Ikhbar.com: Kategori Sunni dan Syiah tidak dapat begitu saja dilekatkan pada tokoh-tokoh Islam abad awal. Hal tersebut ditegaskan Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina sekaligus Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, KH Marzuki Wahid, dalam Ngaji Pasanan Pemikiran Islam (NPPI) II bertema “Studi Pemikiran Sayyidah Nafisah” di Kampus Transformatif ISIF Cirebon.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menanggapi pertanyaan peserta mengenai tirakat dan kecenderungan fikih Sayyidah Nafisah yang dinilai dekat dengan corak Ja’fari. Di sisi lain, tokoh tersebut memiliki hubungan erat dengan Imam Syafi’i yang dalam konstruksi mutakhir dikenal sebagai bagian dari mazhab Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
“Kita jangan membayangkan Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Sayyidah Nafisah, dan lainnya seperti kondisi Sunni-Syiah sekarang,” ujar Kiai Marzuki, Kamis, 26 Februari 2026.

Baca: Syiah masih Islam
Menurut Kiai Marzuki, kategorisasi tegas Sunni dan Syiah dalam bentuk seperti saat ini merupakan hasil perkembangan sejarah yang panjang. Pada masa Imam Syafi’i (w. 820 M) maupun Imam Ahmad bin Hanbal (w. 855 M), lanskap pemikiran Islam masih cair dan dinamis.
“Sunni-Syiah itu muncul belakangan dalam bentuk identitas teologis dan politik yang mapan. Kalau sekadar identifikasi kecenderungan ilmu mungkin ada, tetapi belum seperti sekarang,” katanya.
Secara historis, embrio perbedaan politik telah muncul sejak wafatnya Nabi Muhammad pada 632 M, terutama dalam perdebatan suksesi kepemimpinan. Kelompok yang mendukung kepemimpinan Ali bin Abi Thalib kemudian dikenal sebagai Syiah (dari kata syi’ah Ali. Pengikut Ali), sementara mayoritas umat yang menerima kepemimpinan para khalifah disebut Ahlussunnah.
“Namun, sebagai mazhab teologi dan fikih yang sistematis, pembakuan identitas tersebut berlangsung jauh setelah periode awal Islam,” katanya.
Pada abad ke-8 dan ke-9 M, para imam besar seperti Imam Ja’far al-Shadiq (w. 765 M), Imam Abu Hanifah (w. 767 M), Imam Malik (w. 795 M), Imam Syafi’i, serta Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam jaringan keilmuan yang saling bersinggungan. Imam Ja’far al-Shadiq diakui sebagai guru bagi banyak ulama lintas kecenderungan, termasuk Abu Hanifah dan Malik bin Anas.
“Semua merujuk pada Imam Ja’far Shadiq sebagai mata rantai penting transmisi ilmu. Jadi jangan dibayangkan ada sekat-sekat keras seperti hari ini,” tutur Kiai Marzuki.
Baca: Kiai Marzuki Wahid: Ramadan Harus Jadi Sarana Refleksi dan Introspeksi Diri
Kiai Marzuki menambahkan, Imam Syafi’i tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai pendiri mazhab. Pemikirannya dihimpun, dikodifikasi, serta dikembangkan oleh murid-muridnya setelah wafatnya.
“Imam Syafi’i pun tidak merasa dirinya imam mazhab. Yang mengkristalkan itu para muridnya,” ujarnya.
Karena itu, menurut Kiai Marzuki, pembacaan relasi antara Sayyidah Nafisah dan Imam Syafi’i harus ditempatkan dalam konteks sejarah abad kedua Hijriah, ketika otoritas keilmuan dibangun melalui jaringan guru-murid, bukan melalui identitas mazhab yang kaku.
“Kalau kita pakai kacamata sekarang, kita bisa salah membaca sejarah,” pungkasnya.