Ini 3 Dinamika Global yang Harus Diwaspadai Indonesia menurut Prof. Rokhmin

Dinamika global yang bergerak cepat menuntut perhatian serius dari pemerintah Indonesia agar tidak tertinggal dalam persaingan antarbangsa.
Ilustrasi perang. Dok REUTERS

Ikhbar.com: Dinamika global yang bergerak cepat menuntut perhatian serius dari pemerintah Indonesia agar tidak tertinggal dalam persaingan antarbangsa.

Dalam Webinar Nasional bertajuk “Ekolinguistik: Bahasa, Lingkungan, dan Kesadaran Ekologis dalam Wacana Publik” yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Press dan Kampung Inggris Purbalingga (KEEP), pakar kelautan, Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri memaparkan sejumlah tantangan besar yang sedang dihadapi dunia.

Prof. Rokhmin menekankan bahwa ketegangan geopolitik yang kian meruncing menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai Indonesia. Contohnya meliputi perang Rusia dan Ukraina, genosida Israel terhadap bangsa Palestina, serta konflik Israel dan Iran.

“Yang terbaru, agresivitas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mendorong aneksasi Venezuela maupun Greenland juga perlu dicermati dampaknya,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004 tersebut, Sabtu, 17 Januari 2026.

Baca: Prof Rokhmin: Pembangunan di Indonesia Harus Didasari Prinsip ‘Taubatan Nasuha’

Selain geopolitik, Anggota Komisi IV DPR RI ini menyoroti kembali memanasnya perang dagang global akibat kebijakan kenaikan tarif barang impor ke AS. Tantangan ketiga yang tidak kalah penting adalah disrupsi teknologi pada era Industri 4.0, terutama perkembangan kecerdasan buatan dan robotika yang sangat cepat.

“Jika pemerintah tidak mengantisipasi dampak ini secara tepat, investasi asing, perdagangan, dan ekspor Indonesia akan menurun. Banyak pabrik berpotensi tutup, produksi pangan melemah, dan pertumbuhan ekonomi terhambat,” ujarnya.

Salah satu slide yang dipaparkan Pakar Kelautan, Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri, saat menjadi pembicara kunci dalam Webinar Nasional bertajuk “Ekolinguistik: Bahasa, Lingkungan, dan Kesadaran Ekologis dalam Wacana Publik,” yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Press dan Kampung Inggris Purbalingga (KEEP), Sabtu, 17 Januari 2026. Dok IKHBAR

Menurut Prof. Rokhmin, kondisi tersebut dapat mendorong lonjakan pengangguran dan kemiskinan. Sebagai jalan keluar, ia menawarkan arah pembangunan yang menitikberatkan pada penguatan daya saing nasional.

“Indonesia perlu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dengan rata-rata di atas 7 persen per tahun,” ungkapnya.

Pertumbuhan tersebut, lanjut Prof. Rokhmin, harus memiliki kualitas yang kuat, menyerap tenaga kerja, bersifat inklusif, ramah lingkungan, serta berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan daya saing yang relatif lebih murah dan cepat bagi Indonesia harus bertumpu pada keunggulan komparatif nasional.

“Bagi Indonesia, keunggulan komparatif itu adalah sektor agro-maritim,” ujar Prof. Rokhmin.

Baca: 5 Indikator Ketahanan Pangan menurut Prof. Rokhmin

Secara makro, pemerintah berkewajiban menyediakan infrastruktur yang memadai sekaligus menciptakan iklim investasi dan kemudahan berusaha yang kondusif. Langkah ini menjadi bagian dari strategi sistemik untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah menuju negara maju.

Target Indonesia Emas 2045, menurutnya, hanya dapat dicapai apabila prasyarat kemajuan tersebut dipenuhi. Visi ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tengah tekanan global yang kompleks.

“Dengan pengelolaan yang tepat, Indonesia berpeluang mencapai GNI per kapita di atas 14.005 hingga 33.000 dolar AS, sehingga stabilitas nasional dapat terjaga di tengah gejolak global,” pungkas Prof. Rokhmin.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.