‘Semua Burger Milik Allah’? Begini Penjelasan Tasawuf dan Pendapat Ulama Sufi

Tagline nyeleneh “rotinya lembut dagingnya juicy lucy mahalini rizky febian bisa pesan online” hingga berpuncak pada satu kalimat sederhana, “Semua burger milik Allah.”
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Fenomena artis Aldi Taher belakangan ini sulit diabaikan. Lewat kedai “Aldi’s Burger”, ia menjual makanan sekaligus membangun narasi. Tagline nyeleneh “rotinya lembut dagingnya juicy lucy mahalini rizky febian bisa pesan online” ditambah gaya santainya mempromosikan kompetitor membuat publik terhibur sekaligus bertanya. Puncaknya ada pada satu kalimat sederhana, “Semua burger milik Allah.”

Kalimat tersebut terdengar ringan, bahkan seperti sekadar gimmick. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, redaksi itu mampu menyentuh hingga ke pokok teologi Islam, mulai dari kepemilikan, rezeki, kehendak Tuhan, hingga posisi amal manusia. Dengan sudut pandang ini, jargon tersebut dapat dibaca sebagai pintu masuk untuk meninjau kembali ajaran tauhid, tasawuf, dan kerangka berpikir mazhab Ahlussunnah wal Jamaah.

Baca: ‘Wajarlah Manusia, Bukan Nabi, Boy!’ Benarkah Para Rasul Terbebas dari Dosa?

Hakikat kepemilikan

Dalam Islam, konsep kepemilikan tidak bertumpu pada manusia. Prinsip dasarnya adalah al-mulku lillah, bahwa seluruh kepemilikan hakiki berada pada Allah Swt.

Dalam QS. Al-Mulk: 1, Allah Swt berfirman:

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ

“Maha Berkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Pada ayat lainnya, Allah Swt juga berfirman:

لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا فِيْهِنَّ ۗوَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang ada di dalamnya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ayat-ayat tersebut tidak memberi ruang bagi klaim kepemilikan absolut manusia. Segala sesuatu yang tampak dimiliki, seperti harta, usaha, hingga produk seperti burger, pada dasarnya merupakan titipan. Di sinilah konsep istikhlaf bekerja, manusia berperan sebagai pengelola, bukan pemilik sejati.

Kepemilikan manusia bersifat relatif, sementara, dan bergantung pada izin syariat. Kepemilikan dapat hilang kapan saja, terutama saat kematian. Sebaliknya, kepemilikan Allah Swt bersifat mutlak, tidak terbatas, dan tidak berpindah.

Dalam konteks ini, kalimat “Semua burger milik Allah” dapat dibaca sebagai kritik terhadap cara pandang materialistik. Kalimat tersebut menggoyahkan anggapan bahwa manusia sepenuhnya menguasai hasil usahanya.

Baca: Analogi Masuk Akal Ikhtiar dan Tawakal ala Buya Said Aqil

Rezeki, tawakal, dan kebebasan dari ambisi

Jika tauhid menjadi fondasi, tasawuf memberi dimensi penghayatan. Di sini, kalimat Aldi Taher memperoleh kedalaman makna.

Dalam Al-Hikam, Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari menulis:

إِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيلٌ عَلَىٰ انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ

“Kesungguhanmu pada sesuatu yang telah dijamin bagimu, dan kelalaianmu pada apa yang dituntut darimu, adalah tanda butanya mata hati.”

Dalam pandangan tasawuf, rezeki telah ditakar dan tidak tertukar. Yang kerap terjadi, manusia justru sibuk mengejar hal yang sudah dijamin, sementara kewajiban yang dituntut sering terabaikan.

Sikap Aldi Taher yang santai terhadap kompetitor, bahkan ikut mempromosikan, dapat dipahami sebagai bentuk tawakal. Usaha tetap dilakukan, tetapi tidak menggantungkan diri pada hasil. Tidak tampak kecemasan berlebihan atau rasa terancam.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Muhammad Saw bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)

Tasawuf tidak menolak usaha, tetapi menolak keterikatan berlebihan pada hasil. Dunia boleh dikelola, tetapi tidak menguasai hati. Prinsip Aldi Taher bahwa “Semua burger milik Allah” dapat dipahami sebagai latihan sikap, yakni meredam ambisi yang berlebihan dan menumbuhkan ketenangan.

Baca: Hukum Menafkahi Keluarga dengan Hasil Judi Online

Bagaimana dengan yang haram?

Pertanyaan kritis pun mungkin muncul, jika semua milik Allah, lantas bagaimana dengan yang haram, burger berbahan babi, misalnya.

Ahlussunnah wal Jamaah menjawab dengan membedakan dua jenis kehendak Tuhan, iradah kauniyah dan iradah syar’iyyah.

Iradah kauniyah adalah kehendak penciptaan. Semua yang ada, baik atau buruk, terjadi dalam cakupan kehendak ini. Termasuk babi, maksiat, dan hal-hal yang diharamkan. Sementara iradah syar’iyyah lebih berkaitan dengan hukum. Dalam aspek ini, Allah hanya meridai yang baik dan halal.

Allah Swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Penjelasannya, sesuatu dapat termasuk dalam ciptaan Allah, tetapi tidak otomatis halal bagi manusia. Kepemilikan Allah Swt tidak menghapus ketentuan halal dan haram.

Di sinilah letak ujian manusia, yakni memilih dari berbagai kemungkinan yang tersedia. Allah Swt menciptakan semuanya, lalu menetapkan batas agar manusia tidak menyimpang.

Baca: Apakah Allah Pernah Tersenyum?

Ihwal kepemilikan amal

Persoalan berikutnya lebih halus, jika semua milik Allah, bagaimana dengan amal manusia?

Mazhab Ahlussunnah, melalui Imam Al-Asy’ari, menjelaskan konsep al-kasb.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan:

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ

“Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As-Saffat: 96)

Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan manusia berada dalam ciptaan Allah Swt. Namun, manusia tetap memiliki peran melalui kasb, yaitu keterlibatan dalam memilih dan melakukan perbuatan tersebut.

Di sinilah posisi tengah Ahlussunnah, tidak jatuh pada paham Jabariyah yang meniadakan peran manusia, dan tidak pula menganggap manusia sepenuhnya mandiri.

Perlu dibedakan antara gerakan yang terjadi tanpa pilihan dan tindakan yang disadari. Detak jantung bukan amal, sedangkan bekerja, beribadah, atau membuat burger termasuk tindakan yang melibatkan kehendak.

Ketika disebut “amal milik manusia”, yang dimaksud adalah tanggung jawab, bukan penciptaan. Manusia tidak menciptakan amal, tetapi memilihnya dan menanggung konsekuensinya.

Kalimat “Semua burger milik Allah” ternyata menyimpan makna yang luas. Jargon itu selaras dengan ajaran tauhid tentang kepemilikan mutlak Tuhan, sejalan dengan tasawuf dalam hal tawakal, tidak bertentangan dengan syariat halal-haram, serta konsisten dengan teori amal dalam teologi Asy’ariyah.

Di balik kesan santai, terdapat pelajaran yang kuat. Dunia dijalani, tetapi tidak dimiliki sepenuhnya. Apa pun yang berada dalam genggaman manusia, seperti usaha, harta, hingga amal, tetap berada dalam lingkup kehendak Allah.

Kalimat sederhana tersebut membuka ruang pemahaman tentang hubungan manusia dengan Tuhan, yakni bekerja tanpa kesombongan dan mengelola tanpa merasa memiliki.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.