Kenapa Santri Mencium Tangan Kiai? Begini Dalil Gus Rifqil

Gus Rifqil Muslim saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar, bertema Menilai Pesantren dengan Adil ala Gus Rifqil, di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Ikhbar.com: Praktik santri mencium tangan kiai kerap memicu perdebatan di ruang publik. Sebagian memandangnya sebagai simbol feodalisme, sementara pihak lain menilainya sebagai bentuk penghormatan.

Pendakwah muda, KH Rifqil Muslim Suyuthi, atau yang akrab disapa Gus Rifqil Muslim, menjelaskan bahwa tradisi yang pernah viral melalui video santri berjalan menunduk sambil mencium tangan kiai itu sejatinya berlangsung tanpa paksaan dan merupakan wujud akhlak murid kepada guru.

“Coba kita tanya ke santri itu. Itu perintah kiai atau kemauan santri sendiri? Pasti kemauan (kerelaan) saya sendiri,” ujarnya dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertema Menilai Pesantren dengan Adil ala Gus Rifqil di Ikhbar TV, dikutip pada Selasa, 13 Januari 2026.

Gus Rifqil Muslim (Kanan) saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar, bertema Menilai Pesantren dengan Adil ala Gus Rifqil, di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Baca: Pesantren Setia di Jalan Maqashid Syariah

Menurut Gus Rifqil, gestur tersebut bukan kultus individu, melainkan penghormatan kepada ilmu dan mata rantai keilmuan Islam. Dalilnya adalah QS. Al-Mujādalah: 11, Allah Swt berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

“Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikmah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah itu juga menguraikan dasar praktik tersebut melalui tradisi ulama sejak masa Nabi.

Ia mengutip riwayat yang menjelaskan keutamaan mencium tangan ahli ilmu:

مَنْ صَافَحَنِي أَوْ صَافَحَ مَنْ صَافَحَنِي إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang berjabat tangan denganku (Rasulullah Muhammad Saw) atau berjabat tangan dengan orang yang pernah berjabat tangan denganku hingga hari kiamat, maka masuk surga.”

“Tujuannya itu dalam rangka ‘ngalap‘ (mengambil) berkah. Yang dihormati adalah ahlul ilmi (pemilik ilmu), bukan individualnya,” tegasnya.

Gus Rifqil menilai bahwa tradisi pesantren tidak dapat diukur memakai kacamata modern karena memiliki konteks berbeda.

“Sebenarnya, banyak juga loh para kiai yang menarik tangan saat hendak dicium santrinya karena merasa belum selayak itu (rendah hati) untuk dihormati,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa adab tidak mematikan nalar kritis santri. Penghormatan kepada guru tidak membuat santri abai terhadap kepekaan terhadap problem sosial.

“Kiai pun manusia, apalagi cuma Gus atau Ning (putra-putri kiai), tentu tidak maksum (bebas dari khilaf),” tuturnya.

Baca: Dari Menunduk hingga Mencium Anggota Tubuh, Ini 5 Akhlak Para Sahabat kepada Nabi

Tokoh Muda NU Paling Berpengaruh Ikhbar.com (2023) ini mengingatkan bahwa sebagian kesalahpahaman muncul dari mereka yang belum pernah merasakan kehidupan pesantren. Ada pengalaman emosional dan spiritual yang tidak dapat dijelaskan secara cepat.

“Kalau orangnya enggak pernah mengalami, ya memang enggak bisa dijawab ini sebenarnya,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi mencium tangan kiai merupakan bagian dari kultur pendidikan Islam yang membentuk sikap hormat kepada ilmu dan tidak berdiri sebagai ritual hampa.

“Seperti Firman Allah Swt tadi, derajat orang diangkat karena standar keilmuannya,” katanya.

Obrolan selengkapnya bisa disimak di:

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.