Ikhbar.com: Ketahanan pangan nasional tidak semestinya hanya diukur dari kecukupan stok beras. Cara pandang yang terlalu berfokus pada satu komoditas berisiko menutupi persoalan pada sektor pangan lain saat Indonesia menghadapi ancaman El Nino.
Pakar kelautan dan perikanan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa pembahasan ketahanan pangan harus mencakup seluruh komoditas strategis yang menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, keberhasilan menghadapi El Nino tidak dapat diukur hanya dari ketersediaan beras di tingkat nasional.
“Kalau berbicara pangan, sekali lagi bukan hanya beras, tetapi produksi jagung, kedelai, hortikultura yang meliputi sayuran dan buah-buahan, bahkan perkebunan,” kata Prof. Rokhmin dalam Talk Highlight Radio Elshinta, dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.
Baca: 5 Indikator Ketahanan Pangan menurut Prof. Rokhmin
Menurut Anggota Komisi IV DPR RI tersebut, dampak El Nino berpotensi menjalar ke berbagai sektor produksi pangan. Kekeringan berkepanjangan dapat menurunkan produktivitas pertanian, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu sektor peternakan dan perkebunan.
Karena itu, fokus utama pemerintah seharusnya memastikan produksi pangan tetap terjaga melalui berbagai langkah mitigasi sejak dini, selain menjaga ketersediaan stok.
Prof. Rokhmin menilai ukuran keberhasilan yang terlalu bertumpu pada angka stok nasional sering kali tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Pasalnya, setiap daerah memiliki karakteristik produksi dan kebutuhan yang berbeda.
“Kalaupun pemerintah sekarang jumawa stok pangan cukup segala macam, itu kan secara agregat. Kenyataannya neraca pangan di setiap provinsi itu berbeda,” ujarnya.
Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa sejumlah daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan memiliki kapasitas produksi yang relatif besar. Sementara itu, wilayah lain masih mengalami defisit pasokan pangan sehingga memerlukan dukungan distribusi dari daerah yang surplus.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan mencakup produksi sekaligus sistem logistik dan transportasi yang mampu menjamin distribusi pangan ke seluruh wilayah Indonesia.
Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu, pendekatan yang terlalu berpusat pada beras juga berpotensi mengabaikan komoditas lain yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Jagung, kedelai, sayuran, buah-buahan, ikan, dan hasil peternakan merupakan bagian dari sistem pangan yang saling berkaitan.
Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa dampak El Nino terhadap sektor pangan sering kali menimbulkan efek berantai. Ketika produksi salah satu komoditas menurun, tekanan terhadap harga dan ketersediaan pangan dapat menjalar ke sektor lain sehingga memengaruhi daya beli masyarakat.
Karena itu, pemerintah perlu memperkuat langkah pencegahan sejak dini melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan infrastruktur air, serta peningkatan koordinasi antarlembaga.
Baca: Puncak El Nino Juli-September, Prof. Rokhmin: Jangan Terperosok di Lubang yang Sama!
Selain persoalan produksi, Prof. Rokhmin juga menilai pentingnya memperhatikan kesiapan daerah dalam menghadapi gangguan pasokan pangan. Menurutnya, data nasional yang menunjukkan kondisi surplus belum tentu mencerminkan keadaan di seluruh wilayah.
“Kita tidak bisa melihat keberhasilan mengantisipasi El Nino hanya dari segi stok beras,” katanya.
Prof. Rokhmin menambahkan bahwa ancaman terhadap sektor pangan akan semakin besar apabila kekeringan berlangsung dalam waktu lama. Oleh sebab itu, pemerintah perlu memastikan seluruh instrumen pendukung, mulai dari irigasi, embung, cadangan air, hingga distribusi logistik, berfungsi secara optimal.
Lebih jauh, Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Setiap pihak memiliki peran untuk menjaga sistem pangan tetap berjalan ketika menghadapi gangguan iklim.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.
“Tantangan utama terletak pada kemampuan mengelola sumber daya tersebut secara terencana dan berkelanjutan,” pungkasnya.