Ikhbar.com: Ramadan kerap hadir sebagai penanda harapan akan perbaikan diri. Di sela ibadah yang semakin intens, aktivitas membaca sering menjadi jeda untuk berpikir jernih, menata kembali arah hidup, serta memperluas pemahaman keislaman.
Sejumlah buku ditulis khusus untuk menemani pembaca menjalani bulan suci melalui beragam pendekatan, mulai dari refleksi keagamaan, percakapan lintas latar, sampai pembahasan relasi serta kehidupan sehari-hari.
Lima buku berikut patut dipertimbangkan sebagai bacaan selama Ramadan:
Baca: Ikhbar.com Rilis Buku Panduan Ramadan Berbasis Keluarga dan Sosial
1. Kontemplasi Ramadan – Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar
Buku setebal 209 halaman ini menempatkan Ramadan sebagai ruang perenungan yang luas serta bertingkat. Menteri Agama (Menag) RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, memandang Ramadan sebagai proses pembentukan mutu pribadi, bukan rutinitas tahunan. Terbit pada 2020, Kontemplasi Ramadan mengajak pembaca memahami puasa, ibadah, serta hubungan sosial dalam kerangka spiritual yang menyeluruh.

Cendekiawan Muslim berwawasan moderat itu menggambarkan Ramadan sebagai rumah spiritual tempat nilai toleransi, persaudaraan, dan latihan pengendalian diri menemukan konteksnya. Uraian mengenai kesabaran, tawakal, serta ketekunan disampaikan melalui penjelasan yang runtut dan mudah diikuti.
Nuansa sufistik pun terasa kuat tanpa kehilangan kejelasan bahasa. Buku ini relevan bagi pembaca yang ingin memaknai Ramadan sebagai sarana refleksi, bukan sekadar penambahan aktivitas ibadah.
Baca: Menag Ungkap Bahaya Adu Domba Atas Nama Agama
2. Log in: Habib & Onad – Habib Husein Ja’far Al Hadar
Pendekatan berbeda hadir melalui Log in: Habib & Onad karya pendakwah populer, Habib Husein Ja’far Al Hadar. Buku terbitan 2025 ini merekam persahabatan antara Habib Ja’far dan Onadio Leonardo, musisi dan artis yang dikenal dengan sapaan Onad. Perbedaan latar belakang justru melahirkan dialog segar seputar Islam dan dinamika kehidupan.
Sepanjang 208 halaman, Habib Ja’far menanggapi pertanyaan sederhana yang kerap muncul di kalangan muda. Bahasan mengenai larangan keagamaan, makna simbol ibadah, serta dasar akidah disampaikan dengan gaya ringan, jenaka, dan tetap beralasan. Buku ini memperlihatkan bahwa pembahasan agama dapat berlangsung cair tanpa kesan menggurui.

Selama Ramadan, Log in: Habib & Onad layak dibaca sebagai teman refleksi yang menyenangkan sekaligus mendorong sikap kritis terhadap praktik beragama.
Baca: Begini Gambaran Orang Ghibah saat Ramadan menurut Habib Ja’far
3. Ternyata Tanpamu – Natasha Rizky
Ternyata Tanpamu hadir sebagai prosa reflektif yang ringkas dan personal. Aktris dan presenter, Natasha Rizky, menuangkan pengalaman emosional tentang kehilangan, harapan, serta proses kembali bersandar kepada Tuhan. Buku setebal 108 halaman ini terbit pada 2025 dan dapat diselesaikan dalam satu atau dua kali duduk, dengan kesan yang bertahan lebih lama.
Gaya tutur disusun tanpa kerumitan. Perasaan terkait ekspektasi, kekecewaan, serta kesadaran terhadap cinta Ilahi dirangkai melalui bahasa sederhana bernuansa puitis. Buku ini relevan bagi pembaca yang menjalani Ramadan sambil membawa kisah pribadi, baik soal relasi, perubahan hidup, maupun proses penerimaan.
Ternyata Tanpamu mengingatkan bahwa kehilangan sering membuka jalan menuju pemahaman diri yang lebih jujur.

Baca: Terasa Berat Menanggung Pekerjaan Rumah Tangga saat Ramadan? Ini Tips Ning Uswah untuk Perempuan
4. Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian – Ning Uswah Syauqie
Tema pernikahan serta relasi kerap memicu kegelisahan, terutama di kalangan muda. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, Jawa Timur, Ning Uswah Syauqie merespons persoalan tersebut melalui Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian, buku setebal 194 halaman yang terbit pada 2025. Dengan gaya tutur akrab dan lugas, praktisi Fikih Perempuan itu mengajak pembaca berdialog mengenai cinta, ikhtiar, serta realitas kehidupan rumah tangga.
Pembahasan mencakup proses memilih pasangan, mengenali diri, menjaga hubungan, hingga keberanian menentukan sikap dalam relasi. Perspektif Islam disampaikan sebagai panduan tanpa nada menghakimi sehingga memberi rasa lega.

Selama Ramadan, buku ini dapat menjadi bacaan reflektif bagi pembaca yang sedang menata niat, menghadapi tekanan sosial terkait pernikahan, atau ingin memahami hubungan secara lebih sehat dan sadar.
5. Peta Jalan Ramadan – Tim Redaksi Ikhbar.com
Sebagai panduan terstruktur, Peta Jalan Ramadan: Menata Ibadah, Keluarga, hingga Kepedulian terhadap Sesama menawarkan pendekatan kolektif dalam memahami bulan suci. Buku terbitan 2026 ini disusun oleh Tim Redaksi Ikhbar.com dan merangkum hasil wawancara dengan berbagai narasumber dari program Sinikhbar | Siniar Ikhbar di Ikhbar TV. Dengan ketebalan 166 halaman, buku ini menyasar pembaca yang ingin menjalani Ramadan secara terarah.
Isinya membahas pengelolaan ibadah, hubungan keluarga, serta kepedulian sosial sebagai satu rangkaian proses.
Ramadan ditempatkan sebagai sarana pembentukan sikap berkelanjutan, bukan agenda tahunan yang cepat berlalu.
Melalui bahasa jurnalistik yang rapi dan reflektif, Peta Jalan Ramadan relevan bagi pembaca yang ingin merancang Ramadan dengan tujuan jelas serta dampak nyata setelah bulan suci berakhir.

Kelima buku tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas membaca selama Ramadan dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual. Setiap judul menghadirkan sudut pandang berbeda yang mendorong pemahaman diri secara lebih mendalam. Dengan pilihan bacaan yang tepat, Ramadan dapat dijalani dengan kesadaran yang lebih terarah dan bermakna.