Kiai Maman: Kampus Islam Harus Jadi Penggerak Perubahan

Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. KH Maman Imanulhaq saat menghadiri kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) bertema Transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam melalui Penguatan Mutu, Inovasi Riset, dan Daya Saing Global di Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Senin, 19 Oktober 2026. Foto: Istimewa

Ikhbar.com: Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. KH Maman Imanulhaq meminta perguruan tinggi keagamaan Islam harus mampu menjadi penggerak perubahan melalui penguatan mutu akademik, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Kampus juga perlu meningkatkan daya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan tanggung jawab kemanusiaan.

Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Maman dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) bertema Transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam melalui Penguatan Mutu, Inovasi Riset, dan Daya Saing Global di Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Senin, 19 Oktober 2026.

Dalam materi presentasinya, sosok yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka itu menekankan bahwa perguruan tinggi perlu merespons perubahan teknologi, perkembangan kebutuhan masyarakat, dan persaingan global. Kampus harus mampu menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak boleh sekadar menjadi penonton perubahan. Kampus harus mampu membaca masa depan, menciptakan inovasi, membangun ekosistem riset, dan menghadirkan kemaslahatan bagi kemanusiaan,” katanya.

Kiai Maman menempatkan mutu akademik sebagai salah satu fondasi utama transformasi perguruan tinggi keagamaan Islam. Penguatan tersebut mencakup pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja, pembelajaran inovatif, peningkatan kompetensi lulusan, serta penyediaan layanan akademik yang berkualitas.

Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran juga menjadi bagian dari agenda tersebut. Kiai Maman menyoroti penerapan blended learning atau pembelajaran campuran, artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan, serta pembelajaran berbasis proyek untuk meningkatkan kualitas proses pendidikan.

Menurutnya, mutu akademik perlu menjadi budaya institusi, bukan berhenti pada pemenuhan persyaratan administrasi dan akreditasi. Perguruan tinggi juga perlu meningkatkan kemampuan dosen dan tenaga kependidikan agar mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan mahasiswa.

Baca: Kiai Maman Minta Indonesia Sikapi Larangan Jilbab di Azerbaijan

“Di bidang penelitian, penguatan riset diarahkan pada persoalan strategis yang berkaitan dengan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Hasil penelitian perlu dikembangkan menjadi inovasi, produk, maupun rekomendasi kebijakan yang dapat dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Kiai Maman juga menyoroti pentingnya peningkatan jumlah dan kualitas publikasi ilmiah. Perguruan tinggi perlu memetakan tema penelitian prioritas, memperkuat ekosistem riset, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Kampus, industri, pemerintah, pesantren, dan masyarakat, menurutnya perlu terhubung dalam kolaborasi ilmu pengetahuan, sebagaimana ditekankan dalam materi presentasiny,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa transformasi digital menjadi bagian penting dalam pengembangan perguruan tinggi keagamaan Islam. Penguatan infrastruktur digital dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas sistem informasi, layanan akademik, penelitian, dan tata kelola institusi.

“Pemanfaatan kecerdasan buatan juga perlu disertai peningkatan literasi digital bagi dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan. Selain itu, keamanan serta etika penggunaan teknologi harus diperhatikan agar pemanfaatannya tetap bertanggung jawab dan sejalan dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Kiai Maman menegaskan, teknologi dan inovasi bukanlah tujuan akhir. Keduanya merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan, pelayanan pendidikan, dan manfaat perguruan tinggi bagi masyarakat.

“Karena itu, keberhasilan transformasi kampus perlu dilihat dari kontribusinya dalam menyelesaikan persoalan nyata. Pengembangan teknologi harus berjalan seiring dengan upaya memperkuat kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya.

Kiai Maman turut menyoroti pentingnya internasionalisasi untuk memperkuat posisi perguruan tinggi Islam dalam lingkungan akademik global. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama internasional, program gelar bersama, pertukaran mahasiswa, serta penelitian kolaboratif.

“Pengembangan program studi berorientasi global dan penggunaan bahasa Inggris juga menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya tarik perguruan tinggi Islam bagi mahasiswa asing,” katanya.

Kiai Maman turut membahas pemeringkatan perguruan tinggi, reputasi ilmiah, publikasi, inovasi, dan keberlanjutan lingkungan. Indikator tersebut dapat digunakan untuk menilai perkembangan institusi, tetapi perlu diikuti kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi keagamaan Islam juga diharapkan memperkuat pemberdayaan masyarakat berbasis riset dan kearifan lokal. Hubungan dengan pesantren dan komunitas Muslim perlu dikembangkan melalui pendidikan, penelitian, serta layanan sosial,” katanya.

Selain itu, kata Kiai Maman, pengembangan kampus hijau, keadilan sosial, dan inklusi menjadi bagian dari agenda transformasi. Perguruan tinggi diharapkan berperan dalam meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga martabat manusia.

Agenda transformasi yang dipaparkan Kiai Maman mencakup penguatan tata kelola dan akuntabilitas, peningkatan mutu serta akreditasi program studi, pengembangan sumber daya manusia, dan perluasan kemitraan strategis.

Perguruan tinggi juga perlu meningkatkan produktivitas penelitian, memperluas jejaring nasional dan internasional, serta memperkuat dampak pengabdian kepada masyarakat. Digitalisasi tata kelola diharapkan mendukung efisiensi layanan dan peningkatan kinerja institusi.

Melalui berbagai langkah tersebut, perguruan tinggi keagamaan Islam diharapkan berkembang menjadi pusat keunggulan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan inovasi. Penguatan daya saing global perlu berjalan beriringan dengan komitmen terhadap nilai-nilai Islam dan kepentingan masyarakat.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.