Ikhbar.com: Di balik tembok tebal Vatikan pada abad ke-15, seorang pria berjubah kepausan kerap menghabiskan malam untuk menelaah sebuah naskah yang kala itu dianggap kontroversial. Enea Silvio Piccolomini, yang kemudian dikenal sebagai Paus Pius II, melakukan langkah intelektual yang jarang ditemui dalam sejarah gereja dengan mempelajari narasi Isra Mikraj secara mendalam.
Paus Pius II tidak memandang kisah perjalanan langit Nabi Muhammad Saw sebagai dongeng. Ia menjadikannya bahan kajian teologis sekaligus sarana diplomasi kebudayaan yang relevan pada masanya. Ketertarikannya terhadap naskah berjudul Liber Scalae Machometi (Buku Tangga Muhammad) menandai tumbuhnya perhatian Barat terhadap kosmologi Islam jauh sebelum era modern.
Liber Scalae Machometi merupakan karya sastra apokaliptik abad ke-13 yang memuat kisah perjalanan malam (Isra) dan kenaikan Nabi Muhammad Saw ke langit (Mikraj) secara rinci. Berdasarkan pengantar naskah, karya ini bersumber dari teks berbahasa Arab berjudul “Al-Miraj” yang diduga sebagai kompilasi hadis. Teks tersebut kemudian diterjemahkan atas perintah Raja Alfonso X dari Kastilia di Toledo.
Baca: Jejak Islam di Gereja Katolik
Proses penerjemahan berlangsung dalam dua tahap. Abraham dari Toledo menerjemahkannya dari bahasa Arab ke dalam bahasa Kastilia Kuno. Selanjutnya, Bonaventura da Siena menyempurnakannya ke dalam bahasa Latin dan Prancis Kuno pada 1264. Meski naskah ini mengeklaim sebagai penuturan langsung Nabi Muhammad Saw yang dicatat oleh Ibnu Abbas, para sejarawan menempatkannya sebagai karya kompilatif yang memadukan tradisi Islam dengan pengaruh tafsir Kristen dan Yahudi pada zamannya.
Jejak perjalanan naskah tersebut menuju pusat kekuasaan gereja tercatat melalui jalur transmisi intelektual di Spanyol. Versi Latinnya kemudian menjadi koleksi penting di Biblioteca Apostolica Vaticana dengan kode Latin 4072. Di Eropa Barat, buku ini sempat diposisikan sebagai “kitab kedua” Islam setelah Al-Qur’an dan dimanfaatkan sebagai bahan polemik teologis.
Namun, pengaruhnya justru melampaui tujuan polemik tersebut. Struktur sastranya mengilhami Divine Comedy (1816) karya Dante Alighieri. Sementara, isinya, menjadi rujukan kosmologis bagi Paus Pius II.
Melalui 85 bab yang menggambarkan tujuh lapisan langit dan wilayah neraka, Liber Scalae Machometi beralih fungsi dari teks kontroversial menjadi peta konseptual bagi para sarjana Renaisans dalam menelaah tatanan alam semesta.

Baca: Ketika Masjid dan Gereja Berbagi Seni
Diplomasi intelektual Vatikan
Usai jatuhnya Konstantinopel pada 1453, naskah berbahasa Latin tersebut telah berada di meja kerja Paus Pius II di Vatikan. Paus yang menjabat hingga 14 Agustus 1464 ini dikenal sebagai pemimpin Gereja Katolik sekaligus humanis Renaisans dengan minat besar pada ilmu pengetahuan.
Paus Pius II meyakini bahwa kekuatan peradaban tidak semata ditentukan oleh kemampuan militer. Menurutnya, visi kosmologis turut membentuk daya tahan suatu peradaban. Pada masa itu, Eropa berada dalam peralihan dari abad pertengahan menuju masa pencerahan. Pemahaman tentang struktur langit masih terpecah dan belum sistematis. Narasi Mikraj justru menyajikan gambaran kosmos yang bertingkat dan teratur, sehingga menarik perhatiannya sebagai rujukan untuk memahami arsitektur alam surgawi.
Situasi politik abad ke-15 ikut memengaruhi keputusan Paus untuk menelaah teks kosmologi dari tradisi Islam. Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih mengubah peta kekuasaan dunia secara drastis. Paus Pius II menyadari bahwa menghadapi kekuatan besar seperti Kesultanan Ottoman memerlukan pemahaman terhadap cara berpikir dan imajinasi spiritual umat Islam.
