Riset Kemenag: Toleransi Gen Z Lampaui Milenial dan Baby Boomers

Ilustrasi toleransi Gen Z. Foto: Dok. SHI

Ikhbar.com: Riset terbaru Kementerian Agama (Kemenag) menunjukkan bahwa Generasi Z (Gen Z) memiliki tingkat toleransi beragama paling menonjol dibandingkan generasi sebelumnya. Temuan ini memperkuat posisi Gen Z sebagai kelompok kunci dalam menjaga harmoni sosial dan kehidupan beragama di Indonesia pada masa mendatang.

Kesimpulan tersebut tertuang dalam Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 yang disusun Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag bekerja sama dengan Alvara Strategic Research. Survei nasional ini memotret dinamika kehidupan beragama umat Islam dan menunjukkan tren positif, khususnya di kalangan generasi muda.

Hasil riset mencatat tingkat toleransi beragama Gen Z berada di atas generasi Milenial dan Baby Boomers. Selain itu, Gen Z juga menempati posisi teratas dalam kemampuan membaca Al-Qur’an dibandingkan kelompok usia lainnya. Capaian tersebut dinilai menjadi modal optimisme bagi keberlanjutan kehidupan beragama yang rukun dan inklusif.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Ustaz Arsad Hidayat, menyebut hasil survei ini sebagai perkembangan yang menggembirakan sekaligus strategis bagi arah kebijakan pemerintah.

Baca: Survei Kemenag: Pemahaman Dasar Agama Guru PAI SD hanya 62,34%

“Hasilnya cukup menggembirakan dan memberikan optimisme. Laporan ini idealnya menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan untuk merumuskan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tanah air,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 31 Desember 2025.

Menurut Ustaz Arsad, temuan survei sejalan dengan visi Asta Cita Pemerintah, terutama dalam penguatan sumber daya manusia dan perawatan kerukunan sosial.

“Fokus utamanya adalah membangun sumber daya manusia yang unggul sekaligus memperkokoh kerukunan dan cinta kemanusiaan sebagai fondasi stabilitas nasional,” katanya.

Ia menekankan pentingnya menjaga capaian positif generasi muda agar tidak bersifat sementara. “Penguatan aspek yang sudah baik, seperti toleransi dan literasi kitab suci pada generasi muda, harus terus dikawal agar menjadi karakter permanen bangsa,” tegasnya.

Sementata itu, Peneliti Alvara Strategic Research, Lilik Purwandi, menilai Gen Z memiliki posisi strategis sebagai penggerak menuju Indonesia Emas 2045. Survei ini, menurutnya, mencatat sejumlah indikator yang memperkuat optimisme tersebut.

Pada aspek literasi Al-Qur’an, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil di kalangan Gen Z mencatat indeks 56,29% , tertinggi dibandingkan Milenial (54,06%), Generasi X (53,97%), dan Baby Boomers (50,95%). Capaian ini menunjukkan fondasi pemahaman keagamaan yang relatif kuat di kelompok usia muda.

Dalam hal toleransi, Gen Z juga meraih skor tertinggi pada indikator sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan kelompok lain dengan indeks 80,03. Angka ini melampaui Milenial (78,77%), Generasi X (78,97%), dan Baby Boomers (78,81%). Secara keseluruhan, indeks pengamalan toleransi Gen Z berada di angka 79,65%, lebih tinggi dibandingkan Milenial dan Baby Boomers, serta hanya terpaut tipis dari Generasi X.

Indikator toleransi yang diukur mencakup penerimaan terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, sikap tidak mencela, tidak melakukan persekusi, serta tidak menyebarkan ujaran kebencian.

“Data ini menunjukkan Gen Z memiliki kedewasaan sikap yang luar biasa dalam menghargai perbedaan. Mereka adalah generasi yang paling menolak praktik persekusi atau pembubaran kegiatan keagamaan pihak lain,” ujar Lilik.

Survei ini juga menyoroti potensi positif kehidupan beragama di wilayah perkotaan yang didominasi populasi muda. Meski indeks dimensi ibadah masyarakat urban tercatat 78,38%—sedikit di bawah perdesaan yang mencapai 79,37%—pemahaman keagamaan dan sikap toleran dinilai menjadi modal penting bagi penguatan spiritual dan kohesi sosial ke depan.

“Gen Z dan Milenial adalah pilar masa depan. Walaupun terdapat tantangan dalam pengamalan ibadah harian, modal intelektual melalui pemahaman Al-Qur’an dan sikap toleransi yang matang merupakan aset besar bagi kohesi sosial,” kata Lilik.

Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 menggunakan pendekatan kuantitatif dengan cakupan nasional, melibatkan 1.208 responden Muslim di 34 provinsi. Pengambilan sampel dilakukan melalui metode multistage random sampling dengan wawancara tatap muka langsung. Margin of error tercatat sebesar 2,89 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Secara nasional, indeks kualitas kehidupan beragama umat Islam tahun ini berada pada angka 78,80% dan masuk kategori tinggi. Dimensi akhlak menjadi aspek dengan skor tertinggi, yakni 81,88%.

Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan program pembinaan keagamaan yang lebih relevan dengan karakter Gen Z dan Milenial, sehingga penguatan toleransi dan literasi keagamaan dapat berjalan seiring dengan peningkatan pengamalan ibadah secara berkelanjutan.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.