Ikhbar.com: Ekonomi biru ditempatkan Guru Besar Emeritus Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan, IPB University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. sebagai platform pembangunan yang dapat mendukung transformasi struktural Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Gagasan tersebut disampaikan dalam The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference (MaCiFIC) 2026 di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Jumat, 2 Oktober 2026.
Dalam paparan berjudul “Blue Economy: A Gamechanger for Achieving Golden Indonesia 2045 and a Better World. Ekonomi Biru: Pengubah Permainan untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan Dunia yang Lebih Baik”, Prof. Rokhmin menguraikan ekonomi biru sebagai pendekatan pembangunan yang menggabungkan produktivitas ekonomi, keberlanjutan ekologis, inklusi sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tata kelola laut yang efektif.
“Ekonomi biru dapat menjadi pengubah permainan untuk mencapai Indonesia Emas 2045 sekaligus berkontribusi pada dunia yang lebih baik, lebih sejahtera, lebih adil, dan berkelanjutan,” kata Prof. Rokhmin.

Baca: Prof. Rokhmin Tampil sebagai Pembicara Kunci di Hadapan Pakar Maritim Internasional
Menurut Prof. Rokhmin, kekayaan sumber daya alam merupakan modal awal, tetapi tidak dengan sendirinya menghasilkan kemajuan ekonomi. Transformasi membutuhkan kemampuan mengembangkan pengetahuan, teknologi, inovasi, investasi produktif, industri bernilai tambah, serta sistem pasar yang mampu memberikan manfaat secara lebih luas.
Prof. Rokhmin menyebut potensi ekonomi 11 sektor kelautan Indonesia mencapai sekitar USD1,348 triliun (setara Rp24.130,5 triliun berdasarkan kurs Rp17.898,00 per USD pada 2 Oktober 2026). Potensi tersebut mencakup perikanan tangkap, budidaya laut dan pesisir, industri pengolahan ikan, bioteknologi kelautan, energi dan sumber daya mineral, pariwisata bahari, transportasi laut, industri dan jasa maritim, kehutanan pesisir, sumber daya pulau-pulau kecil, serta sumber daya nonkonvensional.
Potensi tersebut juga disebut dapat menyerap sekitar 45 juta tenaga kerja atau 36 persen dari total angkatan kerja Indonesia. Angka tersebut menunjukkan besarnya ruang ekonomi yang tersedia apabila sumber daya kelautan dikelola dengan pendekatan produktif sekaligus memperhatikan daya dukung ekologis.
“Sumber daya alam memberikan keunggulan komparatif, tetapi teknologi menciptakan keunggulan kompetitif,” jelas Prof. Rokhmin.
Karena itu, ekonomi biru dalam paparan tersebut tidak ditempatkan sebagai tambahan bagi sektor-sektor pembangunan yang sudah ada. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menghubungkan sumber daya alam dengan riset, teknologi, industri, pembiayaan, sumber daya manusia, serta tata kelola sehingga menghasilkan produktivitas dan nilai tambah yang lebih tinggi.
Prof. Rokhmin juga menekankan lima pilar ekonomi biru berkelanjutan, yakni produktivitas ekonomi, keberlanjutan ekologis, inklusi sosial, sains-teknologi-inovasi, dan tata kelola laut yang baik. Kelima dimensi tersebut dipandang sebagai satu kesatuan dalam pembangunan ekonomi biru.
“Ekonomi biru tidak seharusnya dipandang sebagai salah satu sektor ekonomi di antara banyak sektor, tetapi sebagai platform baru bagi transformasi struktural Indonesia,” tutur Anggota Komisi IV DPR RI tersebut.
Baca: Prof. Rokhmin Dijadwalkan Jadi Pembicara Utama Konferensi Perikanan Internasional
Gagasan tersebut kemudian diarahkan pada pencapaian Indonesia Emas 2045 yang dalam materi diproyeksikan sebagai Indonesia yang maju, sejahtera, berdaulat, adil, dan berkelanjutan.
“Jika didukung sains, teknologi, inovasi, kewirausahaan, investasi berkelanjutan, tata kelola laut yang efektif, dan kolaborasi Penta Helix, ekonomi biru dapat menjadi pengubah permainan bagi Indonesia Emas 2045,” ujar Prof. Rokhmin.