Basmalah dalam Algoritma Remaja

“Ar-Rahman itu seperti sinyal WiFi publik di mal atau bandara, siapa saja boleh terhubung. Ar-Rahim itu pesan pribadi yang hanya masuk ke nomor yang sudah tersimpan sebagai kontak dekat.”
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Cemas meski hidup baik-baik saja. Merasa kurang meski sudah banyak berusaha. Perasaan semacam itu makin akrab dengan anak muda hari ini di tengah arus informasi yang tak pernah berhenti mengalir melalui layar ponsel.

Sembilan abad lalu, kegelisahan serupa pernah dialami seorang santri pada masa Imam Al-Ghazali. Setelah bertahun-tahun mengumpulkan ilmu dan mencapai banyak hal, santri tersebut justru berhenti dan bertanya kepada dirinya sendiri, ilmu mana yang benar-benar akan menemaninya sampai liang kubur dan mana yang selama ini hanya membebani tanpa arti.

Pertanyaan itu menjadi pintu masuk kitab Ayyuhal Walad, yang dibedah salah satu Anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Sobih Adnan, dalam kajian di Desa Lemahabang Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin, 10 Agustus 2026.

Sepanjang pembahasan, pesan Al-Ghazali ditautkan dengan kegelisahan psikologis anak muda masa kini, mulai dari kebiasaan menimbun informasi hingga kesulitan menentukan hal yang benar-benar penting di tengah banjir konten.

“Ponsel kita berisi ratusan aplikasi, tapi begitu butuh sesuatu yang genting, jari malah bingung memilih yang mana. Ilmu paling melimpah sepanjang sejarah manusia ada di genggaman kita, tapi orangnya justru makin gelisah, bukan makin tenang,” kata Gus Sobih, sapaan akrabnya.

KH Sobih Adnan saat mengisi kajian kitab kuning. Dok IST.

Baca: Basmalah Sebagai Username Sekaligus Password

Dua wajah kasih sayang

Pembahasan dimulai dari kalimat basmalah sebagai pembuka kitab yang berbunyi:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

Dua sifat Allah dalam lafal tersebut, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, sering dianggap serupa. Padahal, keduanya memiliki cakupan makna yang berbeda.

Ar-Rahman digambarkan sebagai kasih sayang yang berlaku menyeluruh kepada seluruh makhluk tanpa syarat. Ar-Rahim adalah kasih sayang khusus yang hanya dirasakan penuh oleh orang beriman.

Ar-Rahman itu seperti sinyal WiFi publik di mal atau bandara, siapa saja boleh terhubung, tidak peduli dia rajin ibadah atau tidak. Ar-Rahim itu pesan pribadi yang hanya masuk ke nomor yang sudah tersimpan sebagai kontak dekat,” jelas Gus Sobih.

Perbedaan tersebut penting dipahami generasi muda agar tidak keliru menakar kedekatan dengan Allah hanya berdasarkan kelapangan hidup, seperti kesehatan atau rezeki yang lancar. Nikmat semacam itu, menurutnya, juga dirasakan orang yang jauh dari agama, sebagaimana sinyal publik yang tetap menyala bagi siapa saja yang berada dalam jangkauannya.

Kedekatan yang sesungguhnya justru dapat terlihat dari hal-hal kecil yang jarang disadari, seperti rasa enggan ketika hendak berbuat dosa atau dorongan untuk berhenti sejenak dari linimasa dan mendengarkan kajian di tengah derasnya konten yang terus bergulir.

“Setiap kali membuka amal dengan basmalah, sebenarnya kita sedang mengaku dua hal sekaligus, bahwa kita dikasihi Allah tanpa syarat lewat Ar-Rahman, dan kita ingin terus dikasihi secara khusus lewat Ar-Rahim, seperti pesan personal yang hanya sampai ke kontak yang benar-benar dekat,” ujarnya.

Baca: Wahai Gen Z! Ini Kiat agar tak Gampang ‘Kena Mental’ dari Al-Ghazali

Ilmu yang menyelamatkan

Bagian inti kitab bercerita tentang seorang murid senior Imam Al-Ghazali yang telah menguasai berbagai cabang ilmu. Suatu hari, murid tersebut merenungi seluruh pencapaiannya.

