Ikhbar.com: Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina sekaligus Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, KH Marzuki Wahid, menegaskan bahwa puasa Ramadan harus menjadi ruang refleksi dan introspeksi diri. Semangat ibadah yang tumbuh selama Ramadan, menurutnya, perlu dijaga secara konsisten setelah bulan suci berakhir.
Kiai Marzuki menilai terdapat paradoks dalam praktik keberagamaan umat Islam. Selama Ramadan, umat diperintahkan menahan haus dan lapar serta mengendalikan hawa nafsu. Namun, dalam praktiknya, perilaku konsumtif justru kerap meningkat.
“Ini paradoks, Ramadan yang kita muliakan, banyak dalil dan referensi bahwa puasa adalah bulan pengendalian nafsu, tapi apakah benar selama puasa kita bisa mengendalikan diri?” ujarnya dalam Launching Buku ‘Peta Jalan Ramadan‘ dan Munggahan Puasa 1447 H di Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, Sabtu, 14 Februari 2026.
Baca: Ikhbar.com Rilis Buku Panduan Ramadan Berbasis Keluarga dan Sosial
Belum lagi, lanjut Kiai Marzuki, aktivitas spiritual seperti tadarus Al-Qur’an, salat tarawih, dan berbagi kepada sesama tampak semarak sepanjang Ramadan. Namun, semangat itu sering meredup saat memasuki bulan-bulan berikutnya, seperti Syawal dan Dzulqa’dah.
“Kenapa hanya berlaku pada saat Ramadan, tapi setelahnya justru kembali ke kebiasaan lama,” katanya.
Secara filosofis, Ramadan dikenal sebagai bulan muhasabah, yakni momentum untuk menata ulang kesadaran dan mengendalikan perilaku yang tidak produktif secara spiritual, jelas Kiai Marzuki.
“Puasa sejati itu sebenarnya bukan hanya menahan makan dan minum saja, tapi tubuh dan batin kita juga harus puasa,” jelasnya.
Menurut Kiai Marzuki, konsep puasa telah dijabarkan Imam Al-Ghazali dalam tiga tingkatan, yakni puasa orang awam atau puasa ‘aam, puasa khusus atau puasa khas, dan puasa khususnya khusus atau puasa khawasil khawas.
“Tingkatan kedua dan ketiga itu merupakan puasa yang dijalankan dengan kesadaran penuh karena Allah Swt semata,” ungkapnya.
Kiai Marzuki juga menekankan bahwa ibadah memiliki dimensi hablumminallah dan hablumminannaas. Puasa perlu melahirkan kepedulian sosial dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Rumusan Tuhan itu idealitas kemanusiaan, ibadah yang setiap kita lakukan mesti ada unsur hablmumminallah dan hablumminannaas,” tegasnya.
Baca: 5 Rekomendasi Buku Inspiratif dan Mencerahkan: Cocok Dibaca selama Ramadan!
Selain memaknai puasa, Kiai Marzuki menyoroti pentingnya budaya literasi di lingkungan pesantren. Banyak ulama memiliki kapasitas keilmuan tinggi, tetapi produktivitas menulis belum optimal.
“Buku (Peta Jalan Ramadan) ini menurut saya keren, sangat bermanfaat bagi kalangan luas, dan buku ini menjadi introspeksi bagi kalangan pesantren,” ujarnya.
Kiai Marzuki mendorong santri dan pelajar mulai menulis dari hal sederhana di sekitar mereka. Tradisi menulis, menurutnya, menjadi kunci peradaban dan penyebaran ilmu.
“Kita mengenal Imam Syafii dari mana, mengenal Nabi Muhammad dari mana? Tidak lain dari tulisan,” katanya.
Melalui refleksi tersebut, Kiai Marzuki berharap Ramadan tidak berhenti sebagai ritual tahunan.
“Ramadan harus jadi momentum pembentukan karakter, peningkatan kualitas spiritual, serta penguatan budaya literasi di lingkungan pesantren dan masyarakat luas.”