Buya Said Ajak Umat Syukuri Stabilitas Indonesia, Tekankan Dakwah Bil Hikmah

Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), KH Said Aqil Siroj saat memberikan pembekalan kepada peserta Munas X LDII yang digelar di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, Rabu, 8 April 2026. Foto: Dok. LDII

Ikhbar.com: Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), KH Said Aqil Siroj mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga rasa syukur atas kondisi bangsa yang tetap stabil di tengah situasi global yang tidak menentu, sekaligus memperkuat dakwah bil hikmah atau pendekatan bijak.

Pesan tersebut disampaikan Buya Said saat memberikan pembekalan kepada peserta Munas X LDII yang digelar di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.

“Alhamdulillah Indonesia dalam keadaan stabil, rukun, dan kompak. Adapun ada perbedaan itu wajar dan pasti ada, namun perbedaan antarormas bukan pada prinsip,” ujarnya dikutip dari laman LDII pada Jumat, 10 April 2026.

Dalam paparannya, Buya Said menjelaskan bahwa perbedaan yang muncul di tengah masyarakat merupakan hal yang tidak terhindarkan. Namun, selama tidak menyentuh aspek prinsipil, perbedaan tersebut tetap berada dalam koridor persatuan.

Ia juga mengingatkan pentingnya dakwah yang mengedepankan kebijaksanaan. Dakwah, menurutnya, perlu disampaikan dengan tutur kata yang baik serta dialog yang membangun.

Baca: Analogi Masuk Akal Ikhtiar dan Tawakal ala Buya Said Aqil

“Alhamdulillah umat Islam di Indonesia sudah menjalankan itu,” ujar Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Lebih lanjut, Buya Said menguraikan bahwa manusia memiliki kedudukan istimewa karena diberi amanat oleh Allah Swt. Amanat tersebut mencakup tanggung jawab langsung kepada Tuhan serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

“Amanat langsung dari Allah sebagaimana Allah memberikan manusia akal, sehingga lahir gagasan. Dalam menjalankan amanat dan gagasan, niatnya supaya baik sehingga amanat tersebut dapat berhasil,” ujarnya.

Ia turut mengajak umat Islam meneladani sifat Nabi Muhammad Saw yang sarat dengan hikmah. Sikap tersebut tercermin dalam kedisiplinan dan kepatuhan terhadap kepemimpinan yang kuat dan berani.

“Agama harus dipimpin oleh orang-orang yang kuat dan berani. Dengan demikian kita akan menang, mudah-mudahan LDII juga menang dan besar,” ujarnya.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta itu, kualitas umat juga ditentukan oleh sidiq alias kejujuran, serta kemampuan membedakan antara hal yang benar dan yang keliru.

Selain itu, ia mendorong organisasi keislaman, termasuk LDII, untuk memperkuat dakwah berbasis tsaqafah sebagai bekal generasi muda menghadapi perkembangan geopolitik global.

Penguatan tsaqafah dinilai penting dalam membangun kapasitas umat, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun cara pandang yang matang terhadap dinamika zaman.

“Tsaqafah itu membentuk generasi yang berilmu, punya kecakapan, sekaligus memiliki cara pandang yang baik dalam menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Buya Said juga menyinggung situasi di Timur Tengah yang kerap dilanda konflik. Kondisi itu menjadi pengingat bagi Indonesia untuk terus menjaga stabilitas nasional dan memperkuat persatuan.

“Alhamdulillah Indonesia relatif stabil. Tidak seperti di Timur Tengah yang mudah terjadi konflik. Di sini, perbedaan antarormas tidak sampai pada perbedaan prinsip,” katanya.

Ia memandang bahwa keberagaman di Indonesia tetap dapat berjalan harmonis selama seluruh elemen bangsa menjaga komitmen persatuan dalam kehidupan bernegara.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.