-Ghazali
Ungkapan ini kemudian dijelaskan secara rinci oleh Ibnu Abbad Ar-Randi dalam Sirāj al-Ẓulam fī Syarḥ Talkhīṣ al-Ḥikam. Melalui uraian yang runtut dan jernih, Ibnu Abbad menegaskan bahwa hidup atau matinya hati tidak ditentukan oleh tampilan lahiriah, tetapi oleh respons batin seseorang terhadap ketaatan dan pelanggaran yang dialami.
Baca: Menangkal ‘Jam Koma’ dengan Doa
Kepekaan batin
Menurut Ibnu Abbad, hati yang hidup selalu menunjukkan reaksi. Hati tidak pernah bersikap datar terhadap ketaatan maupun pelanggaran. Selama iman masih berfungsi, kelalaian akan menimbulkan kegelisahan, dan kesalahan akan menghadirkan penyesalan.
القَلْبُ إِذَا كَانَ حَيًّا بِالْإِيمَانِ حَزِنَ عَلَى مَا فَاتَهُ مِنَ الطَّاعَاتِ وَنَدِمَ عَلَى مَا فَعَلَهُ مِنَ الزَّلَّاتِ
“Hati yang hidup dengan iman akan merasa sedih atas ketaatan yang terlewatkan dan menyesali kesalahan yang telah dilakukan.”
Kesedihan dan penyesalan tersebut tidak dipahami sebagai sikap berlebihan. Keduanya justru menjadi penanda bahwa hati masih berfungsi.
Rasa rugi akibat kelalaian menunjukkan kesadaran akan nilai ketaatan. Penyesalan setelah berbuat salah menandakan pengenalan terhadap batas dan adanya kehendak untuk kembali ke jalan yang benar.
Sebaliknya, ketika rasa semacam ini menghilang, kebaikan berlalu tanpa beban, dan kesalahan terjadi tanpa penyesalan. Pada titik inilah Ibnu Athaillah menyebutnya sebagai tanda kematian hati. Penyebabnya bukan semata banyaknya dosa, melainkan hilangnya kepekaan batin.
Baca: Jadilah Laut! Tips Hadapi Fitnah, Kecewa, dan Patah Hati ala Prof. Rokhmin Dahuri
Iman terbaca dari rasa
Ibnu Abbad kemudian mengaitkan penjelasan tersebut dengan sebuah hadis Nabi Muhammad saw yang menempatkan respons batin sebagai tolok ukur iman.
القلب إذا كان حيّاً بالإيمان حزن على ما فاته من الطاعات، وندم على ما فعله من الزلات، ومقتضى هذا وجود الفرح بما يستعمل فيه من الطاعات، ويوفق له من اجتناب المعاصي والسيئات. وقد جاء في الحديث: «من سرته حسنته وساءته سيئته فهو مؤمن» ، وإن لم يكن العبد بهذا الوصف، وعدم الحزن على ما فاته، والندم على ما أتاه، فهو ميت القلب،
“Hati yang hidup dengan iman akan merasa sedih atas ketaatan yang terlewatkan dan menyesali kesalahan yang telah dilakukan. Hal ini berimplikasi pada munculnya rasa gembira ketika menjalankan ketaatan dan adanya taufik untuk menjauhi maksiat serta dosa. Dalam hadis disebutkan, ‘Barang siapa merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa buruk dengan keburukannya, maka dia seorang mukmin.’ Apabila seorang hamba tidak memiliki sifat tersebut, tidak merasa sedih atas ketaatan yang terlewat, dan tidak menyesali kesalahan yang dilakukan, maka hal itu menjadi tanda matinya hati.”
Hadis ini memberikan ukuran yang tegas. Iman tidak dibaca dari pengakuan atau aktivitas lahiriah semata, tetapi dari getaran batin setelah suatu perbuatan dilakukan. Ketika kebaikan tidak lagi menghadirkan kegembiraan dan keburukan tidak lagi mengusik perasaan, iman berada dalam kondisi rapuh.