Perenungan itu dituangkan dalam kitab dengan kalimat:

إِنِّيْ قَرَأْتُ أَنْوَاعًا مِنَ الْعُلُوْمِ وَصَرَفْتُ رَيْعَانَ عُمْرِيْ عَلَى تَعَلُّمِهَا وَجَمْعِهَا، وَالْآنَ يَنْبَغِيْ لِيْ أَنْ أَعْلَمَ أَيُّ نَوْعِهَا يَنْفَعُنِيْ غَدًا وَيُؤْنِسُنِيْ حَتَّى أَتْرُكَهُ كَمَا أَتْرُكُهُ فِيْ قَبْرِيْ؟ وَأَيُّهَا لَا يَنْفَعُنِيْ حَتَّى أَتْرُكَهُ

“Sungguh aku telah membaca berbagai jenis ilmu dan menghabiskan masa mudaku untuk mempelajari dan mengumpulkannya. Kini sepatutnya aku tahu, ilmu jenis apa yang akan bermanfaat bagiku esok dan menemaniku hingga aku meninggalkannya sebagaimana aku akan meninggalkan dunia ini di dalam kuburku? Dan ilmu jenis apa yang tidak bermanfaat bagiku, sehingga aku tinggalkan ia sekarang juga.”

Frasa “rayyi’ān ‘umrî” atau masa mekar usia, yang dipakai sang murid untuk menyebut masa mudanya, ditekankan sebagai gambaran usia dua puluhan yang tengah dilalui banyak jamaah muda malam itu.

“Usia dua puluhan itu masa mekar hidup kalian, masa paling energik dan paling banyak pilihan. Yang jadi soal, dihabiskan untuk apa masa mekar itu,” kata Gus Sobih.

Kegelisahan sang murid muncul justru saat mencapai puncak pencapaian, bukan ketika mengalami kegagalan. Dia sudah menguasai banyak ilmu, tetapi baru menyadari bahwa belum tentu semuanya membawa manfaat kekal. Kondisi tersebut mirip dengan seseorang yang folder “watch later“-nya penuh video kajian, tetapi satu pun belum sempat ditonton sampai selesai.

Fenomena serupa akrab dengan kehidupan digital anak muda sekarang. Rajin menyimpan konten ceramah tanpa pernah membukanya kembali. Sibuk menilai ibadah orang lain di kolom komentar, sementara ibadah sendiri masih berantakan.

“Ilmu semacam itu seperti camilan kemasan yang muncul terus di beranda, enak, ramai dikonsumsi, tapi nol gizi untuk jiwa,” tegas sosok yang juga mengemban amanat sebagai Mudir Aam Ikhbar Foundation tersebut.

Baca: Teman Red Flag yang Wajib Dijauhi menurut Imam Al-Ghazali

Pedoman yang dibutuhkan

Kegelisahan itu kemudian mendorong sang murid menulis surat kepada Al-Ghazali. Padahal, dia telah memiliki akses penuh terhadap Ihya Ulumuddin, karya besar sang guru yang berjilid-jilid, semacam ensiklopedia lengkap yang bisa dibuka kapan saja.

Isi suratnya justru meminta hal yang jauh lebih sederhana, sebagaimana tertulis dalam kitab:

لَكِنَّ مَقْصُوْدِيْ أَنْ يَكْتُبَ الشَّيْخُ حَاجَتِيْ فِيْ وَرَقَاتٍ تَكُوْنَ مَعِيْ مُدَّةَ حَيَاتِيْ وَأَعْمَلُ بِمَا فِيْهَا مُدَّةَ عُمْرِيْ

“Maksudku adalah agar Sang Guru menuliskan apa yang kubutuhkan dalam beberapa lembar saja, yang akan menemaniku sepanjang hidupku, dan aku amalkan isinya seumur hidupku.”

“Yang sering kita butuhkan bukan informasi lebih banyak, tetapi satu pegangan sederhana yang benar-benar dihidupi. Sama seperti orang yang sudah punya ratusan buku pengembangan diri di rak, tapi baru dibaca sampai bab satu,” ucap Gus Sobih.

Jawaban Al-Ghazali atas surat tersebut menjadi teguran halus sekaligus kunci nasihat dalam kitab. Alih-alih langsung memberikan daftar wejangan, sang guru menulis:

إِنَّ مَنْشُوْرَ النَّصِيْحَةِ يُكْتَبُ مِنْ مَعْدِنِ الرِّسَالَةِ، إِنْ كَانَ قَدْ بَلَغَكَ مِنْهُ فَأَيُّ حَاجَةٍ لَكَ فِيْ نَصِيْحَتِيْ

“Sesungguhnya lembaran nasihat sejati telah tertulis dari sumber risalah kenabian. Jika nasihat itu sudah sampai kepadamu, maka untuk apa lagi kau butuh nasihatku?”

Kalimat tersebut ditafsirkan sebagai cara Al-Ghazali mengajak muridnya menyadari persoalan sesungguhnya. Masalahnya bukan kekurangan sumber nasihat yang bisa diakses lewat satu ketukan layar, tetapi sejauh mana nasihat yang sudah diketahui benar-benar diamalkan.

“Coba tanya diri sendiri, seperti mengecek rangkuman tahunan di aplikasi musik, tapi versi ruhani. Kalau ditanya soal lima tahun terakhir hidupmu, bukan soal followers atau nilai, tapi soal kedekatan dengan Allah, apa jawabanmu?” pungkas Gus Sobih.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.