Bukan cuma Lebaran, Ini 5 Hari Raya bagi Orang Beriman

Ukuran “hari besar” ini tidak ditentukan oleh tanggal, tetapi oleh capaian iman.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Lebaran kerap dipahami sebagai puncak kegembiraan setelah sebulan berpuasa. Dalam khazanah Islam, kebahagiaan seorang mukmin tidak berhenti pada Idulfitri maupun Iduladha. Ada lima momentum yang disebut sebagai hari raya karena nilai yang dikandungnya.

Pandangan ini bersumber dari riwayat sahabat Nabi Muhammad Saw, Anas bin Malik yang dikutip dalam Dzurrat an-Nashihin. Keterangan tersebut menjelaskan bahwa seorang mukmin memiliki lima hari raya dalam hidupnya, bahkan hingga setelah kematian. Ukuran “hari besar” tidak ditentukan oleh tanggal, tetapi oleh capaian iman.

Baca: Lebaran Adalah Hari Ketidaktahuan Manusia

1. Hari tanpa dosa

Riwayat tersebut dibuka dengan pernyataan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari:

لِلْمُؤْمِنِ خَمْسَةُ أَعْيَادٍ، الأَوَّلُ: كُلُّ يَوْمٍ يَمُرُّ عَلَى الْمُؤْمِنِ وَلَا يُكْتَبُ عَلَيْهِ ذَنْبٌ فَهُوَ يَوْمُ عِيدٍ

“Bagi seorang mukmin ada lima hari raya. Yang pertama, setiap hari yang dilalui tanpa dicatat dosa, maka itu adalah hari raya.”

Ukuran ini sederhana dan mudah dipahami. Nilai sebuah hari tidak ditentukan oleh suasana meriah atau hidangan, tetapi oleh catatan amal. Saat seseorang mampu menjaga diri dari dosa, baik yang tampak maupun tersembunyi, hari tersebut setara dengan hari raya.

Dari sudut pandang ini, “hari raya” tidak bergantung pada kalender. Dalam rutinitas sehari-hari selalu ada peluang untuk meraih nilai tersebut. Sekaligus menjadi ukuran harian apakah hari yang dijalani bersih atau justru dipenuhi kesalahan yang perlu diperbaiki.

Baca: Pisah Sambut Puasa dan Raya

2. Wafat dalam iman

Momentum kedua mengarah pada fase yang pasti dialami:

وَالثَّانِي: الْيَوْمُ الَّذِي يَخْرُجُ فِيهِ مِنَ الدُّنْيَا بِالإِيمَانِ وَالشَّهَادَةِ وَالْعِصْمَةِ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ فَهُوَ يَوْمُ عِيدٍ

“Yang kedua, hari ketika ia keluar dari dunia dalam keadaan beriman, bersyahadat, dan selamat dari tipu daya setan, maka itu adalah hari raya.”

Kematian kerap dipandang menakutkan. Dalam riwayat ini, kematian justru menjadi momen yang membahagiakan jika ditutup dengan iman. Di sinilah pentingnya husnul khatimah, penutup hidup yang baik.

Kebahagiaan terbesar bagi seorang mukmin terletak pada akhir hidupnya. Jika seseorang mampu keluar dari dunia dalam keadaan beriman, maka saat itu menjadi hari yang paling membahagiakan dalam seluruh perjalanan hidupnya.

Baca: Menyadari Kematian, Tirakat Paripurna Sayyidah Nafisah

3. Melewati shirath

Tahap berikutnya terjadi setelah kehidupan dunia berakhir:

وَالثَّالِثُ: الْيَوْمُ الَّذِي يُجَاوِزُ فِيهِ الصِّرَاطَ فَيَمُرُّ كَالْبَرْقِ مِنْ أَهْوَالِ الْقِيَامَةِ وَيَتَخَلَّصُ مِنَ النَّارِ فَهُوَ يَوْمُ عِيدٍ

“Yang ketiga, hari ketika ia melewati shirath seperti kilat dari dahsyatnya kiamat dan selamat dari neraka, maka itu adalah hari raya.”