Ibnu Abbad menegaskan bahwa ketiadaan rasa sedih atas ketaatan yang terlewat dan ketiadaan penyesalan atas kesalahan merupakan tanda hati yang mati. Penegasan ini disampaikan bukan untuk menjatuhkan vonis, melainkan sebagai peringatan agar bahaya yang tersembunyi di balik rasa aman semu dapat disadari sejak awal.
Baca: Healing Boleh, Hilang Jangan! Tips Jaga Kesehatan Mental ala Ning Vela
Amal sebagai isyarat
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa respons batin memiliki peran yang begitu menentukan. Ibnu Abbad menjelaskan bahwa setiap amal menjadi isyarat tentang relasi seorang hamba dengan Allah.
إِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ لِأَنَّ أَعْمَالَ الْعَبْدِ الْحَسَنَةَ وَالسَّيِّئَةَ عَلَامَتَانِ عَلَى وُجُودِ رِضَا اللَّهِ تَعَالَى عَنْهُ وَسَخَطِهِ عَلَيْهِ
“Amal perbuatan hamba yang baik dan buruk merupakan dua tanda adanya keridaan Allah Swt terhadap hamba dan kemurkaan-Nya atasnya.”
Ketika Allah memberi taufik untuk berbuat baik, rasa gembira yang muncul di hati dipahami sebagai respons atas tanda keridaan-Nya. Harapan pun menguat dan mendorong konsistensi dalam ketaatan. Sebaliknya, ketika seseorang terjerumus dalam kemaksiatan, rasa gelisah dan sedih menunjukkan bahwa hati masih menyadari jarak yang tercipta dengan Allah.
Apabila rasa tersebut menghilang, keadaan yang muncul bukan ketenangan batin, melainkan keterputusan yang berbahaya.
Ibnu Abbad juga mengingatkan agar konsep harap dan takut tidak disalahpahami.
وَالرَّجَاءُ يَبْعَثُ عَلَى الِاجْتِهَادِ فِي الطَّاعَاتِ وَلَيْسَ مِنْ مُقْتَضَاهُ تَرْكُهَا وَعَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَ مِنْهَا أَمْنًا وَاغْتِرَارًا
“Harapan kepada Allah mendorong kesungguhan dalam ketaatan, bukan sikap meninggalkan amal dan tidak merasa sedih atas ketaatan yang terlewat karena rasa aman dan keterpedayaan.”
Penjelasan serupa juga disampaikan terkait rasa takut.
وَالْخَوْفُ يَبْعَثُ عَلَى الْمُبَالَغَةِ فِي اجْتِنَابِ الْمَعَاصِي وَالسَّيِّئَاتِ وَلَيْسَ مِنْ مُقْتَضَاهُ فِعْلُهَا وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَيْهَا إِيَاسًا وَقُنُوطًا
“Rasa takut mendorong kesungguhan dalam menjauhi maksiat dan dosa, bukan justru melakukannya lalu tidak menyesal karena keputusasaan.”
Dua penjelasan tersebut menutup ruang pembenaran diri. Rasa aman yang berujung pada peremehan dosa mengarah pada kematian hati. Keputusasaan yang menghilangkan penyesalan juga membawa dampak yang sama.
Baca: Capek Pura-pura Kuat? Baca Doa Pengusir Duck Syndrome Ini!
Ciri-ciri hati yang telah mati tidak selalu tampak dalam perilaku ekstrem. Gejalanya sering muncul dalam bentuk ketidakpedulian batin. Tidak ada rasa kehilangan, tidak ada penyesalan, dan tidak muncul dorongan untuk memperbaiki diri. Uraian Ibnu Athaillah dan Ibnu Abbad mengajak setiap orang beriman untuk berhenti sejenak dan menilai kondisi batinnya secara jujur.
Selama hati masih mampu merasa sedih karena lalai dan menyesal karena kesalahan, peluang untuk kembali tetap terbuka. Ketika rasa tersebut benar-benar lenyap, di situlah peringatan ini menemukan relevansinya.