Kiai Zuhri Adnan: 10 Oleh-oleh Ramadan yang Wajib Dipertahankan Pasca-Lebaran

“Mudah-mudahan sepulang dari sini, seluruh jemaah Salat Id benar-benar mampu membawa predikat kemenangan,” harap Kiai Zuhri.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Idulfitri bukanlah garis akhir dari rangkaian ibadah Ramadan. Momen ini menjadi titik evaluasi atas latihan spiritual selama sebulan penuh. Apa yang dibawa pulang dari Ramadan akan menentukan kualitas kemenangan seseorang.

Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, dalam khutbah Idulfitri di Masjid Baitul Muttaqien, Kompleks Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, Sabtu, 21 Maret 2026.

Kiai Zuhri, sapaan masyhurnya, menegaskan bahwa kemenangan tidak cukup diukur dari selesainya puasa. Ukurannya terletak pada sejauh mana nilai-nilai Ramadan tetap hidup setelahnya.

“Mudah-mudahan sepulang dari sini, seluruh jemaah Salat Id benar-benar mampu membawa predikat kemenangan. Takwa, ikhlas, rida, sabar, dan pelajaran baik lain dari Ramadan ialah esensi dari kemenangan itu sendiri,” ujar Kiai Zuhri.

Baca: Lebaran Adalah Hari Ketidaktahuan Manusia

Takwa sebagai tujuan

Kiai Zuhri membuka penjelasannya dengan menempatkan takwa sebagai hasil pertama dan utama yang semestinya diraih setelah Ramadan. Seluruh ibadah selama bulan puasa, seperti puasa, tarawih, dan sedekah, merupakan proses membangun kesadaran bahwa Allah Swt selalu mengawasi manusia.

Puasa, kata Kiai Zuhri, melatih ketaatan meski tidak ada yang melihat. Menahan makan, minum, dan hawa nafsu menjadi sarana membangun pengendalian diri berbasis iman.

Hal ini sebagaimana firman Allah Swt:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Menurut Dewan Pakar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Kabupaten Cirebon itu, jika setelah Ramadan seseorang kembali ke kebiasaan lama, maka hasil latihan selama sebulan patut dipertanyakan.

“Karena puasa, kita menahan makan, minum, amarah, ego, hawa nafsu, dan keburukan lainnya. Tujuannya semata-mata untuk meraih predikat takwa,” tuturnya.

Baca: Ramadan Syahrul Shabr, Kiai Zuhri Adnan Ungkap 4 Jenis Kesabaran

Ikhlas dan sabar sebagai fondasi amal

Kedua, Ramadan melatih keikhlasan. Ibadah seperti puasa tidak selalu terlihat orang lain, sehingga menjadi ruang paling jujur antara hamba dan Tuhan. Dari situ, orientasi amal diarahkan agar bersih dari pamrih.

Kiai Zuhri mengutip hadis qudsi yang menegaskan bahwa Allah Swt berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ

“Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari)

Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tersebut mengingatkan bahwa amal sebesar apa pun dapat kehilangan nilai jika tidak dilandasi keikhlasan. Karena itu, latihan selama Ramadan perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketiga, puasa menjadi sarana untuk melatih kesabaran. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menghadapi berbagai persoalan hidup, baik dalam keluarga, lingkungan, maupun ekonomi,” kata Kiai Zuhri.

Menurutnya, Allah Swt menjanjikan balasan besar bagi orang yang mampu menjaga kesabaran. Hal tersebut sebagaimana dalam QS. Az-Zumar: 10, Allah Swt berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.”

Kiai Zuhri merinci bentuk kesabaran yang perlu dijaga.

“Mulai dari sabar menghadapi istri, tetangga, cobaan, utang, hingga berbagai ujian lainnya,” ujarnya.

Baca: Kiai Ahmad Ungkap Tiga Tingkatan Ikhlas dalam Ibadah

Konsistensi ibadah dan menjaga diri dari dosa

Kiai Zuhri menegaskan bahwa keberhasilan Ramadan diuji setelah bulan itu berlalu. Ramadan menjadi masa latihan, sedangkan kehidupan setelahnya menjadi pembuktian.

Kebiasaan baik selama Ramadan, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah, perlu dipertahankan. Jika ditinggalkan, nilai latihan tersebut akan memudar.

Keempat, istikamah. Kelima, menjaga diri dari dosa, itu juga buah dari bulan puasa yang mesti dijaga,” katanya.

Silaturahmi dan kebersamaan

Keenam, Ramadan melatih kedekatan dengan Al-Qur’an melalui rutinitas tadarus. Di samping itu, aktivitas seperti tadarus dan Salat Tarawih berjemaah juga dinilai mampu membangun kebersamaan.

“Kebersamaan ini menjadi nilai ketujuh yang tidak boleh berhenti setelah Ramadan,” kata Kiai Zuhri.

Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, saat memberikan sambutan dalam acara Launching Buku ‘Peta Jalan Ramadan’ dan Munggahan Puasa 1447 H pada Sabtu, 14 Februari 2026. IKHBAR/Doh

Kedelapan, silaturahmi menjadi bagian penting dari oleh-oleh Ramadan. Interaksi selama bulan puasa memperkuat hubungan sosial sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Baca: Naikkan Level Halalbihalal Jadi Silaturahmi Ide

Sedekah dan mengingat kematian

Menurut Kiai Zuhri, Ramadan juga mengajarkan kepedulian sosial melalui zakat dan sedekah.

Kesembilan, semangat berbagi tidak boleh berhenti setelah Ramadan usai,” katanya.

Ia mengutip keutamaan sedekah, terutama kepada kerabat. Rasulullah Muhammad Saw bersabda:

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ صَدَقَتَانِ

“Berbagi kepada orang miskin bernilai sedekah, dan kepada kerabat bernilai dua, yakni sedekah dan memperkuat silaturahmi.” (HR. Tirmidzi)

Menurutnya, sedekah setelah Ramadan menjadi indikator apakah hati benar-benar terlatih.

Kesepuluh, Kiai Zuhri mengingatkan pentingnya menjaga kesadaran akan akhirat melalui ziarah kubur. Mengingat kematian mampu meredam kesombongan dan mengendalikan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Nabi Saw bersabda:

قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ، فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

“Sungguh dahulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur. Kemudian telah diizinkan bagi Muhammad untuk menziarahi kubur ibunya, maka berziarahlah kalian, karena itu dapat mengingatkan kepada akhirat.” (HR. Tirmidzi)

“Ramadan adalah bulan pelatihan, sementara Idulfitri adalah momen evaluasi. Sepuluh oleh-oleh mulai dari takwa hingga kesadaran akhirat menjadi penentu apakah seseorang benar-benar meraih kemenangan atau sekadar menjalankan ritual tahunan,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.