Lebaran Adalah Hari Ketidaktahuan Manusia

“Secara psikologis, orang biasanya takut ketika gagal dan tenang ketika berhasil. Tetapi, dalam spiritualitas Islam, justru kebalikannya,” ujar Gus Sobih.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Lebaran kerap dirayakan sebagai puncak kemenangan. Namun, di balik gema takbir dan suasana saling memaafkan, ada lapisan makna yang jarang disentuh. Manusia justru berada pada titik paling tidak mengetahui dirinya sendiri.

Pandangan itu disampaikan Founder sekaligus CEO Ikhbar Group, KH Sobih Adnan, dalam program Filosobih di Ikhbar TV.

Gus Sobih, sapaan akrabnya, mengajak melihat Idulfitri bukan sebagai penutup yang pasti, melainkan ruang tanya yang belum selesai.

Idulfitri memang paradoks yang tidak mudah dimengerti,” katanya, dikutip pada Jumat, 20 Maret 2026.

Baca: Pisah Sambut Puasa dan Raya

Paradoks hari raya

Idulfitri, menurutnya, terlalu sering disebut sebagai hari kemenangan.

“Bagi orang-orang awam seperti saya, hari ini latah disebut sebagai hari kemenangan, padahal tak ada yang benar-benar dikalahkan,” ujarnya.

Bagi kalangan yang lebih mendalami spiritualitas, suasananya lebih kompleks. Ada kegembiraan karena Ramadan telah dijalani, tetapi juga ada rasa kehilangan karena bulan yang menghadirkan kedekatan dengan Tuhan telah berlalu.

Situasi ini, menurut Anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon tersebut, membentuk kondisi psikologis yang tidak hitam-putih.

“Perasaan mereka, konon seperti digiring ke sebuah persimpangan antara kegembiraan dan kesedihan, dengan garis yang tidak begitu jelas,” katanya.

Baca: Fitrah Adalah Komitmen Moral Berkelanjutan

Ujian tanpa nilai

Gambaran paling kuat yang digunakan adalah analogi ruang ujian. Ramadan, katanya, seperti masa ujian panjang yang berakhir tanpa pengumuman hasil.

“Ujung Ramadan itu ibarat riuh sebuah kelas di hari terakhir ulangan ketika lembar ujian baru saja dikumpulkan. Jawaban sudah diserahkan, pintu ruang ujian ditutup, tetapi nilai belum keluar,” katanya.

Di titik ini, manusia kehilangan kendali. Seluruh ibadah telah dilakukan, tetapi tidak ada cara untuk memastikan apakah semuanya diterima. Karena itu, ucapan yang dianjurkan saat Lebaran tidak pernah bersifat pasti.

تَقَبَّلَ وَمِنْكُمْ مِنَّا اللّٰهُ

Taqabbalallahu minna wa minkum…

“Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian…”

Kalimat itu, menurut Gus Sobih, merupakan pengakuan atas keterbatasan manusia.

“Masih ‘semoga’, sebagai pengakuan filosofis bahwa manusia baru saja beribadah sebulan penuh, tetapi tidak memiliki akses sedikit pun terhadap hasilnya,” katanya. 

Baca: Lebaran Adalah Titik Mula

Takut setelah beramal

Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini dengan cara yang tidak lazim. Bukan ketenangan setelah beramal, melainkan kegelisahan.

Allah Swt berfirman:

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ

“dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minūn: 60)

Saat ayat ini turun, menurut Gus Sobih, Sayyidah Aisyah, istri Rasulullah Muhammad Saw, sempat mengira yang dimaksud adalah para pendosa. Namun, Nabi Saw memberikan penjelasan yang berbalik.

“Bukan. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, salat, dan bersedekah, namun tetap takut amal mereka tidak diterima,” katanya, menirukan sabda Nabi Saw.

Di sinilah letak pembalik logika yang disorot Gus Sobih. Secara umum, manusia merasa takut ketika gagal dan tenang saat berhasil. Dalam pengalaman spiritual, yang banyak beramal justru sering merasa gelisah.

“Secara psikologis, orang biasanya takut ketika gagal dan tenang ketika berhasil. Tetapi, dalam spiritualitas Islam, justru kebalikannya,” ujarnya.

Baca: Makna Fitri Bukan Suci, Apalagi Kosong

Kesadaran akan batas

Fenomena tersebut tidak berdiri sendiri. Gus Sobih mengaitkannya dengan kesadaran yang lebih luas. Kian tinggi pengetahuan seseorang, semakin ia memahami batas dirinya.

Gus Sobih pun menyinggung ungkapan klasik Socrates, “Aku tahu bahwa aku tidak tahu.” Bagi Gus Sobih, pengalaman Ramadan bekerja dengan pola yang sama. Ibadah yang semakin intens justru membuka kenyataan yang tidak nyaman.

“Semakin seseorang beribadah, kian terasa satu hal yang tidak nyaman, yakni, manusia ternyata tidak pernah benar-benar dapat mengukur dirinya sendiri,” katanya.

Artinya, Lebaran bukan momen kepastian, melainkan titik ketika manusia menerima bahwa ukuran baik dan buruk tidak berada di tangannya. Semua kembali pada penilaian Tuhan.

“Kesadaran ini membuat suasana Idulfitri terasa ganjil. Ada kelegaan karena perjalanan telah ditempuh, tetapi juga ada kecemasan karena hasilnya tidak pernah diketahui secara pasti,” ungkap Gus Sobih.

Baca: Tafsir QS. Al-A’la Ayat 14-15: Idulfitri yang Hakiki

Persimpangan gembira dan cemas

Dalam penutup refleksinya, Gus Sobih menggambarkan Idulfitri sebagai akhir cerita tanpa epilog. Takbir berkumandang sebagai penanda selesai, tetapi tidak membawa kepastian.

“Ramadan adalah perjuangan sebulan penuh. Takbir berkumandang seperti musik penutupnya. Tetapi ‘nilai akhirnya’ tetap berada di wilayah yang tidak dapat dijangkau manusia,” ujar Gus Sobih.

Di titik itu, dua perasaan bertemu, gembira karena telah menjalani proses dan cemas karena hasilnya berada di luar kendali. Bagi Gus Sobih, di situlah makna Lebaran.

“Gembira karena perjalanan telah ditempuh, sedih karena manusia akhirnya sadar bahwa hasilnya bukan di tangannya,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.