Ikhbar.com: Gaya hidup modern membuat banyak orang kehilangan ritme. Begadang karena gawai, makan tanpa jadwal, dan bekerja tanpa jeda menjadi kebiasaan harian. Tubuh dipaksa mengikuti target, bukan siklus alaminya. Di tengah pola seperti itu, puasa kerap dipandang sebatas kewajiban tahunan, meski sebenarnya membuka kesempatan untuk menata kembali pola hidup secara lebih menyeluruh.
Influencer santri, Ning Ivana Amelia mengingatkan bahwa puasa menyentuh dua aspek sekaligus, fisik dan psikologis.
“Puasa itu berdampak baik bagi manusia, baik secara fisik maupun secara psikologis,” ujarnya, saat menjadi narasumber dalam “Tadarus Buku Peta Jalan Ramadan”, secara live di akun Instagram @IkhbarCom, dikutip pada Kamis, 5 Maret 2026.
Baca: Ramadan sebagai Laboratorium Metabolik: Antara Spiritualitas dan Ilmu Gizi
Tubuh punya jamnya sendiri
Nyai muda asal Pondok Buntet Pesantren Cirebon tersebut menjelaskan bahwa tubuh manusia bekerja mengikuti ritme biologis. Dalam dunia kesehatan, ritme tersebut dikenal sebagai ritme sirkadian.
“Dalam kesehatan itu ada namanya sirkadian rhythm (ritme sirkadian). Artinya, tubuh kita itu punya jam biologisnya tersendiri. Tubuh tahu kapan kita mengantuk, kapan kita makan, kapan kita lapar, dan tahu kapan suhu tubuh kita naik dan turun. Tubuh kita itu sangat cerdas,” kata Ning Ivana.
Ia mencontohkan pola umum jam biologis manusia. Pukul 06.00–09.00 pagi, hormon kortisol meningkat, tekanan darah naik, dan tubuh bersiap bergerak. Pukul 10.00–14.00 fokus mental berada pada kondisi optimal. Sore hari, sekitar 15.00–18.00, kekuatan otot dan koordinasi motorik mencapai puncak.
“Saat malam tiba, hormon melatonin memberi sinyal kantuk, tekanan darah turun, dan di tengah malam terjadi proses perbaikan sel,” ungkap Nyai muda asal Pondok Buntet Pesantren Cirebon tersebut.
Penjelasan itu menunjukkan bahwa puasa berlangsung dalam interaksi dengan sistem metabolisme, hormon, dan regenerasi sel. Perubahan pola makan dan tidur selama Ramadan karena itu perlu dikelola secara sadar.
Ning Ivana mengingatkan bahwa puasa tidak otomatis membuat tubuh sehat apabila dijalani tanpa pengaturan.
“Kadang kita mengira puasa pasti berdampak baik bagi tubuh. Padahal, hasilnya tetap tergantung bagaimana kita mengaturnya,” tuturnya.
Baca: Agar Kulit Tetap Sehat dan Glowing selama Ramadan, Ikuti Tips Ini!
Reset bukan sekadar menahan lapar
Al-Qur’an menyebut tujuan puasa secara tegas. Dalam QS. Al-Baqarah: 183, Allah Swt berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa dalam tradisi tasawuf sering dipahami sebagai hasil dari tazkiyatun nafs, proses penyucian diri. Puasa melatih disiplin waktu, pengendalian dorongan, dan kesadaran diri. Pada bagian ini, dimensi spiritual bertaut dengan keteraturan biologis tubuh.
Ning Ivana menekankan bahwa dampak puasa juga menyentuh sisi nonfisik. Puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan haus. Ritme sahur, berbuka, dan tidur malam membentuk kembali pola harian.
“Jika dikelola dengan tepat, puasa dapat menjadi momentum menyelaraskan ulang metabolisme sekaligus niat,” katanya.

Nabi Muhammad Saw bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa tidak berhenti pada perubahan pola makan. Terdapat penataan emosi, ucapan, dan perilaku.
“Tanpa pengendalian tersebut, proses reset (setel ulang) menjadi tidak utuh karena tubuh mungkin beristirahat, sementara jiwa belum tertata,” katanya.
Kritik gaya hidup modern
Ning Ivana menyinggung kebiasaan sebagian orang yang mengganti waktu makan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Begadang setelah tarawih, tidur menjelang subuh, lalu mengeluh lemas sepanjang hari.
“Tapi, jangan karena sudah berpuasa lalu merasa pasti sehat. Kalau pola makan dan tidur tetap sembarangan, tubuh bisa kaget dengan perubahan itu,” katanya.
Perubahan drastis tanpa adaptasi dapat memicu gangguan konsentrasi, kelelahan, hingga masalah metabolisme. Padahal, puasa memberi kesempatan untuk menata ulang kebiasaan yang selama ini kurang teratur.
Dalam perspektif biologis, sahur sebelum fajar membantu menjaga kestabilan gula darah ketika hormon kortisol meningkat pada pagi hari. Tidur yang cukup sebelum hormon melatonin bekerja optimal mendukung proses regenerasi sel.
“Dari sisi spiritual, bangun sahur dan salat malam memperkuat kesadaran ibadah sejak awal hari,” ungkap Ning Ivana.
Baca: Ikhbar.com Rilis Buku Panduan Ramadan Berbasis Keluarga dan Sosial
Menyatukan biologi dan spiritualitas
Ning Ivana menyebut tubuh manusia sebagai micro-universe, semesta mini dengan sistem yang lengkap dan cerdas. Kesadaran ini mendorong sikap hormat terhadap mekanisme tubuh sekaligus kepatuhan pada ajaran agama.
Puasa menjadi titik temu antara ilmu pengetahuan dan wahyu. Islam, menurutnya, tetap relevan dengan perkembangan zaman dan riset ilmiah. Berbagai penelitian modern menguatkan manfaat pengaturan pola makan, jeda konsumsi kalori, serta disiplin tidur bagi kesehatan metabolik.
Puasa tetap memerlukan kesadaran personal. Ia merupakan latihan mengatur kembali ritme hidup.
Ketika sahur dijalani secara terencana, aktivitas siang disesuaikan dengan waktu paling produktif, dan malam digunakan untuk istirahat cukup, puasa menjadi momentum perbaikan menyeluruh. Tubuh menyesuaikan diri, jiwa belajar mengendalikan dorongan.
“Puasa menawarkan jeda yang terstruktur. Bukan pelarian dari aktivitas, melainkan cara mengatur ulang energi dan orientasi hidup,” pungkasnya.