3 Langkah Membangun Pesantren Aman ala Ning Uswah

Pengkaji Fikih Nisa, Sekretaris Majelis Masyayikh Jaringan Pondok Pesantren Ramah Anak (JPPRA), sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, Jawa Timur, Dr. Ny. Uswah Syauqie, M.Pd. Dok. IST

Ikhbar.com: Pesantren perlu memberi ruang bagi santri untuk mengembangkan kemampuan intelektual, memperkuat keteladanan pengasuh, dan menyesuaikan metode pendidikan dengan perkembangan zaman. Ketiga hal tersebut dapat menjadi pijakan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang aman sekaligus mendukung kemandirian santri putra dan putri.

Pengkaji Fikih Nisa sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, Jawa Timur, Dr. Ny. Uswah Syauqie, M.Pd., menekankan pentingnya keberanian pesantren melakukan pembenahan tanpa meninggalkan tradisi keilmuan. Menurut Ning Uswah, pendidikan perlu terus dikembangkan agar santri mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan bekal pengetahuan dan nilai-nilai kepesantrenan.

“Namun apa pun kendala dan keterbatasan dari pesantren, mindset berani berkembang dan menyesuaikan zaman hendaklah menjadi modal utama dalam mendidik generasi berikutnya,” ujarnya kepada Ikhbar.com, Kamis, 22 Oktober 2026.

Baca: [Wawancara Khusus] Fikih Perempuan Pesantren: Bebaskan Santri Putri dari Stigma dan Diskriminasi

Langkah pertama ialah membuka ruang bagi santri untuk belajar, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Kesempatan tersebut perlu diberikan kepada santri putra dan putri tanpa membatasi akses berdasarkan jenis kelamin.

Ning Uswah mencontohkan forum bahtsul masail internal di pesantren. Forum tersebut dapat menjadi wadah untuk membahas persoalan hukum, menguji argumentasi, dan melatih santri menganalisis masalah dengan menggunakan perangkat keilmuan yang telah dipelajari.

Menurut dia, ruang diskusi semacam itu penting karena santri perempuan juga memiliki kemampuan untuk terlibat dalam perdebatan intelektual. Pengembangan kapasitas keilmuan mereka tidak seharusnya dibatasi oleh anggapan bahwa perempuan hanya perlu menguasai bidang tertentu.

“Di pesantren sudah ada bahtsul masail internal yang memberikan ruang untuk bersuara dan meningkatkan kerja kritis otak dalam mengolah suatu permasalahan atau hukum, dan perempuan memiliki otoritas keilmuan yang sama ketika tanding intelektual,” kata Ning Uswah.

Kesempatan untuk berkembang juga dapat diperkuat melalui penyediaan fasilitas literasi dan pengenalan teknologi. Pesantren perlu memastikan santri memperoleh dukungan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan berkomunikasi. Bekal tersebut membantu mereka menghadapi persoalan yang semakin beragam, baik selama menempuh pendidikan maupun ketika berkontribusi di masyarakat.

Langkah kedua ialah memperkuat keteladanan pengasuh dan pendidik. Lingkungan pendidikan yang aman membutuhkan figur yang mampu menghubungkan pengetahuan agama dengan tanggung jawab moral. Kiai, nyai, ustaz, dan ustazah berpengaruh dalam membentuk perilaku santri. Karena itu, keteladanan mereka menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Ning Uswah mengutip pesan gurunya, ulama perempuan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren As-Saidiyah II Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Ny. Hj. Umdatul Choirot Tambakberas, mengenai tanggung jawab pemilik otoritas keilmuan agama. Kedudukan sebagai tokoh agama membawa tanggung jawab untuk menjadi teladan bagi orang-orang yang belajar kepadanya.

“Siapa pun yang disebut tokoh yang memiliki otoritas keilmuan agama seperti kiai, nyai, ustaz, ustazah, hendaknya siap menjadi sosok yang dianut, siap menjadi uswah hasanah,” ujar Sekretaris Majelis Masyayikh Jaringan Pondok Pesantren Ramah Anak (JPPRA) itu.

Baca: Ning Uswah: Pesantren Perlu Benahi Kurikulum dan Kode Etik untuk Lindungi Santri

Keteladanan perlu tercermin dalam cara pendidik memperlakukan santri, menghormati martabat mereka, dan menggunakan kewenangan secara bertanggung jawab. Hubungan pendidikan tidak cukup bertumpu pada tuntutan kepatuhan. Pengasuh juga harus memastikan sikap dan tindakannya selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan.

Langkah ketiga ialah menyesuaikan metode pendidikan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi pesantren yang masih relevan. Ning Uswah memandang pesantren perlu terbuka terhadap perubahan, termasuk perkembangan teknologi dan kebutuhan ilmu pengetahuan yang semakin luas.

Menurut dia, pendidikan pesantren perlu memberi perhatian pada ilmu-ilmu fardu kifayah, seperti kedokteran, politik, sains, ilmu sosial, dan psikologi. Bidang-bidang tersebut berperan dalam kehidupan masyarakat dan dapat melengkapi pengetahuan agama yang menjadi pijakan santri.

Keterbukaan terhadap perkembangan zaman tidak berarti pesantren harus meninggalkan identitasnya. Tradisi keilmuan tetap dapat dipertahankan sembari memperbarui pendekatan pembelajaran, memperluas kesempatan belajar, dan mengembangkan pola pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan generasi sekarang.

Perubahan tersebut juga menuntut pemahaman bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari penguasaan materi. Santri perlu merasa aman, memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi, dan mendapatkan keteladanan dari orang-orang yang mendidik mereka.

Bagi penulis buku Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian (2025) tersebut, tanggung jawab pengasuh terhadap generasi berikutnya berkaitan erat dengan amanah keagamaan. Ia mengingatkan bahwa pendidik perlu memikirkan kondisi generasi yang kelak mereka tinggalkan, bukan hanya keberhasilan pendidikan dalam jangka pendek.

Pesan tersebut selaras dengan penggalan Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 9. Allah Swt berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).” (QS. An-Nisa: 9).

“Takutlah kamu ketika kamu meninggalkan generasimu dalam keadaan generasi cemas, bukan generasi emas, takutlah kepada Allah,” pesan Ning Uswah.

Pesan tersebut menegaskan tanggung jawab pendidik untuk mempersiapkan masa depan santri dengan memperhatikan keselamatan, perkembangan, dan kesejahteraan mereka.

“Pesantren perlu membangun lingkungan yang mendukung perkembangan ilmu, menjaga martabat peserta didik, dan mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan keislaman,” katanya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.