Ikhbar.com: Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. KH Haedar Nashir menyebut bahwa mendoakan orang yang telah meninggal merupakan amalan sunah dalam Muhammadiyah. Ia juga menilai rasa duka atas meninggalnya orang yang dicintai tidak bertentangan dengan prinsip tauhid.
Prof. Haedar menjelaskan, doa untuk orang yang meninggal memiliki kaifiyah atau tata cara yang dapat dilakukan sesuai dengan Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Karena itu, warga Muhammadiyah tidak perlu mengikuti tradisi tertentu yang tidak menjadi bagian dari tuntunan tersebut.
“Kita nggak usah ikut mereka yang punya tradisi-tradisi yang macam-macam tetapi tunaikan sesuai dengan Manhaj Tarjih. Doa itu kan sunah dan ada kaifiyahnya (tata cara),” ujar Prof. Haedar dalam Wisuda Thalabah PUTM di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu, 29 Agustus 2026.
Baca: Puluhan Kampus Muhammadiyah Masuk Peringkat Universitas Islam Terbaik Dunia
Dalam kesempatan itu, ia menolak anggapan bahwa warga Muhammadiyah tidak boleh menunjukkan kesedihan ketika anggota keluarga atau orang yang dicintai meninggal dunia. Menurutnya, rasa duka merupakan bagian dari pengalaman batin manusia dan tidak mengurangi keimanan kepada Allah Swt.
“Nggak salah orang Muhammadiyah di saat keluarga tercintanya meninggal kita duka. Dan duka tidak menghilangkan jiwa tauhid kita. Dan jangan adjustment mereka yang duka; hallah hidup kok cengeng!,” kata Prof. Haedar dikutip dari laman Muhammadiyah pada Jumat, 4 September 2026.
Penjelasan tersebut disampaikan Prof. Haedar dalam konteks pentingnya pendekatan irfani dalam kehidupan beragama. Menurutnya, corak keberagamaan yang terlalu mengandalkan rasionalitas perlu diseimbangkan dengan pengalaman batin, kepekaan nurani, intuisi, dan kejernihan hati.
Ia menerangkan bahwa Manhaj Tarjih Muhammadiyah mengenal tiga pendekatan dalam memahami persoalan keagamaan, yaitu bayani, burhani, dan irfani. Bayani berkaitan dengan pendekatan tekstual, burhani menggunakan pendekatan kontekstual atau rasional, sedangkan irfani menekankan pengalaman batin dan intuisi.
Ia menilai ketiga pendekatan tersebut perlu digunakan secara seimbang. Dalam praktiknya, Prof. Haedar melihat masih ada warga Muhammadiyah yang lebih menonjolkan satu pendekatan dan mengabaikan pendekatan lainnya.
“Karena dalam praktik nyatanya sering yang merasa jadi pimpinan, yang merasa jadi mubalig itu lupa yang ketiga hal itu. Hanya bayani saja, lupa burhaninya. Ada yang burhani saja lupa bayaninya. Ada dua-duanya lupa irfaninya,” ungkapnya.
Menurutnya, keberagamaan yang hanya bertumpu pada bayani dan burhani tanpa menghadirkan irfani dapat membuat dimensi rasa dalam beragama semakin berkurang. Ia menyebut kondisi tersebut turut memunculkan anggapan bahwa Muhammadiyah terlalu rasional, termasuk anggapan bahwa warga Muhammadiyah tidak mendoakan orang yang telah meninggal.
Ia menegaskan, pendekatan irfani juga penting dalam menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Warga Muhammadiyah perlu menghadirkan dimensi batin dan kepekaan nurani dalam menjalankan dakwah, tidak hanya mengandalkan pendekatan tekstual dan rasional.
Pendekatan tersebut, menurut Prof. Haedar, menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan dalam kehidupan beragama. Pemahaman keagamaan tidak hanya membutuhkan landasan teks dan argumentasi, tetapi juga pengalaman batin, kejernihan hati, serta kepekaan terhadap kondisi manusia.