Mengapa Akhir Tahun Perlu Dimaknai sebagai Hijrah Batin?

Menjelang Tahun Baru 2026, barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah daftar resolusi yang panjang, melainkan kesediaan untuk jujur kepada diri sendiri serta kerendahan hati di hadapan Allah.
Ilustrasi tahun baru. Foto: Pixabay

Oleh: Alfina (Wakil Pemimpin Redaksi Ikhbar.com)

AKHIR Desember selalu menghadirkan ruang jeda. Di tengah riuh perayaan dan daftar resolusi, manusia seolah diajak berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang, lalu bertanya kepada diri sendiri: apa yang sesungguhnya telah berubah dalam batin kita sepanjang tahun ini? Menjelang Tahun Baru 2026, pertanyaan tersebut terasa semakin mendesak, terutama di tengah dunia yang bergerak cepat, tetapi kerap kehilangan makna.

Dalam suasana reflektif inilah, pemikiran Jalaluddin Rumi kembali relevan. Penyair sufi asal Persia yang karya-karyanya dikenal lintas benua, termasuk di Amerika, ini bukan sekadar tokoh sastra dunia. Ia adalah cendekia, ulama, sekaligus penempuh jalan spiritual yang menawarkan cara pandang mendalam tentang hidup, perubahan, dan relasi manusia dengan Tuhan.

Rumi dan jejak spiritualitas Islam

Jalaluddin Rumi memiliki nama lengkap Maulana Jalaluddin Muhammad Balkhi Ar-Rumi. Ia lahir dari keluarga dengan akar spiritual yang kuat. Ayahnya merupakan keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sementara ibundanya berasal dari garis keturunan Ali bin Abi Thalib. Dua sosok sentral dalam sejarah Islam ini membentuk fondasi keilmuan dan kepekaan batin Rumi sejak dini.

Rumi wafat pada 5 Jumadil Akhir 672 Hijriah, bertepatan dengan 17 Desember 1273 Masehi. Menariknya, wafatnya Rumi justru terjadi di bulan yang kini kerap dipahami sebagai waktu perenungan dan penutupan. Seolah sejarah hendak menegaskan bahwa akhir bukanlah kegelapan, melainkan pintu menuju pemahaman yang lebih luas.

Dalam banyak puisinya, Rumi tidak pernah menempatkan perubahan sebagai sesuatu yang menakutkan. Ia justru memandang perubahan sebagai cara Tuhan mendidik manusia. Salah satu pesan Rumi yang sering dikutip berbunyi:

“Kemarin aku cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijak, maka aku mengubah diriku.”

Baca: Resolusi Tahun Baru dan Ilusi Perubahan

Pesan ini terasa relevan menjelang pergantian tahun. Betapa sering manusia ingin mengubah keadaan, sistem, atau orang lain, tetapi lupa menengok ke dalam dirinya sendiri. Akhir tahun, dalam pandangan Rumi, adalah kesempatan untuk memulai perubahan dari pusat yang paling dekat: hati.

Refleksi keislaman di pengujung tahun

Dalam tradisi Islam, muhasabah menjadi bagian penting dari perjalanan iman. Rumi mengingatkan bahwa perjalanan spiritual tidak selalu ditandai oleh keberhasilan lahiriah. Ia pernah menulis secara puitis, “Di balik setiap luka, ada cahaya yang sedang mencari jalan masuk.”

Kutipan ini mengajarkan bahwa kegagalan, kehilangan, dan kekecewaan yang dialami sepanjang tahun bukan semata-mata beban, melainkan ruang pembelajaran. Dalam perspektif tasawuf, pengalaman pahit justru kerap menjadi pintu menuju kedewasaan iman.

Menjelang Tahun Baru 2026, refleksi keislaman semacam ini menjadi semakin penting. Dunia berada dalam pusaran ketidakpastian, dan manusia membutuhkan pegangan yang tidak rapuh. Rumi menawarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal: berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap menyerahkan hasil kepada Allah.

Tahun baru sebagai hijrah batin

Islam memaknai hijrah bukan hanya sebagai perpindahan fisik, melainkan juga transformasi batin. Rumi mengungkapkan gagasan ini dengan indah, “Mengapa engkau tetap berada di penjara, padahal pintunya terbuka?”

Pertanyaan reflektif tersebut seolah ditujukan kepada siapa pun yang memasuki tahun baru dengan beban lama yang tak kunjung dilepaskan. Tahun Baru 2026 dapat menjadi momentum hijrah batin: meninggalkan kebiasaan yang melemahkan iman dan mendekat kepada kehidupan yang lebih sadar serta bermakna.

Hijrah ala Rumi tidak bersifat demonstratif. Ia berlangsung pelan, sunyi, dan jujur. Perubahan sejati tidak selalu tampak, tetapi terasa dalam cara berpikir, bersikap, dan memaknai hidup.

Menutup tahun dengan kesadaran

Ketika Desember berakhir, manusia berdiri di persimpangan waktu. Masa lalu tak dapat diulang, sementara masa depan belum pasti. Di titik inilah, Rumi menghadirkan penghiburan sekaligus peringatan. Ia menulis, “Ketika engkau melepaskan siapa dirimu, saat itulah engkau menjadi siapa yang seharusnya.”

Menjelang Tahun Baru 2026, barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah daftar resolusi yang panjang, melainkan kesediaan untuk jujur kepada diri sendiri serta kerendahan hati di hadapan Allah.

Menutup tahun dengan kesadaran dan membuka tahun dengan doa—itulah warisan spiritual yang ditawarkan Jalaluddin Rumi, melintasi abad dan tetap relevan hingga hari ini.[]

Indana merupakan rubrik khusus yang merekam pandangan Dewan Redaksi Ikhbar.com terhadap fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Meski begitu, Indana ditulis secara reflektif dan bersifat personal sehingga seluruh muatan dan isinya secara penuh menjadi tanggung jawab penulis.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.