Ikhbar.com: Pembina Pondok Pesantren Al-Muflihin Gebang, Cirebon, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri menyebut bahwa Ramadan harus menjadi momentum memperkuat ukhuwah, integritas, dan kepemimpinan umat dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan.
Penegasan tersebut ia sampaikan saat menjadi tuan rumah buka puasa bersama yang digelar di kediamannya di Bogor pada Ahad, 1 Maret 2026.
Kegiatan yang menghadirkan sejumlah tokoh nasional tersebut digelar oleh MD KAHMI dan ICMI Orwilsus Bogor sebagai bagian dari agenda rutin Ramadan. Tradisi silaturahmi yang telah berlangsung sejak 1995 itu kembali mempertemukan lebih dari 300 jamaah, terdiri atas tokoh nasional, akademisi, pejabat publik, serta berbagai elemen masyarakat dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Hadir dalam kesempatan itu Wakil Menteri Agama (Wamenag) Dr. KH. Romo H. R. Muhammad Syafi’i, Wali Kota Bogor periode 2025–2030 Dedie A. Rachim, serta Rektor IPB University periode 2023–2028 Dr. Alim Setiawan Slamet. Sejumlah pimpinan IPB University dan tokoh masyarakat lainnya juga turut mengikuti rangkaian kegiatan.
Dalam sambutannya, Prof. Rokhmin menekankan bahwa kemajuan bangsa tidak dapat dilepaskan dari kekuatan moral dan spiritual umat.
“Kemakmuran bangsa hanya dapat diraih dengan menjalankan perintah Allah Swt dan meneladani ajaran Nabi Muhammad Saw. Tanpa fondasi nilai yang kokoh, pembangunan akan kehilangan arah dan keberkahan,” ujar sosok yang juga anggota Komisi IV DPR RI itu.
Baca: Prof. Rokhmin Serukan Jihad Maritim demi Kedaulatan Laut Indonesia
Ia menjelaskan bahwa nilai kejujuran, amanah, kerja keras, dan kepedulian sosial harus menjadi karakter utama dalam kehidupan berbangsa.
“Nilai kejujuran, amanah, kerja keras, serta kepedulian sosial harus menjadi fondasi utama kebangkitan umat dan bangsa. Inilah modal sosial yang akan membawa Indonesia menjadi negara yang kuat dan bermartabat,” tegas Prof. Rokhmin.
Prof. Rokhmin juga menyinggung dinamika geopolitik global yang hingga kini masih diwarnai konflik di berbagai kawasan. Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut menuntut bangsa Indonesia untuk tetap solid dan tidak terpecah oleh perbedaan.
“Perbedaan pandangan dan pilihan politik tidak boleh memecah belah; soliditas dan ukhuwah harus tetap dijaga sebagai kekuatan menghadapi tantangan zaman. Sejarah menunjukkan bahwa Ramadan kerap menjadi momentum lahirnya persatuan dan kebangkitan,” katanya.
Sementara itu, Wamenag dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa Ramadan merupakan proses pendidikan batin yang berlangsung bertahap, mulai dari rahmat, maghfirah, hingga pembebasan dan penguatan takwa.
“Ibadah tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus melahirkan transformasi sosial yang nyata. Ilmu dan jabatan hanya bernilai apabila memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat dan bangsa,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama, buka puasa, dan salat Magrib berjamaah yang berlangsung di kediaman Prof. Rokhmin Dahuri dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan.