Yang Berubah dari Wajah Keislaman Anak Muda

Ilustrasi. PEXELS/Beyzaa Yurtkuran

Ikhbar.com: Anak muda selama ini kerap dilekatkan pada citra menjauh dari agama, longgar dalam praktik ibadah, serta sibuk mengejar gaya hidup. Gambaran itu kini mulai bergeser. Anak muda Muslim menunjukkan pola keberagamaan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Konsultan sekaligus pengamat isu kepemudaan, Wildanshah, menilai generasi muda saat ini tetap beragama, akan tetapi dengan menafsirkan ulang cara menjalankannya.

“Generasi muda sekarang itu pengin beribadah dengan baik tapi bergaya dengan baik juga,” kata Wildan, sapaan akrabnya, dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Anak Muda dan Santri di Era AI” di Ikhbar TV, dikutip pada Senin, 2 Februari 2026.

Baca: Tantangan dan Peluang Santri di Era AI

Menurut Wildan, anak muda tidak memandang religiusitas dan ekspresi diri sebagai dua hal yang saling bertentangan. Orientasi akhirat tetap hadir, sementara identitas duniawi tetap dijalani. Pola tersebut tampak dalam pilihan gaya hidup, fesyen, serta konsumsi budaya populer.

Wildan menyebut gejala tersebut sebagai bagian dari pergeseran identitas Muslim kelas menengah yang berlangsung secara global. Anak muda hidup dalam beragam lapisan identitas pada waktu bersamaan.

“Generasi muda sekarang itu pengin beribadah dengan baik tapi bergaya dengan baik juga. Mereka mikirin akhirat, tapi di dunia gua harus keren juga,” katanya.

Konsultan sekaligus pengamat isu kepemudaan, Wildanshah (kanan), saat menjadi narasumber dalam dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “Anak Muda dan Santri di Era AI” di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Situasi itu membuat batas-batas identitas menjadi lebih lentur. Konflik berbasis agama, menurut Wildan, kerap muncul ketika identitas dipaksakan menjadi tunggal dan tertutup. Sebaliknya, identitas berlapis membuka ruang toleransi yang tumbuh secara wajar.

Inisiator Perkumpulan WargaMuda tersebut juga menilai pendekatan dakwah dan pendidikan keagamaan perlu menyesuaikan perubahan ini. Metode lama yang kaku berisiko kehilangan daya jangkau di tengah generasi yang tumbuh bersama media sosial serta arus budaya global.

“Sekarang sajadah motifnya macam-macam, sarung motifnya macam-macam. Ustaz-ustaznya juga menyesuaikan diri,” ujarnya.

Baca: Bekal Al-Qur’an untuk Anak Muda saat Lawan Rasuah

Perubahan wajah keislaman ini, menurut Wildan, tidak layak dipandang sebagai ancaman. Perkembangan tersebut justru membuka peluang bagi tumbuhnya keberagamaan yang lebih inklusif dan kontekstual.

“Makanya, istilahnya pun berubah, bukan lagi multikultur, tetapi polikultur,” katanya.

Menurut Dewan Pakar Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) tersebut, multikultur menempatkan perbedaan agama dalam ruang terpisah atau sekadar hidup berdampingan. Polikultur menekankan saling keterhubungan, pengaruh timbal balik, serta percampuran tradisi keagamaan yang terus bergerak.

“Jadi, menurut mereka, menjadi muslim di Indonesia itu enggak tunggal identitasnya. Bisa mencintai Sayidina Umar sekaligus mencintai oppa-oppa Korea, misalnya,” pungkas Wildan.

Obrolan selengkapnya bisa disimak di:

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.