Ikhbar.com: Bayangkan sebuah perjalanan yang menempuh jarak miliaran tahun cahaya, sangat jauh, hingga melampaui batas galaksi, tetapi ketika sang pengelana kembali, bantal masih menyimpan panas tubuh dan air wudu di lantai belum benar-benar mengering.
Selama berabad-abad, detail tentang tempat tidur yang tetap hangat dalam kisah Isra Mikraj dipahami sebagai penguat peristiwa tersebut. Dalam pembacaan fisika modern, detail ini membuka ruang penjelasan mengenai relativitas waktu dan perbedaan durasi antar-kerangka acuan.
Pertanyaan kemudian muncul, apakah hukum fisika terganggu atau justru bekerja dalam tatanan yang belum terjangkau pengalaman manusia sehari-hari?
Baca: Isra Mikraj di Mata Sains: Seperti Melompati Ujung Huruf U
Analisis termodinamika dan teori kelenturan waktu
Keterangan mengenai suhu alas tidur menunjukkan bahwa durasi perjalanan Nabi Muhammad Saw di langit tidak berlangsung seiring dengan waktu di bumi.
Al-Qur’an telah memberikan landasan peristiwa ini dalam QS. Al-Isra: 1. Allah Swt berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya425) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Penggunaan kata “lailan” dalam bentuk nakirah (umum) menunjukkan durasi yang tidak ditentukan dan sangat singkat. Rentang waktu yang terbatas ini menggambarkan alasan mengapa panas pada tempat tidur belum hilang ke udara sekitar. Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui pendekatan termodinamika dan relativitas waktu.
Dalam kajian fisika, panas tubuh berpindah ke kain melalui konduksi termal. Setelah seseorang bangkit dari tempat tidur, suhu kain menurun mengikuti prinsip pendinginan alami menuju kesetimbangan dengan suhu ruangan. Laju penurunan suhu ditentukan oleh sifat material kain dan kondisi udara.
Fakta bahwa tempat tidur Rasulullah Saw tetap hangat memperlihatkan bahwa selang waktu antara keberangkatan dan kepulangan berlangsung sangat singkat dalam ukuran waktu bumi. Jika perjalanan tersebut memerlukan durasi panjang menurut ukuran kosmik, alas tidur tentu sudah mencapai suhu ruangan ketika Nabi Saw kembali.
Baca: Misteri Mikraj Perspektif Fisika Modern
Riwayat tentang air wudu yang masih mengalir di lantai turut mendukung indikasi ini. Gravitasi bumi menarik cairan menuju titik terendah secara konstan. Kondisi air yang belum mencapai kesetimbangan menunjukkan bahwa peristiwa Isra Mikraj, dalam kerangka waktu bumi, terjadi lebih cepat daripada proses alami aliran air. Dalam realitas fisik di Makkah, Nabi Muhammad tampak pergi dan kembali dalam waktu yang amat pendek.
Penjelasan ilmiah yang relevan mengenai perbedaan durasi waktu dapat ditemukan dalam Teori Relativitas Khusus. Fisikawan kenamaan, Albert Einstein, menguraikan konsep tersebut dalam Zur Elektrodynamik bewegter Körper yang dimuat di jurnal Annalen der Physik (1905). Dalam tulisan itu, Einstein meninjau ulang pandangan pendahulunya, Isaac Newton yang memandang waktu sebagai sesuatu yang mutlak.
Relativitas menunjukkan bahwa waktu bergantung pada keadaan gerak. Ketika suatu objek bergerak sangat cepat, waktu yang dialaminya berjalan lebih lambat dibandingkan waktu pada kerangka acuan yang diam. Gagasan ini diperdalam Einstein dalam Relativity The Special and General Theory (1916), khususnya pada pembahasan mengenai perilaku pengukuran waktu dan panjang dalam sistem bergerak.
Dengan kerangka tersebut, jam biologis Nabi Muhammad Saw yang bergerak dalam kecepatan sangat tinggi selama Mikraj, berjalan jauh lebih lambat dibandingkan waktu masyarakat Makkah yang berada dalam keadaan diam.
Perjalanan panjang yang dialami Rasulullah Saw dapat terkompresi menjadi durasi sangat singkat saat diukur dari bumi. Penjelasan fisika inilah yang membuat kehangatan alas tidur tetap bertahan.
Baca: Kafir Quraisy Kecele Fakta Isra Mikraj
Mekanisme perpindahan dimensi
Pembacaan fisika ini mendapat perhatian dari ilmuwan muslim kontemporer yang menghubungkan kosmologi modern dengan teologi. Bruno Guiderdoni, astrofisikawan dan Direktur Riset di Centre National de la Recherche Scientifique, Prancis, membahas perjalanan Mikraj dalam konteks lintasan kosmik berdimensi tinggi.
Dalam kajian yang dipublikasikan pada 2015, Guiderdoni memandang Mikraj sebagai perjalanan vertikal yang menembus lapisan alam semesta, sehingga hukum ruang dan waktu linier tidak bekerja secara mutlak.
Pendekatan senada dikemukakan Mehdi Golshani, fisikawan teoretis dan filsuf sains dari Sharif University of Technology. Dalam The Holy Qur’an and the Sciences of Nature (1986), Golshani menekankan bahwa penciutan waktu dalam peristiwa Mikraj merupakan kemungkinan fisika dalam kerangka waktu nonlinier dan perluasan dimensi kesadaran manusia.
Pandangan para ilmuwan tersebut memperkuat pemahaman bahwa kehangatan tempat tidur Nabi Muhammad menjadi indikator perbedaan durasi waktu yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Dalam fisika teoretis, perjalanan ekstrem semacam ini dibahas melalui konsep jembatan Einstein Rosen atau lubang cacing. Struktur ruang-waktu tersebut memungkinkan perpindahan antar-titik kosmik melalui jalur pintas tanpa menempuh jarak fisik yang sebenarnya.
Jika Buraq dipahami sebagai sarana yang bekerja melalui mekanisme tersebut, kondisi fisik Nabi Muhammad Saw ketika kembali tetap terjaga. Kehangatan tempat tidur menjadi penanda bahwa kepulangan beliau bersifat jasmani, bukan sekadar pengalaman spiritual.
Suhu tubuh manusia berada pada kisaran 36,5 hingga 37,5 derajat Celsius. Agar panas ini masih tertinggal di kain, kepulangan Nabi Muhammad harus terjadi sebelum proses pendinginan alami berlangsung penuh. Fakta ini menunjukkan bahwa perjalanan lintas langit tersebut terkompresi secara drastis dalam dimensi waktu bumi.