Ikhbar.com: Guru Besar Tafsir Universitas Al-Azhar, Mesir, Prof. Dr. Muhammad Salim Abu ‘Ashi, menekankan pentingnya mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah di lingkungan pesantren. Menurutnya, proses belajar perlu mencakup kegiatan meneliti, bertanya, dan menguji argumentasi, selain membaca dan menghafal.
Prof. Abu ‘Ashi mengangkat kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang disebut pernah meninggalkan majelis hadis Sufyan ats-Tsauri untuk belajar kepada Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i. Kisah tersebut menjadi ilustrasi tentang pentingnya ketajaman berpikir dan kedalaman penalaran dalam tradisi keilmuan Islam.
Keputusan Imam Ahmad itu menimbulkan pertanyaan karena Sufyan ats-Tsauri dikenal sebagai imam besar dalam bidang hadis. Dalam kisah yang disampaikan Prof. Abu ‘Ashi, Imam Ahmad kemudian menjelaskan alasan yang berkaitan dengan perbedaan antara memperoleh hadis melalui jalur periwayatan dan mempelajari kemampuan berpikir seorang ulama.
“Hadis yang terlewat masih mungkin diperoleh melalui jalur lain, meskipun kualitas atau kedudukan sanadnya berbeda. Sebaliknya, kesempatan mempelajari ketajaman penalaran seorang ulama tidak selalu dapat digantikan ketika kesempatan itu telah berlalu,” kata Prof. Abu ‘Ashi saat menjelaskan kisah Imam Ahmad dalam Daurah Ilmiyyah dan Muhadloroh ‘Ammah bertema Ad-Dakhil fi at-Tafsir di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Kamis, 15 Oktober 2026.
Baca: Tawarkan Beasiswa, Guru Besar Tafsir Al-Azhar Mesir Kunjungi Ponpes KHAS Kempek Cirebon
Kisah tersebut menunjukkan bahwa keluasan pengetahuan dan kemampuan mengembangkan penalaran merupakan dua aspek penting dalam pendidikan. Penguasaan bahan bacaan dan hafalan tetap diperlukan. Santri juga perlu memahami alasan di balik suatu pendapat, memeriksa dasar argumentasi, dan menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapi.
Prof. Abu ‘Ashi membedakan dua karakter ulama melalui ungkapan Arab. Pertama, ‘ilmuhu akbaru min ‘aqlihi, yang berarti ilmunya lebih besar daripada daya nalarnya. Kedua, ‘aqluhu akbaru min ‘ilmihi, yang berarti daya nalarnya lebih besar daripada pengetahuan yang telah dimilikinya.
Pembedaan tersebut menjelaskan dua cara seseorang berinteraksi dengan ilmu. Ada orang yang lebih banyak membaca, menghafal, dan mengulang pengetahuan yang telah diperoleh. Ada pula yang mengembangkan pengetahuan melalui penelitian, pertanyaan, pengujian argumentasi, dan pengaitan antargagasan.
Penjelasan itu bukan ajakan untuk meremehkan hafalan atau meninggalkan tradisi belajar kitab. Hafalan dan penguasaan sumber merupakan bagian penting dari pendidikan Islam. Hal yang perlu diperhatikan ialah bagaimana pengetahuan yang telah dikuasai dapat dipahami secara mendalam dan digunakan untuk menjawab persoalan.
Pesan tersebut berkaitan erat dengan tujuan pendidikan pesantren. Santri diharapkan mampu memahami metode yang digunakan para ulama dalam membangun pengetahuan, bukan hanya mengulang penjelasan guru. Dengan bekal itu, mereka dapat menelaah persoalan secara cermat tanpa kehilangan penghormatan terhadap tradisi keilmuan.
Dalam pembelajaran tafsir, kemampuan berpikir ilmiah diperlukan untuk memeriksa riwayat dan memahami bahasa Arab. Prof. Abu ‘Ashi menjelaskan bahwa penafsiran dapat bermasalah apabila bertumpu pada riwayat yang tidak memenuhi syarat penerimaan atau menggunakan penalaran yang menyimpang dari kaidah keilmuan.
“Karena itu, santri perlu mengembangkan kebiasaan membaca secara teliti, menyampaikan pertanyaan yang relevan, mencari rujukan, dan menilai kekuatan sebuah argumentasi. Keterampilan tersebut membantu mereka membedakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dari pendapat yang masih memerlukan pengujian,” ungkapnya.
Baca: Mendeteksi ‘Virus’ dalam Tradisi Tafsir Al-Qur’an
Melalui kisah Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi‘i, Prof. Abu ‘Ashi menekankan pentingnya kemampuan berpikir dalam proses belajar. Ilmu perlu dikembangkan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kalau kamu kehilangan cara berpikir, cara berkontemplasi akal yang sebesar Imam Syafi‘i, bagaimana mungkin kamu bisa menambalnya dengan akal yang levelnya jauh lebih rendah?” pungkas Prof. Abu ‘Ashi.