PBNU Libatkan Pengasuh Pesantren Susun Modul Kesehatan Reproduksi Santri

Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri yang digelar Gerakan Maslahat Keluarga Nahdlatul Ulama (GKMNU) di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin, 20 Juli 2026. Foto: PBNU

Ikhbar.com: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melibatkan pengasuh pesantren dalam penyusunan modul pendidikan kesehatan reproduksi santri. Modul tersebut dirancang dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter, nilai, dan kebutuhan lingkungan pesantren.

Penyusunan modul dilakukan melalui Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri yang digelar Gerakan Maslahat Keluarga Nahdlatul Ulama (GKMNU) di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin, 20 Juli 2026.

Pengasuh pesantren dari Jawa Barat dan Jawa Tengah dilibatkan dalam proses tersebut karena dinilai memiliki peran penting dalam mendidik, membimbing, dan membentuk karakter santri.

Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Ny. Hj. Alissa Qatrunnada Wahid mengatakan, penyusunan pendidikan kesehatan reproduksi harus berangkat dari pengalaman serta kebutuhan nyata di lingkungan pesantren.

“Kalau kita mau membuat pendidikan kesehatan reproduksi untuk santri, mau tidak mau kita harus mulai dengan para pengasuh. Mereka yang punya wewenang terbesar untuk mendidik dan mengasuh para santri,” kata Ny. Alissa.

Baca: PBNU Tekankan Transformasi Pesantren dari Kurikulum hingga Tata Kelola

Menurutnya, pengasuh pesantren memiliki pemahaman yang kuat terhadap karakter dan budaya pesantren. Pemahaman tersebut menjadi dasar penting untuk merumuskan pendekatan pendidikan kesehatan reproduksi yang sesuai dengan nilai-nilai kepesantrenan.

“Yang tahu model pendidikan kesehatan reproduksi paling tepat untuk pesantren adalah para Gus dan Ning. Karena itu, dalam rangka menyusun pendekatannya, kita melibatkan para Gus dan Ning,” ujarnya.

Ia berharap, pemahaman para pengasuh terhadap pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi dapat mendorong lahirnya gerakan di masing-masing pesantren. Ia menyebut pengembangan program tersebut dapat dilakukan secara mandiri sesuai kebutuhan setiap pesantren.

“Kalau para pengasuh, para Gus dan Ning, sudah memahami betapa kompleksnya situasi ini, insyaallah gerakannya bisa dibuat sendiri oleh para Gus dan Ning, tidak harus menunggu PBNU,” katanya.

Halaqah tersebut menjadi tahap awal dalam rangkaian penyusunan modul pendidikan kesehatan reproduksi santri. Setelah memperoleh masukan dari para pengasuh, PBNU akan melanjutkan proses tersebut ke tahap implementasi di lingkungan pesantren.

“Kita akan melakukan beberapa kali pelibatan seperti ini. Setelah itu kita masuk ke tahap pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren. Jadi, akan ada tahapan-tahapan yang berlanjut,” jelas dia.

PBNU juga berencana bersilaturahmi dengan para sesepuh pesantren untuk meminta restu dan dukungan. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menjelaskan konsep pendidikan kesehatan reproduksi agar tidak dipahami melalui stigma negatif.

“Kita juga akan sowan kepada kiai dan nyai sepuh untuk mendapatkan restu, dukungan, serta menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi tidak seperti stigma yang selama ini ada,” tuturnya.

Ia menjelaskan, berbagai pandangan dan usulan yang muncul dalam halaqah akan dihimpun dan dirumuskan menjadi modul. Modul tersebut selanjutnya akan digunakan dalam berbagai kegiatan pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren.

“Acara halaqah bersama para pengasuh pesantren ini merangkum usulan dan pandangan dari para Gus, para Ning, dan para Nyai. Setelah itu akan kita bentuk dalam sebuah modul yang nanti diaplikasikan di berbagai kegiatan,” pungkasnya.

Sementara itu, Penyusun Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri, KH Faqihuddin Abdul Kodir menilai, pengasuh pesantren memiliki posisi strategis dalam menentukan keberhasilan penerapan pendidikan kesehatan reproduksi.

Menurut Kiai Faqih, pengaruh pengasuh tidak hanya menjangkau santri, tetapi juga ustaz dan ustazah, musyrif dan musyrifah, alumni, keluarga, hingga arah pengembangan kurikulum pesantren.

“Pengasuh memiliki pengaruh yang sangat besar, bukan hanya kepada santri, tetapi juga kepada ustaz-ustazah, musyrif dan musyrifah, alumni, keluarga, hingga arah kurikulum pesantren,” ujarnya.

Karena itu, Kiai Faqih menilai para pengasuh perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai amanah, khidmah, dan kemaslahatan yang menjadi bagian dari peran pesantren.

Ia menjelaskan, pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren memiliki cakupan yang luas. Materinya tidak hanya berkaitan dengan pencegahan kekerasan seksual, tetapi juga mencakup perkembangan remaja secara menyeluruh.

“Materi tersebut perlu membantu santri memahami perubahan biologis dan psikologis, mengenali dirinya, menjaga kesehatan, serta membangun relasi yang sehat dan menghormati orang lain,” kata Kiai Faqih.

Pemahaman tersebut kemudian dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk pendidikan di pesantren, seperti kurikulum, peraturan, ceramah, dan materi pembelajaran.

Ia menilai, para pengasuh yang mengikuti halaqah telah memiliki kesadaran mengenai pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi. Tahap berikutnya adalah menerjemahkan kesadaran tersebut ke dalam program dan langkah konkret di masing-masing pesantren.

“Saya melihat kesadarannya sudah ada. Tinggal bagaimana diwujudkan menjadi kurikulum, modul pendidikan, dan langkah konkret dalam menghadapi tantangan di lapangan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, KH Muhammad bin Ja’far atau Kang Muhammad BJ, menyambut baik pelaksanaan Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri yang digelar GKMNU.

Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pemahaman kepada para pengambil kebijakan di pesantren sekaligus mendorong pengembangan program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan santri.

“Ini acara yang sangat bagus dan positif untuk memberikan pencerahan kepada para pengambil kebijakan di pesantren. Sekaligus mengedukasi dan mengadvokasi bagaimana ke depan pesantren terus melakukan inovasi,” ujar Kiai Muhammad.

Kiai Muhammad menegaskan pentingnya inovasi bagi pesantren dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Pengembangan tersebut tetap harus mempertahankan karakter dan manhaj yang menjadi dasar pesantren.

“Pesantren perlu terus melakukan inovasi tanpa menghilangkan karakteristik atau manhaj yang asasi bagi pesantren tersebut,” katanya.

Ia berharap program pendidikan kesehatan reproduksi yang diinisiasi PBNU dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak pesantren.

“Siapa pun pimpinan PBNU, kita yang berada di akar rumput pesantren harus terus melakukan gerakan demi kemaslahatan dan keberlangsungan pesantren pada masa yang akan datang,” ucapnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.