Ponpes Ketitang menurut Ketua LBM NU Cirebon

Prosesi Khatmil Qur'an Pondok Pesantren Ketitang Cirebon. Foto: Ikhbar/FSJ

Ikhbar.com: Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon, KH Imam Nawawi menilai Pondok Pesantren Ketitang Cirebon memiliki arah pengembangan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dakwah Islam saat ini. Pesantren tersebut dinilai mampu memadukan tradisi keilmuan salaf dengan pendekatan modern tanpa meninggalkan akar pendidikan Islam klasik.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pertimbangan PCNU Kabupaten Cirebon dalam menunjuk Ponpes Ketitang sebagai tuan rumah Bahtsul Masail dalam rangka memperingati Hari Santri 2026. Kegiatan itu dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 1 November 2026.

Menurut Kiai Nawawi, Ponpes Ketitang tengah mengembangkan model pendidikan yang mengintegrasikan kajian kitab turats dengan berbagai pendekatan baru yang dibutuhkan untuk mendukung pendidikan dan dakwah Islam.

“Ponpes Ketitang adalah pesantren yang sedang menapaki langkah yang tepat menuju pesantren transformatif. Pesantren ini memadukan pendidikan berbasis salaf, terutama kajian turats, dengan berbagai hal baru yang dibutuhkan untuk dakwah Islam,” ujar Kiai Nawawi.

Baca: Ponpes Ketitang Jadi Tuan Rumah Bahtsul Masail NU Cirebon

Ia menjelaskan, tradisi keilmuan salaf merupakan salah satu ciri penting pendidikan pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama. Tradisi tersebut perlu dipertahankan sekaligus dikembangkan agar pesantren mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Dalam pandangannya, pengembangan pendidikan pesantren juga perlu memberikan perhatian besar terhadap pemahaman Al-Qur’an. Proses pembelajaran idealnya membantu generasi muda memahami kandungan dan pesan Al-Qur’an, bukan hanya menguasai kemampuan membaca dan menghafalnya.

Kiai Nawawi mengaitkan pandangan tersebut dengan prinsip khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu, yang berarti sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.

Menurutnya, prinsip tersebut dapat menjadi landasan bagi pesantren dalam membangun pendidikan Al-Qur’an yang berorientasi pada pemahaman. Kemampuan membaca dan menghafal tetap penting, tetapi keduanya perlu menjadi bagian dari proses pendidikan yang membantu santri memahami isi kitab suci.

“Yang namanya pendidikan itu bagaimana memahamkan generasi muda kepada kandungan dan isi Al-Qur’an,” katanya.

Kiai Nawawi menilai, pendekatan pendidikan semacam itu relevan dengan kebutuhan dakwah Islam di tengah perkembangan zaman. Pesantren perlu membekali generasi muda dengan pemahaman keagamaan yang kuat agar mampu menghayati ajaran Islam dan menerapkannya dalam kehidupan.

Ia juga melihat perpaduan tradisi salaf dan pendekatan baru sebagai karakteristik yang penting bagi pengembangan pesantren. Kajian kitab klasik tetap menjadi fondasi, sementara pembaruan pendekatan pendidikan dapat membantu pesantren memperluas jangkauan dakwahnya.

“Pengembangan pesantren transformatif tidak berarti meninggalkan tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama. Sebaliknya, tradisi tersebut menjadi pijakan untuk merespons kebutuhan pendidikan dan dakwah yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.