Norman Daniel, sejarawan terkemuka dalam kajian hubungan Islam dan Kristen, membahas hal ini dalam Islam and the West: The Making of an Image (1960). Ia mencatat bahwa Paus Pius II berada dalam tradisi intelektual yang menekankan pentingnya memahami Islam sebelum melakukan penolakan teologis.
Menurut Daniel, Paus mempelajari teks-teks tersebut untuk menelaah cara gambaran surga bekerja dalam imajinasi umat Muslim. Pendekatan ini menunjukkan pengakuan tersirat bahwa narasi Mikraj memiliki kedalaman sistemik yang patut diperhitungkan oleh teolog Kristen.
Kajian tersebut tidak diarahkan untuk menggoyahkan akidah. Tujuannya berkaitan dengan pencarian ruang dalam diplomasi kebudayaan. Pius II melihat koherensi yang kuat dalam visi kenaikan Nabi Muhammad Saw. Keteraturan itu membantunya menyusun argumen teologis yang lebih tertata dalam merespons kemajuan peradaban Islam, yang pada masa itu melampaui Eropa dalam bidang astronomi dan filsafat.
Baca: Mengapa Tempat Tidur Nabi masih Hangat hingga Sepulang dari Isra Mikraj?
Menelaah struktur surga
Fokus utama kajian Paus Pius II tertuju pada kisah perjalanan Rasulullah Saw dari satu lapisan langit ke lapisan berikutnya dalam peristiwa Mikraj. Narasi tersebut digambarkan secara rinci, lengkap dengan penjaga dan karakteristik setiap dimensi.
Bagi Pius II, uraian tentang Mikraj mampu menghadirkan gambaran kosmos yang jauh lebih tertata dibandingkan peta langit yang dimiliki para sarjana Barat pada zamannya.
Ketertarikannya terhadap detail Mikraj memengaruhi diskursus intelektual di Italia. Para sarjana Renaisans di sekitar lingkaran kepausan mulai memandang isi buku itu sebagai model arsitektur surgawi yang layak dikaji. Pandangan ini berdampak pada upaya penyusunan ulang peta kosmologis dengan pendekatan yang lebih filosofis dan sistematis.
Proses pemetaan tersebut diperkuat oleh kesadaran bahwa narasi Mikraj memiliki titik temu dengan tradisi mistik Kristen tertentu. Gagasan tentang kenaikan jiwa menuju hadirat Ilahi membuka ruang dialog spiritual, meskipun hubungan politik kedua pihak berada dalam ketegangan. Pengakuan atas keteraturan kosmos dalam Islam menjadi pijakan bagi pemikir Barat untuk menelaah langit secara lebih objektif.
Bukti kajian mendalam Paus Pius II terlihat dalam surat terkenalnya, Epistola ad Mahometum II atau Surat kepada Mehmed II. Dalam dokumen abad ke-15 tersebut, hasil penelaahan terhadap Isra Mikraj memengaruhi gaya diplomasi yang digunakan. Paus memilih bahasa yang menekankan pencarian kesamaan spiritual dan menghindari nada menghakimi.
Baca: Kafir Quraisy Kecele Fakta Isra Mikraj
Dalam surat itu, Paus Pius II menuliskan pernyataan yang tergolong berani bagi pemimpin gereja pada masanya. Ia mengakui bahwa tulisan-tulisan umat Islam memuat penghormatan besar terhadap para nabi dan menggambarkan perjalanan menuju Tuhan yang esensinya sejalan dengan pencarian spiritual umat Kristen. Pernyataan ini menunjukkan pengakuannya atas kemiripan mendasar antara Mikraj dan aspirasi rohani Kristen, serta mencerminkan integritas intelektualnya sebagai seorang humanis.
Pemahaman tersebut membantu Paus merumuskan pendekatan yang lebih persuasif kepada Sultan Mehmed II. Dengan mengenali geografi surga menurut tradisi Islam, ia berupaya membangun kesamaan nilai sebagai dasar dialog perdamaian. Meski surat tersebut kerap dibaca sebagai instrumen politik, isinya tetap memperlihatkan pengakuan mendalam terhadap visi spiritual yang terkandung dalam peristiwa Isra Mikraj.
Warisan intelektual ini menghadirkan ironi sejarah yang kuat. Ketika peperangan berlangsung di Konstantinopel, seorang Paus justru menimba hikmah dari tradisi yang dipandang sebagai lawan. Riset Pius II terhadap Liber Scalae Machometi melampaui kepentingan politik sesaat. Kajian tersebut menunjukkan pengakuan bahwa narasi Mikraj menyediakan kerangka pemahaman kosmos yang lebih jelas bagi Eropa yang tengah mencari bentuk pengetahuan tentang alam semesta.