Ikhbar.com: Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri menyebut bahwa percepatan pengerukan muara menjadi langkah mendesak untuk menjaga produktivitas nelayan nasional.
Ia menyoroti langsung kondisi di lapangan pada aktivitas nelayan kecil di Koperasi Mina Jaya, Desa Benda, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu yang terganggu akibat pendangkalan muara yang menghambat keluar-masuk perahu.
Penegasan tersebut disampaikan Prof. Rokhmin saat mengunjungi kelompok nelayan yang tergabung dalam Koperasi Mina Jaya di Blok Tegal Agung, Indramayu pada Kamis, 26 Februari 2026.
Koperasi yang berdiri sejak 2013 dengan dukungan pemerintah daerah ini menjadi pusat pengelolaan hasil tangkapan laut seperti cumi-cumi, tenggiri, bawal, hingga tongkol. Seluruh hasil tangkapan ditampung menggunakan cool box sebelum dipasarkan melalui sistem lelang, dengan nilai perputaran usaha mencapai hampir Rp2 miliar per tahun.
Baca: Prof. Rokhmin Beberkan Strategi Bangkitkan Ekonomi Mandiri Indonesia
Di hadapan para nelayan, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa kegiatan reses yang dilakukannya selalu diarahkan untuk hal-hal yang produktif dan berdampak langsung bagi masyarakat pesisir.
“Alhamdulillah setiap masa reses dan kunjungan daerah pemilihan saya selalu melewatkan hal-hal yang produktif. Saat ini saya tengah berada di Koperasi Unit Desa (KUD) Mina Jaya di Desa Benda Kecamatan Karangampel Kabupaten Indramayu,” ujar Prof. Rokhmin.
Ia menambahkan, koperasi dan unit pelelangan ikan tersebut telah berdiri sejak 2013 dan menunjukkan tingkat produktivitas nelayan yang baik.
“Saya mendapat informasi bahwa koperasi ini beserta unit pelelangan ikan sudah berdiri sejak 2013 atau sudah berumur sekitar 14 tahun dan nelayannya cukup produktif karena alat tangkapnya dengan pukat cincin atau porsainer dan juga dengan buko ami untuk cumi-cumi,” lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa sedimentasi di alur sungai menjadi masalah utama yang menyebabkan pendangkalan muara. Kondisi ini membuat mobilitas kapal nelayan terganggu, baik saat berangkat melaut maupun kembali ke daratan.
“Salah satu masalah utama adalah pendangkalan sungai. Solusinya adalah dengan membuat semacam baro, semacam turap kali,” tegasnya.
“Yang kedua, dalam jangka sangat cepat harusnya dikeruk dengan beko atau eskavator,” sambungnya.
Ia juga memperoleh informasi dari pengurus koperasi bahwa pengerukan sebenarnya dilakukan secara berkala oleh pemerintah daerah sebanyak dua kali dalam setahun, namun wilayah tersebut belum mendapat giliran.
Sebagai langkah lanjutan, Prof. Rokhmin berkomitmen mendorong percepatan penanganan melalui dukungan alat berat untuk pengerukan muara sebagai solusi jangka pendek, serta penguatan infrastruktur pengaman tepi sungai sebagai upaya jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan aktivitas nelayan.