Ikhbar.com: Anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan telah lama diluruskan dalam ajaran Islam. Nabi Muhammad Saw menolak keyakinan tersebut karena tidak memiliki dasar yang benar. Meski demikian, pola pikir yang melahirkan takhayul ternyata belum benar-benar hilang. Bentuknya berubah mengikuti perkembangan zaman.
Jika dahulu kesialan dikaitkan dengan bulan, burung, atau angka, kini sebagian orang tanpa sadar memberikan kepercayaan yang berlebihan kepada algoritma media sosial.
Fenomena itu mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah produk kecantikan, misalnya, dapat habis terjual di berbagai marketplace hanya dalam hitungan hari setelah berulang kali muncul di linimasa. Ribuan akun mengunggah video yang serupa disertai kalimat yang hampir sama, “Ini viral, pasti bagus.” Bagi banyak pengguna, frekuensi kemunculan tersebut perlahan berubah menjadi ukuran kualitas, meskipun belum tentu didukung bukti ilmiah ataupun ulasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pandangan semacam ini memperlihatkan bahwa sesuatu yang terus muncul di layar sering kali dianggap lebih benar atau lebih baik dibandingkan yang jarang terlihat. Padahal, sistem rekomendasi media sosial tidak bekerja dengan cara seperti itu.
Baca: Dialog di Bulan Safar: 10 Tugas Terakhir Malaikat Jibril
Takhayul bukan melulu warisan masa lalu
Rasulullah Saw pernah bersabda,
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
“Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya tanpa izin Allah, tidak ada pertanda sial, tidak ada mitos burung hantu pembawa kematian, dan tidak ada mitos kesialan bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam menolak keyakinan yang memberikan pengaruh kepada sesuatu yang pada hakikatnya tidak memiliki kekuatan. Pada masa itu, kepercayaan semacam ini dilekatkan pada bulan Safar, burung tertentu, maupun berbagai pertanda lain yang diyakini membawa keberuntungan atau kesialan.
Prinsip yang sama masih relevan hingga sekarang. Bedanya, objek yang dipercaya telah berubah. Di era digital, sebagian orang mudah menganggap sebuah informasi benar karena sering muncul di linimasa, menganggap sebuah produk berkualitas karena ramai diperbincangkan, atau menganggap sebuah pendapat paling tepat karena terus direkomendasikan oleh media sosial.
Padahal, kemunculan yang berulang tidak selalu menunjukkan kualitas. Popularitas juga tidak selalu mencerminkan kebenaran.
Baca: Cara Mudah Menghafal Nama-nama Bulan Hijriah
Ketika algoritma menciptakan ilusi konsensus
Sistem rekomendasi pada media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Sistem tersebut mempelajari pola perilaku pengguna, lalu menampilkan konten yang dinilai paling mampu mempertahankan keterlibatan. Ukuran yang digunakan antara lain durasi menonton, jumlah putar ulang, interaksi, dan kecenderungan pengguna berhenti menggulir layar.
Artinya, algoritma tidak menilai apakah sebuah informasi benar atau salah. Algoritma juga tidak menentukan apakah suatu produk paling baik atau paling bermanfaat. Sistem hanya membaca respons pengguna, kemudian menyebarkan konten yang menghasilkan keterlibatan paling tinggi.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 2018 dan dipimpin Soroush Vosoughi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), institusi riset dan universitas swasta terkemuka di dunia yang berbasis di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Penelitian itu menunjukkan bahwa kabar palsu menyebar lebih cepat dan lebih luas di media sosial dibandingkan informasi yang benar. Salah satu penyebabnya, kabar palsu lebih mudah memancing rasa penasaran, keterkejutan, maupun respons emosional sehingga menghasilkan tingkat keterlibatan yang lebih tinggi.
Kondisi inilah yang dapat menciptakan ilusi konsensus.
Ketika sebuah konten terus muncul di hadapan jutaan pengguna, sebagian orang mulai menganggapnya sebagai pendapat mayoritas atau bahkan sebagai kebenaran.
Padahal, yang terlihat sesungguhnya merupakan hasil perhitungan algoritma, bukan ukuran validitas sebuah informasi.
Baca: Hati-hati! Medsos Disebut Bisa ‘Hack’ Otak Manusia
Melawan mitos baru dengan cara lama
Al-Qur’an telah memberikan peringatan agar tidak menjadikan banyaknya pengikut sebagai ukuran kebenaran.
Allah Swt berfirman:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ
“Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang (kafir) di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS Al-An’am: 116)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa ramainya sebuah pendapat atau besarnya jumlah pengikut tidak pernah menjadi jaminan kebenaran. Prinsip serupa juga ditegaskan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam ‘lām al-Muwaqqi’īn. Menurutnya, taqlid bukanlah ilmu dan tidak melahirkan keyakinan yang dibangun di atas pengetahuan.
Karena itu, informasi yang terus muncul di linimasa tetap perlu diperiksa sumbernya, diverifikasi, dan dibandingkan dengan rujukan yang dapat dipercaya. Hal yang sama berlaku terhadap produk, tren, maupun opini yang sedang viral.
Bulan Safar mengingatkan bahwa kesialan tidak berasal dari nama sebuah bulan. Di era digital, pelajaran itu memiliki makna yang lebih luas. Kemunculan sebuah konten secara berulang juga tidak otomatis menunjukkan bahwa konten tersebut benar, berkualitas, atau layak dipercaya. Sikap kritis dan kebiasaan memeriksa informasi tetap menjadi cara terbaik untuk menghindari lahirnya tahayul dalam bentuk baru.