Ikhbar.com: Menteri Agama (Menag) Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kerukunan menjadi salah satu kekuatan penting Indonesia dalam menghadapi dinamika global. Pengalaman bangsa Indonesia dalam mengelola keberagaman dinilai menjadi modal untuk membangun komunikasi yang terbuka dan konstruktif di tengah perbedaan kepentingan antarnegara.
Menag mengatakan, prinsip politik luar negeri bebas aktif memberi Indonesia ruang untuk menjalin komunikasi dengan berbagai pihak. Prinsip tersebut juga memungkinkan Indonesia mengambil sikap dan peran secara konstruktif dalam menghadapi perkembangan geopolitik dunia.
“Kita selalu menempuh politik jalan tengah. Kita bisa dekat dan berkomunikasi dengan siapa pun karena politik bebas aktif sebagaimana dituntunkan dalam Undang-Undang Dasar 1945,” ujar Menag saat menjadi narasumber Podcast Open The Door di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), sebagaimana tayang pada Ahad, 19 Juli 2026.
Menurut Menag, politik jalan tengah tidak berarti Indonesia bersikap pasif dalam menghadapi persoalan internasional. Indonesia tetap dapat menyampaikan pandangan, membuka komunikasi, dan berkontribusi dalam penyelesaian masalah tanpa memperbesar ketegangan.
Prof Nasar, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya menghadirkan suasana yang menenangkan dalam hubungan internasional. Pendekatan tersebut dinilai diperlukan terutama ketika berbagai pihak menghadapi konflik dan perbedaan kepentingan.
Baca: Menag Luncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman di Pesantren dan Madrasah
“Konflik itu tidak bisa diselesaikan dengan bensin, tetapi harus disiram dengan air kesejukan,” tuturnya.
Menag kemudian menjelaskan bahwa kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman menjadi salah satu karakter penting bangsa Indonesia. Perbedaan agama, suku, bahasa, dan budaya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia yang dipersatukan oleh fondasi kebangsaan.
Ia menyebut Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai dasar penting dalam menjaga persatuan. Karena itu, Menag mengingatkan generasi muda untuk mempertahankan prinsip dasar tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Saya berharap generasi kita sekarang ini dan generasi akan datang betul-betul mempertahankan prinsip dasar NKRI dengan falsafah Pancasila,” kata Menag.
Kondisi kerukunan umat beragama di Indonesia juga tercermin dalam hasil Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025. Berdasarkan pengukuran nasional, indeks tersebut mencapai 77,89 dan masuk kategori tinggi.
Menag turut mengaitkan karakter keterbukaan masyarakat Indonesia dengan budaya maritim Nusantara. Menurutnya, kehidupan masyarakat yang tumbuh di wilayah kepulauan membentuk sikap adaptif serta kemampuan untuk berinteraksi dengan berbagai pihak.
Ia menggambarkan nilai tersebut melalui falsafah masyarakat pesisir yang memberi ruang bagi perahu untuk bertambat, air untuk dimanfaatkan, dan api untuk dibagi. Nilai itu, menurutnya, mencerminkan keterbukaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Menag juga mengajak generasi muda untuk belajar dari para pendiri bangsa dan tokoh organisasi kemasyarakatan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Kemampuan beradaptasi dan membangun kesepakatan di tengah perbedaan dinilai penting dalam menjaga karakter kebangsaan Indonesia.
Menag menegaskan, pengalaman Indonesia dalam merawat kerukunan dan keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun komunikasi di tingkat internasional. Kerukunan, politik luar negeri bebas aktif, dan kemampuan hidup bersama menjadi bagian penting dari peran Indonesia dalam menjaga hubungan yang konstruktif di tengah perbedaan.