Pesantren Setia di Jalan Maqashid Syariah

“Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua yang jasanya sangat besar bagi Indonesia. Tugas kita adalah menjaganya,” ujar Gus Rifqil.
Ilustrasi seorang santri sedang mencium tangan kiainya. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Kepercayaan publik terhadap pondok pesantren kini berada pada fase paling menentukan. Dalam beberapa waktu terakhir, sorotan datang dari berbagai arah, termasuk dari kelompok masyarakat yang tidak mengenal kultur pesantren.

Perubahan lanskap informasi di era digital membuat setiap pengalaman, kritik, dan persepsi bergerak cepat. Situasi ini mendorong pesantren menata ulang cara memandang dan memposisikan dirinya di hadapan publik.

Di tengah dinamika tersebut, pendakwah sekaligus tokoh muda pesantren, KH Rifqil Muslim Suyuthi, atau yang karib disapa Gus Rifqil, menegaskan bahwa pesantren tidak dapat terus bergantung pada kejayaan masa lalu. Lembaga ini, menurutnya, harus tampil sebagai institusi yang semakin memancarkan kualitas pendidikan, keteladanan moral, serta kemampuan menjaga martabat manusia sebagaimana dikehendaki syariat.

Pada saat yang sama, Gus Rifqil juga mengajak publik menilai pesantren secara proporsional, tanpa pengagungan berlebihan maupun prasangka yang menghakimi.

“Menurut saya, ini momen yang tepat bagi pesantren untuk berbenah. Yang sudah baik dikuatkan, yang belum baik diperbaiki,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikmah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah tersebut, dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar, bertema Menilai Pesantren dengan Adil ala Gus Rifqil, di Ikhbar TV, dikutip pada Selasa, 13 Januari 2026.

Baca: Menjaga Kepak Sayap Keseimbangan Pesantren

Menjaga marwah dan syariah

Menurut Tokoh Muda NU Berpengaruh Ikhbar.com (2023) itu, banyak kritik terhadap pesantren sesungguhnya lahir dari kepedulian. Kritik yang diterima dengan sikap rendah hati dapat menjadi bahan muhasabah agar pesantren tetap berdiri tegak sebagai lembaga pendidikan yang berlandaskan maqāṣid al-syarī‘ah, yakni tujuan besar syariat yang mengarah pada kemaslahatan manusia.

Gus Rifqil menekankan bahwa pesantren harus memastikan seluruh sistem pendidikannya selaras dengan misi hifz al-din (penjagaan agama), hifz al-‘aql (akal), hifz al-nafs (jiwa), hifz al-nasl (martabat manusia), hingga hifz al-maal (Kekayaan, termasuk intelektual). Lima pilar tersebut, menurutnya, tidak berhenti sebagai konsep teoretis, melainkan harus hadir nyata dalam pola pendidikan, relasi sosial, dan sistem pengasuhan santri.

Untuk menegaskan pentingnya menjaga kualitas ilmu dan moralitas, Gus Rifqil mengutip firman Allah dalam QS. Al-Mujādalah ayat 11:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

“Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ayat tersebut, kata Gus Rifqil, menjadi pengingat bahwa pesantren berkewajiban menjaga marwah ilmu sekaligus memastikan keselamatan fisik, mental, dan spiritual para pencari ilmu.

“Ruh keilmuan yang diwariskan para ulama selama berabad-abad jangan sampai hilang,” ucapnya.

Gus Rifqil Muslim (Kanan) saat menjadi narasumber dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar, bertema Menilai Pesantren dengan Adil ala Gus Rifqil, di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Baca: Dari Menunduk hingga Mencium Anggota Tubuh, Ini 5 Akhlak Para Sahabat kepada Nabi

Adab dan feodalisme sebagai problem perspektif

Salah satu isu yang kerap muncul di ruang publik adalah anggapan bahwa pesantren memelihara feodalisme. Tradisi mencium tangan kiai atau berjalan menunduk saat berpapasan sering dipahami sebagai relasi kuasa yang timpang.

Gus Rifqil menilai polemik tersebut lahir dari perbedaan sudut pandang.

“Sama seperti ketika saya menulis angka enam. Orang yang berdiri di arah berlawanan bisa membacanya sebagai angka sembilan,” ujarnya, memberikan analogi.

Ia mencontohkan sebuah video viral tentang santri yang mencium tangan kiai sambil merunduk. Banyak komentar kritis bermunculan, tetapi ada satu pertanyaan penting yang jarang diajukan, yakni apakah tindakan tersebut dilakukan karena paksaan atau kemauan pribadi.

“Coba ditanya ke santrinya, itu perintah kiai atau kemauan sendiri. Rata-rata menjawab kemauan sendiri,” tegasnya.

Dalam tradisi Islam, penghormatan kepada guru memiliki dasar yang jelas. Gus Rifqil mengutip salah satu hadis Rasulullah Muhammad Saw, yang dikenal luas di kalangan ulama:

مَنْ صَافَحَنِي أَوْ صَافَحَ مَنْ صَافَحَنِي إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang berjabat tangan denganku atau berjabat tangan dengan orang yang pernah berjabat tangan denganku hingga hari kiamat, maka masuk surga.”

