Ikhbar.com: Di Desa Tegalgubug Lor, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, nama KH Abdul Jamil Nawawi lekat dengan ilmu tajwid. Mbah Jamil, sapaan masyhurnya, dikenal sebagai pengajar Al-Qur’an yang menjaga pelafalan huruf dengan ketelitian tinggi, serta memastikan setiap orang dapat belajar membaca Kitab Suci dengan benar dan tanpa beban.
Kenangan tentang sosok tersebut disampaikan sang cucu, KH Rifqiel Asyiq. Menurutnya, Mbah Jamil bukan hanya tokoh masyarakat dan pengasuh pesantren, melainkan rujukan dalam menjaga martabat bacaan Al-Qur’an.
“Mbah saya, Allahyarham Kiai Abdul Jamil Nawawi, selain betul sebagai kakek biologis saya, beliau juga saya anggap sebagai mursyid (guru spiritual),” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Qur’an (Daqu) Tegalgubug Cirebon yang akrab disapa Gus Rifqiel tersebut, saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Mendaras Kebiasaan Tadarus Al-Qur’an” di Ikhbar TV, dikutip pada Senin, 2 Maret 2026.

Baca: Podcast Ramadan di Ikhbar TV kembali Hadir, Lebih Inspiratif dan Kontekstual!
Lahir dari tradisi langgar
Mbah Jamil lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Mbah Kiai Nawawi, seorang petani yang juga mengajar baca Al-Qur’an di langgar kampung. Ibunya, Nyai Karimah, berdagang ikan asin di pasar. Sejak kecil, Mbah Jamil tumbuh dalam lingkungan pengajian desa yang akrab dengan mushaf.
Masa mudanya diisi dengan bekerja sambil belajar. Mbah Jamil bertani, mengoperasikan mesin tenun tradisional “kotrek”, berdagang kain hingga ke Jawa Tengah, serta mendalami pencak silat jurus “Jangka Telu”.
Mbah Jamil juga mahir menabuh genjring untuk mengiringi selawat Nabi dan ritual marhabanan. Namun, Al-Qur’an tetap menjadi poros utama dalam kehidupannya.
“Saking cintanya terhadap Al-Qur’an, Mbah Jamil hingga menjelang wafat pun masih berkeliling ke jamiyah tadarus se-Wilayah III Cirebon (Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka),” ungkap Gus Rifqiel.
Mbah Jamil muda disebut pernah belajar kepada sejumlah kiai ahli Al-Qur’an, di antaranya Kiai Sanusi Babakan, Kiai Ma’mun Banten, Kiai Mahfudz Lebaksiu, Kiai Mu’min Plered, dan Mbah Munawir Krapyak. Dari para guru tersebut, beliau mendalami makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan sifat-sifat huruf secara ketat.

Baca: Mengapa Al-Qur’an Diturunkan Bertahap?
Tajwid sebagai prioritas
Gus Rifqiel menegaskan kembali ajaran kakeknya tentang pentingnya tajwid. Ia menyoroti fenomena yang menurutnya perlu diluruskan, terutama pada sebagian orang yang telah bergelar hafiz Al-Qur’an, tetapi bacaannya belum sesuai standar.
“Karena mungkin muncul semacam validasi dalam dirinya bahwa saya sudah menjadi hafiz, urusan tajwid sama tahsinnya belum benar, itu urusan nomor sekian,” tuturnya.
Di pesantren yang kini ia lanjutkan pengasuhannya, pembenahan bacaan ditempatkan sebagai prioritas utama. Salah satu gerakan yang dirintis Mbah Jamil adalah “operasi Fatihah” alias pembinaan khusus pembacaan Surat Al-Fatihah yang menjadi elemen pokok dalam ibadah salat.
“Tugasnya apa? Tahsin (memperbaiki) dan tajwid, itu saja. Enggak bicara tahfiz di situ,” kata Gus Rifqiel.
Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah:
وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)
Dalam tradisi pesantren, menurut Gus Rifqiel, menjaga bacaan dipahami sebagai bagian dari ikhtiar memelihara kemurnian wahyu itu sendiri.
Baca: Cara Mudah Jaga Konsistensi Tadarus Al-Qur’an selama Ramadan
Literasi tajwid untuk masyarakat
Keseriusan Mbah Jamil juga tercermin dalam karyanya, Miftahullisan, sebuah kitab tajwid berbahasa Jawa. Risalah tersebut disusun agar masyarakat desa lebih mudah memahami teori makharijul huruf, sifat huruf, dan hukum bacaan.
Menurut Gus Rifqiel, kitab itu lahir dari pengamatan langsung terhadap praktik tadarus masyarakat yang masih memerlukan pembenahan. Bahasa Jawa dipilih agar materi terasa dekat dengan keseharian pembaca.
Melalui kitab tersebut, pengajaran tajwid tidak bergantung sepenuhnya pada penjelasan lisan guru, melainkan memiliki pegangan tertulis yang dapat dipelajari ulang oleh santri dan jemaah.
Kitab setebal sekitar 35 halaman itu disusun secara sistematis dalam lebih dari 20 bab, dimulai dari pembahasan makharijul huruf, sifat huruf, hukum nun sukun dan tanwin, mad, hingga kesalahan bacaan yang perlu dihindari. Mbah Jamil juga menyertakan penjelasan adab membaca Al-Qur’an serta rujukan pendapat ulama tajwid klasik sebagai penguat.
Tidak hanya itu, menurut kesaksian Gus Rifqiel, semangat Mbah Jamil tidak surut meski usia terus bertambah. Mbah Jamil rutin melakukan perjalanan ke sejumlah pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Perjalanan tersebut dilakukan untuk silaturahim dan menjaga tradisi talaqqi, membaca dan menyimak bacaan secara langsung,” katanya.
Baca: Mengenal Al-Qur’an Maghribi, Mushaf Maroko yang Sempat bikin Heboh
Prinsip tegas soal biaya
Sikap Mbah Jamil terhadap pendidikan menjadi bagian penting dari warisannya. Ia tidak menghendaki pendidikan Al-Qur’an menjadi beban bagi siapa pun.
“Haram telinga saya mendengar santri keluar dari pondok karena alasan finansial,” ungkap Gus Rifqiel, menirukan pernyataan Mbah Jamil.
Kalimat tersebut menjadi pegangan dalam pengelolaan pesantren.
“Jangan sampai kita termasuk dalam golongan yang mengkomoditikan Al-Qur’an,” lanjut Gus Rifqiel.
Bagi Mbah Jamil, mengajar Al-Qur’an merupakan amanah. Prinsip tersebut sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Saw:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Mbah Jamil wafat pada usia 94 tahun. Ia meninggalkan tujuh anak dari sembilan bersaudara yang dikenal sebagai penghafal dan pengasuh lembaga pendidikan Al-Qur’an.
“Beliau benar-benar dikenang sebagai sosok yang tekun menjaga Al-Qur’an,” kenang Gus Rifqiel.