Selat Hormuz Ditutup, Ini Dampak dan Strategi Penting bagi Indonesia menurut Prof. Rokhmin

Tangkapan layar saat Prof. Rokhmin Dahuri menjadi narasumber dalam program Indonesia Bicara bertajuk "Menilik Pasokan Energi dan Pangan Indonesia di Tengah Gejolak Perang" di TVRI, Kamis, 5 Maret 2026. Dok IKHBAR

Ikhbar.com: Ketegangan geopolitik global berpotensi memengaruhi stabilitas energi dan pangan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu titik rawan yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, jalur utama distribusi energi dunia yang memegang peran penting dalam rantai pasok minyak global.

Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri mengingatkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil masih sangat besar. Ia menilai potensi gangguan pada jalur distribusi energi global dapat berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi dan ketahanan pangan nasional.

“Bangunan energi nasional kita let say (katakanlah) 80% masih mengandalkan energi fosil. Terutama dari minyak, gas, batu bara,” kata Prof. Rokhmin saat menjadi narasumber dalam program Indonesia Bicara bertajuk “Menilik Pasokan Energi dan Pangan Indonesia di Tengah Gejolak Perang” di TVRI, Kamis, 5 Maret 2026.

Baca: Live di TVRI, Prof. Rokhmin Ungkap Tiga Tantangan Pangan Indonesia: Dari Perang hingga Cuaca

Prof. Rokhmin menjelaskan, kebutuhan minyak nasional masih banyak dipenuhi melalui impor. Indonesia diperkirakan mengimpor sekitar 1,4 juta barel minyak setiap hari untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

Kondisi tersebut membuat Indonesia cukup rentan terhadap gangguan pasokan global, terutama jika jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz mengalami penutupan akibat konflik geopolitik.

“Nah, kalau jantung rantai pasok, yang notabene adalah Selat Hormuz, katakanlah ditutup, pasti akan berdampak,” ujar mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut.

Dampak gangguan energi, lanjutnya, tidak berhenti pada sektor energi. Ketersediaan bahan bakar minyak sangat menentukan kelancaran distribusi pangan nasional, mulai dari transportasi, pengolahan, hingga pengiriman ke berbagai wilayah.

Karena itu, Prof. Rokhmin menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar ketahanan energi dan pangan tetap terjaga jika situasi global semakin memburuk.

Selain memperkuat produksi energi domestik, pemerintah juga perlu mencermati ketergantungan terhadap impor pangan tertentu. Beberapa komoditas strategis seperti gandum dan kedelai masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa impor gandum Indonesia mencapai sekitar 10 juta ton per tahun, sementara sekitar 85 persen kedelai masih didatangkan dari Amerika Serikat (AS). Konflik global berpotensi mengganggu kelancaran perdagangan komoditas tersebut.

Baca: Ini 3 Dinamika Global yang Harus Diwaspadai Indonesia menurut Prof. Rokhmin

Dalam kondisi tersebut, menurutnya, langkah yang perlu ditempuh adalah memperkuat kemandirian pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Prof. Rokhmin juga menyoroti pentingnya diversifikasi pangan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Indonesia memiliki potensi sumber pangan lokal yang besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.

Ia mencontohkan tanaman sagu yang banyak ditemukan di wilayah timur Indonesia. Komoditas tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan pangan alternatif pengganti gandum.

“Saya sudah berkunjung berkali-kali ke Meranti, Riau, ternyata sagu itu bahan mi yang bagus dan tidak kalah dengan gandum,” ujarnya.

Menurut dia, pengembangan pangan lokal seperti sagu membutuhkan dukungan industri dan intervensi kebijakan pemerintah agar ketergantungan pada bahan baku impor dapat dikurangi.

Selain itu, pola konsumsi masyarakat Indonesia yang sangat tinggi terhadap beras dinilai perlu diimbangi dengan sumber pangan lain agar sistem pangan nasional lebih kuat menghadapi berbagai guncangan global.

“Edukasi konsumsi pangan juga penting dilakukan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.