Hadis tersebut, menurut Gus Rifqil, menegaskan bahwa penghormatan kepada ahli ilmu merupakan tradisi mulia, bukan bentuk pengkultusan individu. Banyak kiai, lanjutnya, justru merasa tidak pantas menerima penghormatan berlebihan dari santri.

Untuk menunjukkan bahwa bentuk adab dapat berubah sesuai konteks, Gus Rifqil menyinggung penjelasan ulama tentang adab makan Rasulullah Saw yang dilakukan dengan mengangkat dan menekuk satu kaki.

“Tujuannya untuk menutup setan agar tidak ikut campur saat makan,” jelasnya.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa banyak aturan lahir dari alasan syar‘i yang rasional dan dapat dipahami dalam kerangka maqashid syariah.

“Nah, ketika seseorang makan bersama calon mertua, apakah tetap akan mempraktikkan posisi itu. Tentu tidak. Sikap yang dipilih adalah menunduk dan bersikap sopan. Prinsip itulah yang diterapkan santri saat mencium tangan kiai,” katanya.

Baca: Benarkah Bullying Justru Pererat Keakraban?

Jangan normalisasi perilaku salah

Di sisi lain, Gus Rifqil menyoroti adanya perilaku keliru yang terus dinormalisasi atas nama tradisi. Ia menyinggung praktik bullying (perundungan) hingga bentuk takzir (hukuman) fisik berlebihan yang kerap diterima sebagai hal lumrah karena dianggap warisan senioritas.

“Ini sering dinormalisasi. Dibilang biasa saja. Padahal itu keliru,” ujarnya.

Ia lalu menceritakan pengalamannya ketika menjadi santri senior. Saat itu, Gus Rifqil berusaha memutus pola perlakuan keras terhadap santri baru.

“Saya sampaikan ke anak kamar, tidak ada lagi aturan santri baru harus begini atau begitu,” katanya.

Menurutnya, pembenahan sistem disiplin harus dirumuskan secara kolektif dengan melibatkan pengasuh, pengurus, wali santri, tenaga kesehatan, dan unsur keamanan. Ia mengusulkan bentuk takzir alternatif, seperti membaca Al-Qur’an atau denda administratif, guna menanamkan kedisiplinan tanpa melukai fisik maupun psikologis.

Untuk menegaskan pentingnya adaptasi pendidikan, Gus Rifqil mengutip ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

عَلِّمُوا أَوْلَادَكُمْ فَإِنَّهُمْ مَخْلُوقُونَ لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ

“Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.”

Atsar tersebut, menurut Gus Rifqil, menegaskan bahwa sebagian aspek pendidikan pesantren perlu menyesuaikan perkembangan zaman tanpa menghilangkan identitas keilmuan yang diwariskan para ulama.

Gus Rifqil juga menyinggung persoalan status sosial di pesantren, terutama gelar Gus atau Ning (pada putra-putri kiai) yang sering disalahpahami sebagai simbol kemuliaan otomatis.

“Kita tidak bisa memilih lahir di mana atau siapa orang tua kita. Tetapi ketika memiliki keistimewaan itu, tanggung jawabnya juga besar,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa integritas seseorang ditentukan oleh usaha pribadi, bukan oleh nasab. Para pewaris tanggung jawab tersebut, menurutnya, perlu merenungi dan mengamalkan pesan Sayyidina Ali berikut:

لَيْسَ الْفَتَىٰ مَنْ يَقُولُ كَانَ أَبِي وَلَكِنَّ الْفَتَىٰ مَنْ يَقُولُ هَا أَنَا ذَا

“Pemuda bukanlah yang berkata, ‘Ini bapakku,’ melainkan yang berkata, ‘Inilah aku.’”

Baca: Bukan Gagap Teknologi, Ini Nilai Jual Pesantren yang Penting Diadaptasi

Masa depan dan ikhtiar pembaruan

Menatap masa depan, Gus Rifqil meyakini pesantren perlu menjaga keseimbangan antara tradisi dan pembaruan. Tradisi ilmiah seperti kajian kitab kuning, adab santri kepada guru, dan sanad keilmuan harus tetap dijaga. Pada saat yang sama, pesantren perlu membuka diri terhadap perkembangan sains, teknologi, dan kebutuhan profesional masa kini.

Ia mengutip doa sapu jagat sebagai penegasan bahwa Islam tidak mengajarkan pemisahan antara urusan dunia dan akhirat:

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Baca: Ketum IPPNU Bagikan Khasiat Doa Sapu Jagat

Doa tersebut kerap ia jadikan landasan bahwa orientasi duniawi dan ukhrawi perlu berjalan seiring.

“Selama berada di koridor yang benar, itu boleh. Bahkan untuk beribadah pun kita membutuhkan aspek duniawi,” ujar Gus Rifqil.

Dengan sikap berani berbenah dan tetap setia pada maqashid syariah, yakni menjaga ilmu, menegakkan adab, memuliakan martabat manusia, serta melindungi jiwa, pesantren diyakini akan tetap menjadi pilar penting dalam pembentukan peradaban Islam yang beradab, adaptif, dan berkelanjutan.

“Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua yang jasanya sangat besar bagi Indonesia. Tugas kita adalah menjaganya,” pungkasnya.

Obrolan selengkapnya bisa disimak di:

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.