Ikhbar.com: Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy Leler Banyumas, Jawa Tengah, KH Zuhrul Anam Hisyam mengingatkan para penghafal Al-Qur’an agar menjaga hafalan sepanjang hayat. Menurutnya, predikat hafiz dan hafizah merupakan kemuliaan yang harus disertai tanggung jawab untuk terus membaca, mengulang, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Pesan tersebut disampaikan dalam Haflah Khatmil Qur’an dan Haul Ke-78 KH R. Muhammad Mahfudz At-Tarmasi di Pondok Pesantren Bustanu Usysyaqil Qur’an (BUQ) Betengan, Demak, Jawa Tengah, Jumat, 6 November 2026.
Sosok yang karib disapa Gus Anam itu menjelaskan, kedudukan ahli Al-Qur’an sangat istimewa dalam ajaran Islam. Rasulullah saw menyebut ahli Al-Qur’an sebagai keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya. Kemuliaan tersebut berkaitan dengan kedekatan seseorang terhadap kitab suci, baik melalui bacaan, hafalan, pembelajaran, maupun pengamalan.
“Jangan sampai seseorang pernah menyandang gelar penghafal Al-Qur’an, tetapi kemudian meninggalkan hafalannya. Setelah khatam, tugas berikutnya adalah menjaga hafalan dengan murajaah alias mengulang hafalan secara istikamah,” ujar menantu KH Maimun Zubair itu.
Baca: Mendeteksi ‘Virus’ dalam Tradisi Tafsir Al-Qur’an
Ia mengingatkan bahwa jabatan dan kedudukan duniawi memiliki batas waktu. Jabatan kepala desa, camat, bupati, hingga presiden dapat berakhir. Sementara itu, kemuliaan sebagai ahli Al-Qur’an diharapkan menjadi bekal hingga kehidupan akhirat selama seseorang menjaga amanah kitab suci.
Karena itu, para khatimin dan khatimat perlu membangun kebiasaan murajaah setiap hari. Hafalan harus terus diperiksa, disimak, dan diperbaiki agar tidak melemah karena jarang dibaca.
Gus Anam juga meminta para wali santri tetap mengawasi kegiatan mengaji putra-putrinya setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Orang tua perlu memastikan anak-anak tetap memiliki waktu khusus untuk mengulang hafalan dan membaca Al-Qur’an.
“Pastikan mereka tetap memiliki jadwal murajaah dan kegiatan mengaji. Jangan sampai kebiasaan baik yang sudah dibangun selama di pesantren terhenti setelah pulang ke rumah,” ujarnya.
Ia turut mengapresiasi peserta khataman dari kalangan ibu-ibu dan warga lanjut usia yang tetap bersemangat mengikuti pembelajaran Al-Qur’an. Semangat tersebut menunjukkan bahwa proses mendekatkan diri kepada kitab suci dapat terus dilakukan sepanjang usia.
Gus Anam berharap, kegiatan khataman dapat melahirkan semakin banyak generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya menyelesaikan hafalan, tetapi juga menjaga bacaan, memperbaiki akhlak, dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Para khatimin dan khatimat hendaknya terus murajaah, menjaga bacaan, memperbaiki akhlak, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan,” pungkasnya.