Salat Adalah Jembatan Kemuliaan Rajab, Sya’ban, dan Ramadan

Melalui salat, umat Islam diajak memahami rangkaian Rajab, Sya’ban, dan Ramadan sebagai satu kesatuan perjalanan menuju ketakwaan.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Salat menempati posisi sentral dalam ajaran Islam sebagai poros ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Melalui salat, umat Islam diajak memahami rangkaian Rajab, Sya’ban, dan Ramadan sebagai satu kesatuan perjalanan menuju ketakwaan.

Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, dalam Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw dan Targhib Ramadan yang diselenggarakan Paguyuban Alumni SMAN 1 Lemahabang (Pasmanla) Kabupaten Cirebon, di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Kiai Zuhri, sapaan karibnya, menegaskan bahwa rangkaian bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadan tidak berdiri terpisah. Ketiganya terhubung oleh satu simpul utama, yaitu salat. Rajab menjadi momentum Isra Mikraj, Sya’ban berfungsi sebagai masa persiapan, sedangkan Ramadan menjadi madrasah takwa.

“Salat menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan keagungan Ilahi,” katanya, Sabtu, 31 Januari 2026.

Baca: Mengapa Tempat Tidur Nabi masih Hangat hingga Sepulang dari Isra Mikraj?

Isra Mikraj dan legitimasi salat

Pendakwah yang merupakan alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, itu mengawali penjelasan dengan menempatkan Isra Mikraj sebagai peristiwa penyingkapan keagungan Allah kepada Rasulullah Saw.

Allah Swt berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isrā’: 1)

Menurut Kiai Zuhri, frasa “linuriyahu min āyātinā” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa melalui peristiwa Mikraj, Nabi Saw diperlihatkan berbagai tanda keagungan Allah yang tidak pernah disaksikan manusia sebelumnya, mulai dari Sidratul Muntaha hingga gambaran surga dan neraka.

Semua itu, kata Kiai Zuhri, bukan untuk meninggikan Rasulullah Saw secara pribadi, melainkan sebagai pelajaran bagi umat tentang siapa Allah yang disembah dalam salat.

“Isra Mikraj itu bukan sekadar kisah perjalanan, tapi juga memuat pelajaran tentang keagungan Allah yang kita hadapi setiap hari dalam ibadah salat,” tutur Kiai Zuhri.

Puncak Isra Mikraj, lanjut Kiai Zuhri, terletak pada dialog antara Allah, Rasulullah Saw, dan para malaikat. Dialog tersebut kemudian diabadikan dalam bacaan tahiyat yang dibaca umat Islam dalam salat.

Baca: Pendekatan Adalah Kunci, Strategi Dai ala Kiai Zuhri

Rasulullah Saw menyampaikan salam kepada Allah dengan kalimat:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ

“Segala kehormatan, keberkahan, dan kebaikan hanyalah milik Allah.”

Allah  Swt menjawab salam tersebut dengan:

السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Keselamatan, rahmat, dan keberkahan tercurah kepadamu, wahai Nabi.”

Kemudian Rasulullah Saw mendoakan diri dan seluruh hamba saleh:

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

Para malaikat pun bersaksi:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”

“Setiap kali duduk tahiyat, kita sebenarnya sedang mengulang dialog langit itu,” ungkap Kiai Zuhri.

Atas dasar itu, Kiai Zuhri memandang salat sebagai ibadah paling mulia karena di dalamnya berlangsung komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya.

Pengasuh PP Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, saat menyampaikan tausiyah dalam Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw dan Targhib Ramadan, Paguyuban Alumni SMAN 1 Lemahabang (Pasmanla), di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu, 31 Januari 2026. Dok IST

Baca: Kiai Zuhri Adnan: Selain Akhlak, Public Speaking Jadi Kunci Sukses Dakwah Rasulullah

Sya’ban fase persiapan menuju ketakwaan Ramadan

Setelah Rajab dengan peristiwa Isra Mikraj, Kiai Zuhri menempatkan Sya’ban sebagai fase persiapan menuju Ramadan. Pada tahap ini, salat berperan sebagai sarana membangun kedisiplinan ruhani agar seseorang siap menjalani puasa.

Ia menekankan bahwa kesiapan menyambut Ramadan lahir dari latihan ibadah yang berkesinambungan, terutama menjaga kualitas salat dan memperbanyak zikir.

“Sya’ban itu waktunya memantapkan diri, supaya Ramadan tidak dilewati begitu saja,” ujarnya.

Saat membahas Ramadan, Kiai Zuhri menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk insan bertakwa, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183.

Allah Swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa, menurut Kiai Zuhri, merupakan inti ajaran Al-Qur’an. Karena itu, Ramadan dipahami sebagai madrasah yang melatih pengendalian diri, penataan sikap, serta perbaikan relasi sosial.

Baca: ‘Growth Mindset’, Rahasia Bertahan Hadapi Rintangan Zaman ala Kiai Zuhri Adnan

Allah menjelaskan ciri-ciri orang bertakwa dalam QS. Ali ‘Imran ayat 134:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Bagi Kiai Zuhri, keberhasilan Ramadan tidak diukur dari berlalunya waktu, melainkan dari perubahan sikap setelahnya.

“Puasa yang benar melahirkan pribadi yang dermawan, sabar, dan mudah memaafkan,” tuturnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.