Ikhbar.com: Di tengah pembatasan akses pendidikan bagi perempuan, masyarakat Afghanistan terus mengupayakan berbagai cara agar anak perempuan tetap dapat belajar. Aktivis hak asasi manusia (HAM) Afghanistan, Shaharzad Akbar, menjelaskan bahwa upaya tersebut dilakukan melalui kelas di rumah, pendidikan daring, sekolah jarak jauh, hingga pembelajaran berbasis WhatsApp yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dalam acara SUPI International Guest Lecture bertema “Understanding the Situation of Women & Children in Afghanistan” yang digelar secara hybrid di Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Cirebon itu, Akbar mengatakan bahwa sebagian masyarakat menyelenggarakan pendidikan di rumah yang dalam kondisi tertentu menyerupai sekolah rahasia.
“Anak-anak perempuan dari lingkungan sekitar atau komunitas yang saling mengenal dan percaya berkumpul di rumah salah seorang warga. Mereka kemudian belajar dengan bimbingan ibu, ayah, atau anggota masyarakat lain yang memiliki pendidikan,” katanya, Selasa, 20 Oktober 2026.

Baca: Sarjana Ulama Perempuan ISIF Cirebon Bahas Nasib Anak dan Perempuan bersama Aktivis HAM Afghanistan
Melalui cara tersebut, kegiatan belajar tetap berlangsung meskipun harus dilakukan secara tersembunyi. Inisiatif ini memperlihatkan peran komunitas dalam mempertahankan kesempatan belajar ketika jalur pendidikan yang tersedia bagi anak perempuan menghadapi pembatasan.
Selain kelas di rumah, pendidikan daring menjadi pilihan lain. Akbar menjelaskan bahwa warga Afghanistan yang tinggal di luar negeri atau komunitas diaspora menjalankan universitas daring, sekolah daring, dan berbagai program pendidikan jarak jauh. Program-program tersebut membuka alternatif bagi anak perempuan untuk melanjutkan pembelajaran di luar sistem tatap muka yang sulit mereka akses.
Namun, pendidikan daring tidak dapat dijangkau semua orang. Akbar menekankan bahwa kesempatan ini bergantung pada kemampuan keluarga membeli telepon pintar dan membayar biaya internet.
“Karena keterbatasan ekonomi dan akses teknologi, jumlah anak perempuan yang dapat memanfaatkan jalur tersebut masih terbatas,” katanya.
Baca: Aktivis Afghanistan Ungkap Kelangkaan Dokter dan Bidan Dampak Pembatasan Pendidikan bagi Perempuan
Hambatan itu menunjukkan bahwa tersedianya program daring belum otomatis menjamin akses pendidikan yang merata. Anak perempuan yang tidak memiliki perangkat atau tidak mampu membayar internet tetap menghadapi kesulitan. Karena itu, strategi pendidikan alternatif perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga dan ketersediaan infrastruktur, bukan hanya keberadaan teknologi.
Akbar juga memaparkan adanya program pembelajaran berbasis WhatsApp yang disediakan oleh sebuah organisasi nonpemerintah. Melalui program tersebut, anak perempuan dapat mengikuti kurikulum sekolah dengan memanfaatkan aplikasi pesan tersebut. Program ini juga menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai bagian dari metode pembelajarannya.
Pemanfaatan WhatsApp dan AI menunjukkan bagaimana teknologi yang relatif mudah diakses dapat digunakan untuk mempertahankan proses belajar. Namun, Akbar tidak menggambarkan teknologi sebagai pengganti sempurna bagi sekolah. Berbagai cara tersebut merupakan upaya masyarakat untuk menjaga kesempatan pendidikan dalam situasi yang membatasi pilihan anak perempuan.
Di luar program yang berjalan di dalam Afghanistan, dukungan juga dapat diberikan melalui pendidikan jarak jauh, pendampingan, dan kontribusi pengetahuan. Dalam jawabannya kepada peserta, Akbar mendorong masyarakat internasional untuk membantu sesuai kemampuan, termasuk melalui waktu, keterampilan, dan keahlian yang dimiliki.
Ia menjelaskan bahwa kontribusi tidak selalu harus berupa bantuan besar. Pengajaran sukarela dan pendampingan dapat menjadi salah satu bentuk dukungan bagi anak perempuan yang masih berusaha memperoleh pendidikan. Meski demikian, bentuk bantuan perlu disesuaikan dengan kebutuhan program dan memperhatikan keamanan penerima manfaat.
Akbar juga menjelaskan upaya memperoleh beasiswa bagi perempuan Afghanistan agar dapat melanjutkan pendidikan di berbagai universitas di dunia.
“Namun, upaya itu menghadapi hambatan karena perempuan disebut tidak diizinkan meninggalkan Afghanistan tanpa mahram,” keluh Akbar.
Ia menceritakan bahwa sebagian perempuan sudah berusaha mencari jalur perjalanan melalui negara lain.
“Tetapi ada pula mahasiswa yang telah memperoleh beasiswa akan tetapi tetap ditolak keberangkatannya di bandara,” pungkasnya.
Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.