Shirath digambarkan sebagai jembatan yang sangat tipis dan tajam, terbentang di atas neraka. Setiap manusia akan melewatinya dengan kecepatan dan hasil yang berbeda.

Bagi yang mampu melintas secepat kilat dan selamat, momen tersebut menjadi titik keselamatan dari ancaman terbesar dalam perjalanan manusia. Setelah itu, risiko neraka tidak lagi dihadapi.

Jika dibandingkan dengan kegembiraan di dunia, peristiwa ini berada pada tingkat yang jauh berbeda.

Baca: Makna Fitri Bukan Suci, Apalagi Kosong

4. Masuk surga

Momentum keempat adalah saat seseorang memasuki surga:

وَالرَّابِعُ: الْيَوْمُ الَّذِي يَدْخُلُ فِيهِ الْجَنَّةَ فَيَأْمَنُ مِنَ الْجَحِيمِ فَهُوَ يَوْمُ عِيدٍ

“Yang keempat, hari ketika ia masuk surga dan aman dari neraka, maka itu adalah hari raya.”

Masuk surga berarti memperoleh rasa aman sepenuhnya. Tidak ada lagi ketakutan, ancaman, maupun penyesalan. Gambaran ini juga memuat satu hal yang dekat dengan pengalaman manusia, yaitu kebersamaan.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa penghuni surga tidak hidup sendiri. Mereka berkumpul kembali dengan keluarga dan orang-orang terdekat.

Allah Swt berfirman:

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ

“(Yaitu) surga-surga ‘Adn. Mereka memasukinya bersama orang saleh dari leluhur, pasangan-pasangan, dan keturunan-keturunan mereka, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu.” (QS. Ar-Ra‘d: 23)

Baca: Tafsir QS. Al-A’la Ayat 14-15: Idulfitri yang Hakiki

Allah Swt juga menegaskan:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۗ كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

“Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga). Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Aṭ-Ṭūr: 21)

Penjelasan dari Ibnu Abbas memperkuat makna ini:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ ذُرِّيَّةَ الْمُؤْمِنِ فِي دَرَجَتِهِ وَإِنْ كَانُوا دُونَهُ فِي الْعَمَلِ لِتَقَرَّ بِهِمْ عَيْنُهُ

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat keturunan seorang mukmin ke derajatnya (di surga), meskipun mereka berada di bawahnya dalam amal, agar ia merasa bahagia dengan kedekatan mereka.”

Keterangan ini menunjukkan bahwa kebersamaan di akhirat merupakan bagian dari kenikmatan itu sendiri. Suasana berkumpul yang sering dirasakan saat Lebaran di dunia hadir kembali dalam bentuk yang lebih utuh.

Baca: Fitrah Adalah Komitmen Moral Berkelanjutan

5. Memandang Allah

Riwayat tersebut ditutup dengan momentum tertinggi:

وَالْخَامِسُ: الْيَوْمُ الَّذِي يَنْظُرُ فِيهِ إِلَى رَبِّهِ فَهُوَ يَوْمُ عِيدٍ

“Yang kelima, hari ketika ia memandang Tuhannya, maka itu adalah hari raya.”

Ini merupakan puncak dari seluruh perjalanan. Semua kenikmatan surga tidak sebanding dengan momen ketika seorang hamba diberi kesempatan melihat Allah.

Para ulama menyebutnya sebagai kenikmatan paling agung. Seluruh perjalanan, dari kehidupan dunia hingga akhirat, mencapai tujuan pada titik ini.

Makna ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad Saw:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, yakni saat berbuka dan saat berjumpa dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pemahaman ini memberi arah dalam memaknai kebahagiaan. Idulfitri tetap penting sebagai syiar dan momen kebersamaan, tetapi bukan satu-satunya ukuran.

Lima “hari raya” ini menunjukkan urutan yang jelas, dimulai dari menjaga diri dari dosa setiap hari, menyiapkan akhir hidup dengan iman, melewati fase genting di hari kiamat, meraih surga bersama orang-orang terdekat, hingga mencapai puncak perjumpaan dengan Allah. Kebahagiaan tidak berhenti pada satu hari, tetapi berlanjut tanpa batas.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.