Prof. Mahfud Ungkap Peran Besar Pesantren dalam Berdirinya NKRI

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) periode 2019–2024, Prof. Dr. Mahfud MD dalam Talkshow Kepesantrenan dan Kebangsaan yang digelar dalam rangka Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren di Graha Mbah Muqoyyim, Buntet Pesantren, Kabupaten Cirebon, Rabu, 29 Juli 2026. Foto: Buntet Pesantren

Ikhbar.com: Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) periode 2019–2024, Prof. Dr. Mahfud MD menegaskan bahwa pesantren merupakan salah satu pilar utama dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Menurutnya, pesantren tidak hanya berperan dalam melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tetapi juga mempertahankan kemerdekaan dan terus menjaga moral masyarakat hingga saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Mahfud saat menjadi narasumber dalam Talkshow Kepesantrenan dan Kebangsaan bertajuk Tradisi Pesantren sebagai Prinsip Moralitas di Era Modern yang digelar dalam rangka Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren di Graha Mbah Muqoyyim, Buntet Pesantren, Kabupaten Cirebon, Rabu, 29 Juli 2026.

Menurut Prof. Mahfud, sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kontribusi pesantren. Lembaga pendidikan Islam itu telah melahirkan ulama yang mendirikan organisasi keagamaan, membina masyarakat, ikut memperjuangkan kemerdekaan, hingga mempertahankan Indonesia melalui Resolusi Jihad.

Baca: Prof. Mahfud MD Dukung MUI Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor

“Perjalanan pesantren dimulai dari mendirikan organisasi, membina masyarakat, ikut melahirkan negara, kemudian mempertahankan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setelah Indonesia merdeka para ulama tidak berlomba-lomba mengisi jabatan pemerintahan. Mereka justru kembali ke pesantren untuk melanjutkan pengabdian melalui pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat.

Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa para kiai lebih mengutamakan kepentingan bangsa daripada kekuasaan politik. Pesantren memilih membangun sumber daya manusia sebagai fondasi kemajuan Indonesia.

Meski demikian, Prof. Mahfud mengungkapkan bahwa pada awal kemerdekaan lulusan pesantren belum banyak terlibat dalam pemerintahan. Kondisi itu merupakan dampak dari politik pendidikan pemerintah kolonial Belanda yang mengisolasi pendidikan pesantren sehingga ijazahnya tidak diakui sebagai syarat memasuki birokrasi.

“Orang-orang pesantren yang berjuang memerdekakan Indonesia saat itu tidak memiliki ijazah yang diakui pemerintah. Politik pendidikan Belanda memang membuat lulusan pesantren tidak dapat mengisi jabatan pemerintahan meskipun memiliki kemampuan,” katanya.

Ia menuturkan, situasi tersebut memunculkan dua respons di kalangan umat Islam. Sebagian memilih jalan perlawanan, sementara sebagian lainnya memperkuat pendidikan sebagai ikhtiar jangka panjang untuk membangun bangsa.

Prof. Mahfud menilai, pilihan mengembangkan pendidikan terbukti membawa dampak besar terhadap kemajuan pesantren. Perkembangan itu semakin terlihat ketika pendidikan pesantren mulai bertransformasi dan mampu melahirkan generasi yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan.

Pada akhir pemaparannya, Prof. Mahfud mengingatkan bahwa bangsa Indonesia saat ini menghadapi tantangan berupa degradasi moral. Karena itu, nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan pesantren tetap relevan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan berbangsa.

“Pesantren membawa pesan moral. Nilai-nilai yang diajarkan para kiai harus diaktualisasikan karena bangsa ini sedang mengalami degradasi moral. Tradisi pesantren yang penuh kejujuran, keakraban, dan ketulusan perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sekarang,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.