Prof. Rokhmin Dorong Hilirisasi Laut, Dari Komoditas menuju Produk Bernilai Tinggi

Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. saat memaparkan materi tentang ekonomi biru dalam The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference (MaCiFIC) 2026 di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Jumat (2/10/2026). DOK UMRAH/IKHBAR

Ikhbar.com: Guru Besar Emeritus Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan, IPB University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. mendorong penguatan hilirisasi hasil laut agar Indonesia tidak berhenti pada penjualan komoditas bernilai rendah. Menurut Prof. Rokhmin, pengembangan teknologi pengolahan dan bioteknologi kelautan dapat membuka lebih banyak produk bernilai tambah dari sumber daya laut.

Gagasan tersebut disampaikan dalam The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference (MaCiFIC) 2026 di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Dalam konferensi yang digelar Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) itu, Prof. Rokhmin membawakan materi “Blue Economy: A Gamechanger for Achieving Golden Indonesia 2045 and a Better World. Ekonomi Biru: Pengubah Permainan untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan Dunia yang Lebih Baik”.

“Indonesia harus mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas bahan mentah bernilai rendah,” kata Prof. Rokhmin, Jumat, 2 Oktober 2026.

Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. saat memaparkan materi tentang ekonomi biru dalam The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference (MaCiFIC) 2026 di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Jumat (2/10/2026). DOK UMRAH/IKHBAR

Baca: Prof. Rokhmin Tampil sebagai Pembicara Kunci di Hadapan Pakar Maritim Internasional

Menurut Prof. Rokhmin, hilirisasi membuka ruang bagi sumber daya kelautan untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Materi presentasinya mencantumkan beragam produk turunan, mulai dari pangan fungsional, protein, minyak ikan, omega-3, kolagen, gelatin, kitin, kitosan, peptida bioaktif, farmasi, nutraseutikal, kosmetik, biomaterial, pupuk, pakan, hingga produk biorefinery.

Salah satu komoditas yang mendapat perhatian adalah rumput laut. Dalam materi tersebut disebutkan Indonesia menghasilkan sekitar 10,7 juta ton rumput laut basah pada 2023. Namun, ekspor masih didominasi rumput laut kering sebesar 66,61 persen. Materi juga mencantumkan potensi pasar produk hilir rumput laut pada 2030 sebesar USD11,8 miliar (setara Rp211,2 triliun berdasarkan kurs Rp17.898,00 per USD pada 2 Oktober 2026).

“Rumput laut tidak boleh hanya dipandang sebagai biomassa kering,” ujar Prof. Rokhmin.

Pengembangan produk turunan rumput laut dapat mencakup hidrokoloid, bahan pangan, kosmetik, farmasi, biomaterial, biofertilizer, hingga bioenergi. Dengan pengolahan lebih lanjut, bahan yang sebelumnya dipasarkan sebagai komoditas dapat masuk ke rantai industri dengan nilai tambah lebih besar.

“Potensi hilir rumput laut mencakup hidrokoloid, bahan pangan, kosmetik, farmasi, biomaterial, biofertilizer, hingga bioenergi,” jelas Prof. Rokhmin.

Baca: Prof. Rokhmin: Ekonomi Biru Bisa Jadi Penggerak Indonesia Emas 2045

Hilirisasi juga dikaitkan dengan pemanfaatan limbah. Dalam materi presentasi, limbah hasil pengolahan laut disebut dapat digunakan kembali sebagai bahan baku bioindustri. Pendekatan tersebut menghubungkan pengolahan hasil laut dengan ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.

“Limbah pengolahan hasil laut dapat menjadi bahan baku bagi bioindustri sirkular,” tutur Anggota Komisi IV DPR RI tersebut.

Selain pengolahan, bioteknologi kelautan menjadi bagian penting dari gagasan tersebut. Materi memaparkan penerapan bioteknologi pada pangan, farmasi, kosmetik, biomaterial, biofuel, bioremediasi, serta pengembangan bibit dan organisme perairan yang berkualitas.

Pendekatan tersebut memperluas posisi laut dari sumber bahan mentah menjadi basis pengembangan produk berbasis pengetahuan dan teknologi. Perubahan tersebut juga membutuhkan dukungan riset, industri, investasi, serta sumber daya manusia dengan kemampuan yang sesuai.

“Inilah cara Indonesia bergerak dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis inovasi,” pungkas Prof. Rokhmin.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.